Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Tahun Depan, Tower Bersama (TBIG) Pasang Target Tenancy Konservatif

Emiten penyedia jasa infrastruktur telekomunikasi PT Tower Bersama Infrastructure Tbk. mematok target konservatif untuk angka penyewaan menara yaitu sebanyak 2.500 tenancies.
PT Tower Bersama Infrastructure Tbk/Istimewa
PT Tower Bersama Infrastructure Tbk/Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Emiten penyedia jasa infrastruktur telekomunikasi PT Tower Bersama Infrastructure Tbk. mematok target konservatif untuk angka penyewaan menara yaitu sebanyak 2.500 tenancies.

Berdasarkan catatan perseroan, emiten dengan sandi TBIG tersebut telah membukukan 2.350 penyewaan hingga September 2018 dan diyakini akan terus bertambah hingga penutupan tahun. Artinya, target penambahan penyewaan pada tahun depan tidak begitu agresif.

Chief Financial Officer Tower Bersama Infrastructure Helmy Yusman Santoso mengatakan perseroan masih akan fokus pada pertumbuhan organik pada 2019, tetapi tidak menutup peluang untuk mengakuisisi perusahaan lain untuk meningkatkan portofolio.

“Secara volume memang itu target konservatif kami di tahun depan, tetapi jika dibandingkan dengan kompetitor sejenis, pertumbuhantenancies kami sudah merupakan yang paling tinggi. Kita masih harus lihat realisasinya [apakah bisa lebih tinggi dari 2.500 tenancies],” ungkap Helmy di Jakarta, Senin (17/12).

Helmy menyampaikan sejauh ini perseroan masih memerincikan kebutuhan pembangunan infrastruktur untuk menangkap target 2.500 penyewaan tersebut. Jika penyewaan masih menggunakan tower-tower lama atau melalui kolokasi, perseroan memprediksi hanya akan menggelontorkan belanja modal di kisaran Rp1 triliun.

Jika penambahan tenancies tersebut membutuhkan menara baru,  emiten menara Grup Saratoga tersebut memprediksi belanja modal  mencapai Rp2 triliun atau level yang sama dengan tahun ini. Capex tersebut akan berasal dari beberapa sumber yaitu dana internal, pinjaman, dan obligasi.

Selain itu, perseroan juga menjajaki peluang pertumbuhan organik. Namun, Helmy mengaku upaya untuk mengakuisisi pun tidak mudah, mengingat terbatasnya ketersediaan menara di pasar. Adapun, capex pada kisaran Rp1 triliun—Rp2 triliun tersebut di luar alokasi perseroan untuk akuisisi menara.

“Pertumbuhan anorganik akan selalu kami jajaki tapi belum ada targetnya. Kalau ada operator telekomunikasi yang mau menjual towernya, kami juga berminat. Sebagai pembeli, kami akan lihat valuasinya berapa,” ujar Helmy.
 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Dara Aziliya
Editor : Riendy Astria
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper