Harga Minyak Tergelincir, Ini Penekannya

Harga minyak mentah tergelincir saat keraguan tentang minat Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dalam hal pembatasan produksi memperburuk tanda-tanda membengkaknya surplus minyak di Amerika Serikat (AS).
Renat Sofie Andriani | 05 Desember 2018 07:35 WIB
West Texas Intermediate - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak mentah tergelincir karena keraguan minat Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) memperburuk tanda-tanda membengkaknya surplus minyak di Amerika Serikat (AS).

Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak Januari turun 32 sen ke level US$52,63 per barel pada pukul 4.32 sore waktu setempat di New York Mercantile Exchange, setelah mampu membukukan kenaikan 30 sen dan mengakhiri perdagangan Selasa (4/12/2018) di level US$53,25 per barel.

Adapun harga minyak Brent untuk pengiriman Februari turun 33 sen ke level US$61,36 per barel di ICE Futures Europe exchange di London, setelah berakhir naik 0,39% di posisi 62,08 pada Selasa. Brent menghasilkan apa yang disebut "death cross" pada Selasa, sinyal teknis bearish ketika rata-rata pergerakan 50 hari turun di bawah rata-rata 200 hari.

Dilansir dari Bloomberg, Menteri Energi Saudi, Khalid Al-Falih, sepertinya mundur dari seruan baru-baru ini untuk pengurangan produksi harian sebesar 1 juta barel oleh eksportir-eksportir besar..

Sementara itu, American Petroleum Institute (API) dikabarkan melaporkan lonjakan persediaan minyak mentah, bensin, dan minyak diesel. Stok minyak mentah AS dilaporkan naik 5,36 juta barel pekan lalu, sedangkan persediaan untuk bensin dan minyak diesel juga meningkat berdasarkan perhitungan kelompok industri ini.

Setelah mampu mengakhiri sesi perdagangan yang bergelombang di posisi lebih tinggi, harga minyak AS pun tergelincir ke zona merah dalam perdagangan after-hours.

Dalam sebuah wawancara di konferensi perubahan iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa di Polandia, Menteri Al-Falih mengatakan masih terlalu dini untuk mengatakan apa yang akan terjadi di Wina.

“Kami perlu berkumpul dan mendengarkan rekan-rekan kami, mendengar pandangan mereka tentang penawaran dan permintaan serta proyeksi produksi negara mereka sendiri,” ujar Al-Falih.

Kesan kehati-hatian yang dikombinasikan dengan pemberitaan bahwa Arab Saudi telah memangkas harga yang dibebankan kepada pelanggan Asia akan memperlemah optimisme pedagang.

Komentar itu muncul hanya beberapa hari setelah kesepakatan antara Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman dan Presiden Rusia Vladimir Putin tampaknya memperlancar jalan atas tercapainya kesepakatan produksi ketika OPEC berkumpul di Wina pekan ini.

“Ini bukan sinyal harga yang bagus,” kata Bob Yawger, direktur futures di Mizuho Securities. “Entah permintaan yang buruk atau semua pembicaraan tentang pemangkasan produksi hanyalah wacana.”

Terlepas dari adanya volatilitas, analis di UBS AG mengatakan bahwa mereka mengharapkan pemulihan berkelanjutan untuk minyak mentah pada tahun depan.

“Negara-negara OPEC memiliki insentif yang kuat untuk mendukung pembatasan output yang menentukan,” paparnya dalam riset.

“Penurunan hampir 30% dalam harga minyak sejak awal Oktober telah mendorong harga di bawah level yang sebagian besar negara-negara OPEC butuhkan untuk menyeimbangkan anggaran fiskal mereka.”

Sementara itu, produsen-produsen memiliki pengalaman tentang jatuhnya harga minyak pada tahun 2014 setelah OPEC menolak menyesuaikan output.

Negara anggota OPEC lainnya masih mendorong untuk pembatasan produksi. Menteri Energi Uni Emirat Arab Suhail Al Mazrouei menegaskan kembali perlunya pengurangan output. Adapun kementerian perminyakan Irak mengatakan bahwa Irak sedang mengupayakan keseimbangan di pasar.

Tag : Harga Minyak
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top