Rupiah Tembus Rp14.550, BI Intensifkan Transaksi DNDF

Bank Indonesia (BI) kian gencar mendorong transaksi Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di tengah sentimen risk off dan aksi flight to quality yang sempat melemahkan rupiah ke level Rp14.550 per dolar.
Hadijah Alaydrus
Hadijah Alaydrus - Bisnis.com 08 Desember 2018  |  10:56 WIB
Rupiah Tembus Rp14.550, BI Intensifkan Transaksi DNDF
Karyawan memperlihatkan mata uang rupiah di salah satu bank di Jakarta. - JIIBI/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA--Bank Indonesia (BI) kian gencar mendorong transaksi Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di tengah sentimen risk off dan aksi flight to quality yang sempat melemahkan rupiah ke level Rp14.550 per dolar.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia (BI) Nanang Hendarsah mengungkapkan intervensi dalam bentuk transaksi DNDF sepanjang sesi perdagangan, Jumat (7/12), berhasil memperkuat nilai tukar rupiah ke level Rp 14.465 atau menguat Rp50 atau 0.32% dibandingkan penutupan hari sebelumnya di Rp14.515 per dolar.

"Sejak pembukaan pasar hingga penutupan, Bank Indonesia melakukan intervensi transaksi DNDF dan berhasil menurunkan kurs DNDF yang kemudian diikuti oleh menurunnya kurs NDF di pasar luar negeri dan kurs spot di dalam negeri," ujar Nanang, Jumat (7/12).

Risk off di pasar keuangan global terutama dipicu kekhawatiran pasar terhadap kembali meningkatnya tensi sengketa dagang menyusul ditangkapnya CFO Huawei Techologies, Wanzhou Meng di Canada yang akan diekstradisi ke AS. Kondisi ini memicu melonjaknya kurs NDF-IDR di pasar New York hingga tembus hingga Rp14.680.

Kekhawatiran pasar tersebut telah mendorong pelemahan indeks saham global, sementara yield US Treasury berlanjut turun hingga ke 2.83%, level terendah sejak September 2018 karena meningkatnya ekspektasi pasar terhadap perlambatan ekonomi AS menyusul rilis data ekonomi AS yang memelemah.

Di sisi lain, Nanang melihat kurva imbal hasil (yield curve) di pasar obligasi AS cenderung berbalik (inverted), bahkan spread yield obligasi tenor 2 dan 5 tahun sudah negatif.

Beberapa data ekonomi AS yang dirilis mengindikasikan ekonomi AS tidak sesolid sekitar tiga bulan sebelumnya. Penyerapan tenaga kerja dibawah ekspektasi, defisit perdagangan melebar ke kisaran terbesar dalam 10 tahun terakhir, pesanan pabrikan melambat. Kondisi ini ditambah dengan adanya probabilitas kenaikan suku bunga Fed Fund Rate (FFR) di Desember 2018 menurun dari 80% menjadi 69%.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bank indonesia

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top