Emisi SBN Ritel Jangan Sampai Picu Crowding Out Effect

Ekonom berharap pemerintah dapat mempercepat penyerapan anggaran sejak semester pertama tahun ini untuk membantu mendorong pergerakan ekonomi sektor riil dan meredam efek tingginya penggalangan dana masyarakat melalui emisi surat berharga negara (SBN) ritel.
Emanuel B. Caesario
Emanuel B. Caesario - Bisnis.com 11 Januari 2019  |  14:21 WIB
Emisi SBN Ritel Jangan Sampai Picu Crowding Out Effect
SURAT UTANG NEGARA

Bisnis.com, JAKARTA — Ekonom berharap pemerintah dapat mempercepat penyerapan anggaran sejak semester pertama tahun ini untuk membantu mendorong pergerakan ekonomi sektor riil dan meredam efek tingginya penggalangan dana masyarakat melalui emisi surat berharga negara (SBN) ritel.

Tahun ini, pemerintah berencana menerbitkan SBN ritel sebanyak 10 seri, terdiri atas masing-masing 4 seri saving bond retail (SBR) dan sukuk tabungan, serta masing-masing 1 seri obligasi ritel Indonesia (ORI) dan sukuk ritel (SR/sukri).

Target dana yang diperoleh dari emisi seluruh instrumen tersebut diharapkan menembus Rp80 triliun. Nilai ini meningkat drastis dibandingkan realisasi sepanjang 2018 lalu dari 5 instruman SBN ritel total Rp46,01 triliun.

Ahmad Mikail, Ekonom Samuel Sekuritas, mengatakan bahwa target Rp80 triliun tidak akan sulit tercapai tahun ini, apalagi bila kupon yang diberikan pemerintah tinggi.

Namun, catatannya adalah jangan sampai terjadi crowding out effect, atau peralihan dana yang berlebihan dari sektor swasta dan deposito ke pemerintah.

Dirinya berharap rencana pemerintah ini diikuti oleh strategi yang tepat untuk memastikan penyerapan anggaran berjalan lancar sejak semester pertama, sehingga dana pemerintah cepat mengalir ke masayarakat dan sistem perbankan untuk menggerakan roda ekonomi.

“Harus dipercepat, baik itu belanja modal, maupun barang dan pegawai. Bagaimana cara pemerinta untuk itu akan menjadi solusinya untuk mereduksi  crowding out effect,” katanya melalui sambungan telepon, Jumat (11/1/2019).

Ahmad memperkirakan pertumbuhan deposito tahun ini akan semakin rendah dari posisi kini yang sekitar 5%-6%, sedangkan kredit kemungkinan tumbuh sektiar 10%-11%. Dampak dari kenaikan suku bunga tahun lalu akan mulai terasa pada semester kedua tahun ini.

Ditambah tekanan pasokan SBN ritel, bank BUKU II dan III harus menaikkan bunga depositonya lebih tinggi lagi. Likuiditas bank kemungkinan akan mengetat, sehingga sektor riil akan sangat bergantung pada percepatan penyerapan anggaran pemerintah.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Obligasi, surat utang negara

Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top