Garuda Indonesia (GIAA) Rampungkan Dua Rute Baru pada Kuartal I/2019

Emiten maskapai nasional PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. menargetkan penjajakan dua rute internasional baru dapat selesai paling lambat kuartal I/2019. Kedua rute tersebut yaitu penerbangan langsung Jakarta—Paris dan Jakarta—Turki.
Dara Aziliya | 25 November 2018 17:14 WIB
Direktur Utama Garuda Indonesia yang baru I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra memberikan keterangan pers usai pelaksanaan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk di Garuda Centre, Tangerang, Banten, Rabu (12/9/2018)./ANTARA FOTO - Muhammad Iqbal

Bisnis.com, JAKARTA – Emiten maskapai nasional PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. menargetkan penjajakan dua rute internasional baru dapat selesai paling lambat kuartal I/2019. Kedua rute tersebut yaitu penerbangan langsung Jakarta—Paris dan Jakarta—Turki.

Direktur Utama Garuda Indonesia I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra atau Ari Askhara menyampaikan bahwa perseroan masih dalam tahap untuk mendapatkan izin tujuan penerbangan dari otoritas maskapai kedua negara tersebut.

“Garuda Indonesia mau membuka rute ke Turki dan Paris, mudah-mudahan bisa diwujudkan dalam waktu dekat. Kami targetkan [realisasi penerbangan] kuartal I/2019. Kami masih harus kerja keras khususnya untuk mendapatkan izin dari authority masing-masing negara tersebut,” ungkap Ari pada Bisnis.com pekan lalu.

Untuk pasar Paris, Ari menjelaskan perseroan ingin menangkap wisatawan Indonesia yang berkunjung ke Negeri Eiffel tersebut. Emiten dengan sandi GIAA tersebut menyasar baik wisatawan Indonesia maupun wisatawan negara tersebut yang mengunjungi Indonesia. Pada 2017 lalu, pemerintah mencatat jumlah turis Prancis ke Indonesia mencapai sekitar 270.000 wisman.

Untuk pasar Turki, Ari mengungkapkan perseroan ingin membidik jamaah umrah yang sebelum mendarat di Jeddah, akan transit dulu di Turki. Pasar ini potensial mengingat Indonesia memberangkatkan lebih dari 1 juta jamaah umrah per tahun.

Dengan tuntutan menekan kerugian yang masih cukup besar, GIAA terus melakukan utak-atik rute yang berpeluang menjadi sumber penigkatan pendapatan. Hingga akhir tahun ini, perseroan menargetkan nilai kerugian dapat mencapai di bawah US$100 juta.  

Bisnis.com mencatat, bukan baru kali ini Garuda Indonesia membidik Paris sebagai destinasi penerbangan. Setelah memutuskan akan menutup rute Jakarta—London, Paris merupakan salah satu tujuan baru yang dibidik Pahala N. Mansury, bekas Dirut Garuda Indonesia yang meninggalkan kursi GIAA-1 pada awal Oktober 2018.

Rute Jakarta—Turki pun sempat mencuat untuk menggantikan Jakarta—London, namun diskusinya tidak berlanjut. Sebagaimana diketahui, dengan hanya membukukan 35.000 penumpang sepanjang 2017, GIAA akhirnya menutup rute Jakarta—London dengan penerbangan terakhir pada Oktober lalu.

Garuda Indonesia membukukan kerugian dalam beberapa tahun terakhir, namun pada tahun ini nilainya terus mengecil. Pada periode yang berakhir 30 September, perseroan membukukan pendapatan usaha sebesar US$3,22 miliar, meningkat tipis 3,47% dibandingkan periode sama tahun lalu (yoy) yang sebesar US$3,11 miliar.

Pada periode tersebut, beban usaha perseroan juga meningkat tipis 3,61% yoy ke level Rp US$3,32 miliar. Kerugian kurs perseroan tercatat meningkat cukup tajam 232,64% ke level US$52,35 miliar. Per Oktober 2018, perseroan mencatat masih menderita kerugian dari 11 penerbangan.

Pada sembilan bulan pertama 2018, Garuda Indonesia membukukan rugi yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$114,08 juta, atau mengecil 48,62% dibandingkan periode sama tahun lalu.

 

Tag : garuda indonesia, kinerja emiten
Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top