IHSG 'Unjuk Gigi' Saat Pasar Global Tertekan

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil kembali meraih momentum penguatannya sekaligus membukukan reli hari kelima berturut-turut pada akhir perdagangan hari ini, Senin (5/11/2018).
Renat Sofie Andriani | 05 November 2018 17:36 WIB
Karyawan berjalan melintasi layar informasi Indeks harga saham gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (6/9/2018). - Reuters/Willy Kurniawan

Bisnis.com, JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil kembali meraih momentum penguatannya sekaligus membukukan reli hari kelima berturut-turut pada akhir perdagangan hari ini, Senin (5/11/2018).

IHSG ditutup menguat 0,24% atau 14,30 poin di level 5.920,59, level penutupan tertinggi sejak 1 Oktober. Adapun pada perdagangan Jumat (4/11), IHSG berakhir naik lebih dari 1% atau 70,37 poin di posisi 5.906,29.

Padahal, indeks sempat tergelincir ke level 5.886 setelah dibuka di zona merah dengan turun 0,19% atau 11,05 poin di level 5.895,24 pagi tadi.  Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG bergerak fluktuatif pada kisaran level 5.886,21–5.926,63.

Dari 612 saham yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI), sebanyak 179 saham menguat, 213 saham melemah, dan 220 saham stagnan.

Sebanyak empat dari sembilan sektor menetap di wilayah positif, dipimpin konsumer (+1,54%) dan aneka industri (+0,79%). Adapun sektor infrastruktur yang melemah 0,66% berakhir di zona merah diikuti empat sektor lainnya sekaligus membatasi kenaikan IHSG.

Sejumlah saham emiten konsumer yakni PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk. (HMSP) dan PT Gudang Garam Tbk. (GGRM) yang masing-masing naik 2,89% dan 3,67% pun menjadi pendorong utama terhadap berlanjutnya penguatan IHSG hari ini.

Sejalan dengan IHSG, indeks Bisnis 27 berhasil melanjutkan penguatannya pada hari kelima dengan berakhir naik 0,14% atau 0,73 poin di level 531,14, meskipun dibuka di zona merah dengan turun 0,31% atau 1,62 poin di level 528,78 pagi tadi.

Ekonomi Indonesia dilaporkan tumbuh sebesar 5,17% secara year-on-year (yoy) pada kuartal III/2018. Raihan ini lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan kuartal yang sama tahun lalu yang sebesar 5,06% yoy.

Secara kuartalan, pertumbuhan yang terjadi sebesar 3,09% pada kuartal III/2018 atau lebih rendah dari pertumbuhan pada kuartal sebelumnya yang sekitar 5,27%.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto menyatakan ini merupakan capaian yang baik mengingat lompatan pada kuartal sebelumnya lebih karena faktor Lebaran dan Tunjangan Hari Raya (THR).

Meski demikian, angka tersebut masih di bawah target pertumbuhan ekonomi 2018 yang sebesar 5,4% dan outlook 2018 di level 5,2%.

"Perekonomian global cenderung melambat kecuali di AS. Di beberapa negara maju mengalami perlambatan, termasuk di beberapa negara yang menjadi tujuan utama ekspor Indonesia," ujarnya dalam konferensi pers di Gedung BPS, Jakarta, Senin (5/11).

Suhariyanto pun menuturkan faktor persiapan Pemilu legislatif (Pileg) dan Pemilu Presiden (Pilpres) turut serta mendorong pertumbuhan konsumsi Lembaga Non Profit yang Melayani Rumah Tangga (LNPRT).

Dari sisi lapangan usaha secara kuartalan, seluruhnya tumbuh positif dengan pertumbuhan tahunan paling bagus disumbang oleh sektor informasi dan komunikasi sebesar 8,98% dan jasa perusahaan 8,67%. Namun, pertumbuhan tersebut tidak berdampak signifikan karena struktur PDB masih didominasi industri olahan dan pertanian.

Sementara itu, industri masih berperan besar dengan pertumbuhan 4,33% secara yoy, sektor pertanian 3,62%, sektor perdagangan 5,26%, konstruksi 5,79%, dan pertambangan 2,68%. Dengan demikian, PDB secara lapangan usaha terutama disumbangkan oleh industri pengolahan, pertanian dan perdagangan.

Berbanding terbalik dengan IHSG, indeks saham lain di Asia mayoritas tertekan sore ini, di antaranya indeks FTSE Straits Time Singapura (-1,79%), FTSE Malay KLCI (-0,30%), dan indeks SE Thailand (-0,60%).

Indeks Topix dan Nikkei 225 Jepang masing-masing berakhir melorot lebih dari 1%, indeks Hang Seng Hong Kong merosot 2,08%, sedangkan indeks Kospi Korea Selatan berakhir melemah 0,91%.

Adapun indeks Shanghai Composite dan CSI 300 China masing-masing ditutup turun 0,41% dan 0,83%, mematahkan penguatan selama empat hari beruntun sebelumnya.

Secara keseluruhan, bursa saham Asia tergelincir turun saat optimisme seputar potensi kesepakatan perdagangan antara Amerika Serikat (AS) dan China memudar. Bursa saham Eropa pun terseret turun di tengah penantian investor atas pemilu paruh waktu kongres AS yang akan digelar pada Selasa (6/11) waktu setempat.

Pada Jumat (2/11), bursa Asia mampu melanjutkan penguatannya didukung laporan Bloomberg News bahwa Presiden Donald Trump menginginkan tercapainya kesepakatan perdagangan dengan China dalam KTT G-20 bulan ini.

Akan tetapi, penasihat ekonomi Gedung Putih Larry Kudlow justru mengecilkan potensi tercapainya kesepakatan dengan segera. Sementara itu, prospek kebijakan moneter yang lebih ketat di AS juga meresahkan pelaku pasar.

Imbal hasil obligasi AS membukukan kenaikan terbesar dalam sebulan menjadi 3,21% pada Jumat (2/11) akibat spekulasi bahwa bank sentral AS Federal Reserve akan bertahan dengan arah kenaikan suku bunganya setelah sebuah laporan pekerjaan menunjukkan peningkatan upah tahunan melampaui 3%, untuk pertama kalinya sejak 2009.

Kebijakan moneter yang lebih ketat, penguatan dolar AS, dan tarif perdagangan telah menciptakan apa yang disebut oleh pakar strategi Citi sebagai “Trump’s triple tightening” atau langkah pengetatan tiga kali lipat oleh Trump, tahun ini.

“Hal ini telah memperlambat pertumbuhan dan meningkatkan risiko di seluruh dunia,” jelasnya, seperti dikutip Reuters.

Saham-saham pendorong IHSG:

Kode

(%)

HMSP

+2,89

GGRM

+3,67

BBCA

+0,73

ASII

+0,92

Saham-saham penekan IHSG:

 Kode

(%)

TLKM

-1,27

INKP

-6,84

BBNI

-2,25

BMRI

-0,67

Sumber: Bloomberg

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
IHSG

Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top