BKDI Berharap Segera Ada Kontrak Timah Berjangka Indonesia

Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia berharap Pusat Logistik Berikat aktif memperdagangan timah berjangka yang hingga hari ini masih terkendala. , padahal Indonesia merupakan negara pengekspor terbesar di dunia. 
Mutiara Nabila | 07 November 2018 21:15 WIB
Chief Executive Officer BKDI Lamon Rutten dalam kesempatan wawancara di Jakarta, Rabu (7/11/2018). - Mutiara Nabila

Bisnis.com, JAKARTA — Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia berharap Pusat Logistik Berikat aktif memperdagangan timah berjangka yang hingga hari ini masih terkendala. , padahal Indonesia merupakan negara pengekspor terbesar di dunia. 

Chief Executive Officer BKDI Lamon Rutten menuturkan bahwa perdagangan komoditas timah di Indonesia saat ini belum masuk sistem kontrak berjangka. Kendati sudah diperkenalkan selama 3 tahun belakangan, tetapi timah berjangka belum berhasil diperdagangkan.

“Indonesia merupakan negara pengekspor [timah] terbesar di dunia dan kalau ada kontrak berjangka di Indonesia, kontrak itu akan penting untuk pembentukan harga timah di dunia. Sekarang yang menjadi patokan malah masih kontrak di London,” ujarnya ditemui Bisnis, Rabu (7/11).

Menurut Lamon, banyaknya peraturan dari sejumlah otoritas yang berlapis-lapis di Indonesia, membuat perkenalan kontrak baru komoditas logam tersebut menjadi lebih sulit.

“Banyak komplikasi aturan seperti pajak, sertifikat, dan setiap masalah kecil harus dibicarakan dengan berbagai macam otoritas berbeda. Ditambah dengan ‘jam karet’, membuat prosesnya tidak bisa berjalan cepat sehingga pertumbuhan [perdagangan] lambat,” lanjutnya.

Pada tahun depan, BKDI berharap bisa memulai kontrak timah berjangka dengan menggunakan Pusat Logistik Berikat (PLB) sebagai gudang penyimpanan fisik untuk kontrak di bursa.

“PLB sekarang masih di luar kontrol Indonesia dan harus melewati bea cukai sebelum komoditas dari smelter bisa masuk ke PLB,” lanjut Lamon.

Dengan menggunakan PLB, Lamon menilai nantinya tidak perlu ada izin ekspor yang dinilai berbelit. Berbagai kalangan pun bisa menjual timah yang ada di dalam PLB.

Selanjutnya, dengan kontrak berjangka, komoditas timah yang sekarang disimpan di gudang Singapura bisa dipindahkan ke Bangka, Sumatra Selatan, daerah pusat pertambangan timah di Indonesia.

Apabila PLB bisa berfungsi, maka perdagangannya akan lebih sederhana dan lebih murah. “Kalau disimpan di Indonesia, orang akan menggunakan timah itu tidak hanya untuk perdagangan, tetapi juga bisa untuk pendanaan syariah karena ada fisiknya,” tutur dia.

Pada tahun depan, perdagangan timah spot di pasar Indonesia diharapkan lebih stabil. “Di pasar berjangka, ada produk seperti aluminium dan tembaga dengan transaksi 20—30 kali lebih tinggi daripada fisik, tapi timah lebih rendah paling hanya 8 kali setahun. Harapannya, kalau ada futures bisa menambah nilai transaksi.”

Tag : timah, bkdi
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top