Bursa Asia Didorong Wall Street, Hasil Pemilu Paruh Waktu AS Membayangi

Bursa saham Asia bergerak ke posisi lebih tinggi pada perdagangan pagi ini, Selasa (6/11/2018), didukung penguatan pada bursa Wall Street Amerika Serikat (AS) meskipun sentimen pasar dipengaruhi agenda pemilu paruh waktu di AS.
Renat Sofie Andriani | 06 November 2018 09:19 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Asia bergerak ke posisi lebih tinggi pada perdagangan pagi ini, Selasa (6/11/2018), didukung penguatan pada bursa Wall Street Amerika Serikat (AS) meskipun sentimen pasar dipengaruhi agenda pemilu paruh waktu di AS.

Indeks MSCI Asia Pacific selain Jepang naik 0,15%, sedangkan indeks Nikkei Jepang naik 0,5%, sehari setelah keduanya turun lebih dari 1%.

Di bursa Wall Street, indeks S&P 500 berakhir naik 0,56% pada perdagangan Senin (5/11), ditunjang sektor finansial dengan saham Berkshire Hathaway naik 5% didukung kinerja keuangan yang kuat.

Di pasar minyak, harga minyak mentah bergejolak di dekat posisi terendahnya dalam beberapa bulan. Pemerintah AS memberikan keringanan sementara kepada delapan negara, sehingga memungkinkan mereka untuk terus membeli minyak dari Iran setelah AS secara resmi mengenakan sanksi terhadap Iran.

Sebaliknya, indeks Nasdaq Composite turun 0,38% setelah saham Apple Inc. turun 2,8% menyusul laporan Nikkei bahwa raksasa teknologi tersebut telah mengatakan kepada perakit smartphone-nya untuk menghentikan rencana lini produksi tambahan yang didedikasikan untuk iPhone XR.

Menjelang pemilu paruh waktu AS yang akan diselenggarakan pada Selasa (6/11) waktu setempat, investor umumnya memperkirakan Partai Demokrat akan mengambil alih kendali di Dewan Perwakilan Rakyat (AS), sedangkan Partai Republik Trump diperkirakan akan tetap mendominasi di Senat.

Meski kemacetan politik antara Gedung Putih dan Kongres dapat menghalangi agenda probisnis yang diusung Trump serta meningkatkan ketidakstabilan politik, termasuk dengar pendapat yang berpusat pada pemerintah, beberapa analis mengatakan hasil macam ini mungkin sudah diperhitungkan oleh investor.

Jika kubu Republik mempertahankan mayoritas mereka di DPR, bursa saham global cenderung akan rally didorong harapan pemangkasan pajak lebih lanjut oleh pemerintah AS.

Bulan lalu, Trump mengatakan pemerintahannya berencana menghasilkan resolusi yang menyerukan pemotongan pajak sebesar 10% untuk rumah tangga berpenghasilan menengah.

“Semua orang masih ingat kuatnya rally ekuitas setelah Trump terpilih [sebagai Presiden AS] dua tahun lalu. Jadi, awalnya pasar saham akan naik,” kata Norihiro Fujito, kepala strategi investasi di Mitsubishi UFJ Morgan Stanley Securities.

“Tetapi pemangkasan pajak lebih lanjut akan meningkatkan defisit fiskal yang sudah besar serta mendorong imbal obligasi AS bertenor 10 tahun di atas level tingginya pada Oktober hampir seketika. Mengingat kenaikan imbal hasil obligasi AS memicu koreksi pada ekuitas bulan lalu, setiap rally dalam pasar saham tidak akan bertahan lama,” tambahnya.

Banyak investor juga memperkirakan Trump akan terus mengambil sikap keras terhadap isu perdagangan, terlepas dari apa pun hasil pemilu paruh waktu nanti.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bursa asia

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top