Wijaya Karya (WIKA) Hitung Ulang Capex 2019

Emiten konstruksi PT Wijaya Karya Tbk. menyebut masih akan merampungkan nilai pasti dari belanja modal (capex) perseroan pada tahun depan. Perusahaan pelat merah tersebut sebelumnya menyebut akan mengalokasikan belanja modal hingga Rp20 triliun pada 2019.
Dara Aziliya | 03 Desember 2018 17:56 WIB
Presiden Direktur PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. Tumiyana (kiri) didampingi Direktur Steve Kosasih memberikan paparan saat berkunjung ke kantor redaksi Bisnis Indonesia, di Jakarta, Rabu (17/10/2018). - JIBI/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA – Emiten konstruksi PT Wijaya Karya Tbk. menyebut masih akan merampungkan nilai pasti dari belanja modal (capex) perseroan pada tahun depan. Perusahaan pelat merah tersebut sebelumnya menyebut akan mengalokasikan belanja modal hingga Rp20 triliun pada 2019.

Direktur Wijaya Karya Antonius NS Kosasih mengatakan perseran tengah melakukan penghitungan ulang pada alokasi capex pada tahun depan. Pasalnya, perseroan memprediksi sebagian dari capex yang dianggarkan untuk 2018 harus digulirkan hingga tahun depan karena belum digunakan.

"Capex tahun depan harus kami hitung ulang karena capex 2018 yang Rp15 triliun saja belum kami gunakan semua karena beberapa proyek tidak jadi dikerjakan tahun ini. Tapi [capex] 2019 akan heavy karena proyeknya [yang tidak jadi dikerjakan tahun ini] akan bergeser ke tahun depan," ungkap Antonius di Jakarta, Senin (3/12).

Terkait dana sumber belanja modal, Antonius menyampaikan perseroan akan menggunakan ekuitas internal dan pinjaman eksternal. Menurutnya, emiten dengan sandi WIKA tersebut biasanya menggunakan ekuitas sebesar maksimal 30% untuk belanja modal dan sisanya melalui debt.

Berdasarkan catatan perseroan, dalam 5 tahun terakhir kecuali 2014 dan 2016, WIKA selalu membukukan arus kas positif di akhir tahun. Hingga September 2018, emiten dengan sandi WIKA tersebut mencatatkan arus kas dari aktivitas operasi pada level defisit Rp3,71 triliun dari yoy sebesar minus 2,69 triliun.

“Artinya di setiap ujung tahun secara net kami mendapatkan pembayaran dari customer cukup banyak. Itu kami gunakan untuk [menjaga] rasio utang dan sebagian untuk turn over. Sekitar 50% utang kami merupakan utang jangka panjang,” ungkap Antonius.

Tag : wijaya karya, wika, kinerja emiten
Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top