Jelang Penutupan, Pemesanan Sukuk Tabungan (ST002) Capai Rp4,65 Triliun

Minat investor ritel atas instrumen Sukuk Tabungan seri ST-002 masih cenderung terbatas ditengarai masih rendahnya pemahaman atas instrumen ini di kalangan investor ritel, kendati tingkat kupon yang ditawarkan sangat tinggi mencapai 8,3%.
Emanuel B. Caesario | 22 November 2018 07:49 WIB
Ilustrasi - www.hennionandwalsh.com

Bisnis.com, JAKARTA — Minat investor ritel atas instrumen Sukuk Tabungan seri ST-002 masih cenderung terbatas ditengarai masih rendahnya pemahaman atas instrumen ini di kalangan investor ritel, kendati tingkat kupon yang ditawarkan sangat tinggi mencapai 8,3%.

Berdasarkan data Investree.id, nilai pemesanan instrumen ST-002 hingga Rabu (21/11/2018) pukul 19.30 WIB telah mencapai  Rp4,65 triliun atau 66,37% dari target Rp7 triliun. Batas pemesanan akan berakhir Kamis (22/11/2018).

Masa pemasaran instrumen ini akan berakhir hari ini setelah dimulai sejak Kamis (1/11/2018). Dari semula target pemerintah hanya Rp1 triliun, minat investor ritel atas instrumen ini terbukti terus meningkat sehingga pemerintah menaikkannya menjadi Rp7 triliun.

Meksipun demikian, minat investor atas instrumen ini tidak setinggi dua instrumen surat utang ritel yang terbit sebelumnya, yakni Saving Bond Retail seri SBR-004 dan Obligasi Ritel Indonesia seri ORI015. Kedunya mendulang minat investor masing-masing Rp7,32 triliun dan Rp23,38 triliun.

Namun, dibandingkan dengan ST001 yang diterbitkan pada2016 yang hanya Rp2,58 triliun, pemasaran ST-002 mengalami peningkatan. Nilai pemasaran ST002 ini juga lebih tinggi dibandingkan dengan SBR-003 yang terbit Mei 2018 yang hanya Rp1,93 triliun.

Ramdhan Ario Maruto, Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Indonesia, mengatakan bahwa capaian pemasaran instrumen ini masih tergolong berhasil sebab instrumen ini memang masih baru.

Lagipula, pemerintah menerbitkan berbagai instrumen surat utang ritel tahun ini secara beruntun dalam selisih waktu yang singkat, sehingga wajar bila likuiditas pasar mengetat.

“Namun, dengan capaian pemasaran ST-002 ini terbukti likuiditas investor ritel ternyata cukup bagus walaupun sudah berkali-kali terbit tahun ini. Pemerintah bisa melanjutkan strategi ini agar sosialisasi tidak berhenti,” katanya, Rabu (21/11).

Ramdhan mengatakan, hadirnya beragam instrumen ini menjadi jawaban terhadap kegelisahan masyarakat yang selama ini kebanjiran produk investasi bodong, sebab instrumen ini menguntungkan dan relatif sangat aman.

Anil Kumar, Investment & Portofolio Manager Ashmore Asset Management Indonesia, mengatakan bahwa wajar saja bila minat investor terhadap ST002 relatif kecil. Pasalnya instrumen ini tidak dapat diperdagangkan sehingga ada risiko likuiditas.

Meskipun demikian, dari segi kuponnya yang sebesar 8,3% dan bersifat mengambang untuk tenor 2 tahun, instrumen ini sebenarnya sangat menarik.  Sebagai pembanding, yield SUN tenor 5 tahun kini sudah di bawah 8%.

“Kalau mengingat target awal pemerintah hanya Rp1 triliun, sebenarnya permintaan atas ST002 ini tergolong tinggi karena dia terbatas oleh rule-nya yang tidak bisa diperdagangkan di pasar sekunder,” katanya.

Maximilianus Nico Demus, Direktur Riset dan Investasi Kiwoom Sekuritas Indonesia, mengatakan bahwa instrumen ini diterbitkan di tengah kondisi pasar global yang sepenuhnya kondusif. Hal ini menjadi tantangan bagi para agen penjual instrumen ini.

Di sisi lain, beberapa produk deposito dari bank BUKU I dan BUKU II juga sudah menawarkan tingkat bunga yang tinggi menyaingi instrumen ini. Kendati ST002 memiliki lebih banyak keunggulan, seperti pajak yang hanya 15% dibandingkan deposito yang 20%, investor cenderung lebih memilih instrumen yang sudah lebih dahulu popular.

Selain itu, Nico menilai upaya sosialisasi dan edukasi instrumen ini juga belum benar-benar massif. Masih banyak masyarakat yang memiliki kemampuan investasi yang tinggi tetapi tidak mengetahui adanya instrumen ini. Wajar saja, sebab ini baru seri kedua dari instrumen ini.

“Sosialisasi dan edukasi ini saya lihat murni masih dialihkan ke bank dan fintech online, sedangkan yang fintech online ini juga belum terlalu aktif untuk sosialisasi dan edukasi apa itu sukuk dan apa itu sukuk tabungan,” katanya.

Nico mengatakan, terbitkan instrumen ini adalah dalam rangka menambah basis produk investasi di pasar sehingga investor ritel memiliki lebih banyak pilihan. Dirinya menilai, masih butuh waktu bagi instrumen ini untuk bisa menyaingi instrumen ORI atau Sukuk Ritel yang sudah lebih dahulu dikenal.

 

Tag : Obligasi, sukuk
Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top