Antusiasme Kesepakatan Dagang AS-China Memudar, Bursa Jepang Melorot

Bursa saham Jepang melorot lebih dari 1% pada akhir perdagangan hari ini, Senin (5/11/2018), saat investor mencermati peluang bagi Amerika Serikat (AS) dan China untuk mencapai kesepakatan perdagangan.
Renat Sofie Andriani | 05 November 2018 15:25 WIB
Bursa saham Tokyo - Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Jepang melorot lebih dari 1% pada akhir perdagangan hari ini, Senin (5/11/2018), saat investor mencermati peluang bagi Amerika Serikat (AS) dan China untuk mencapai kesepakatan perdagangan.

Indeks Topix berakhir melorot 1,11% atau 18,37 poin di level 1.640,39, setelah dibuka di zona merah dengan pelemahan 0,84% atau 13,88 poin di posisi 1.644,88 pada Jumat (2/11).

Berdasarkan data Bloomberg, dari 2.106 saham pada indeks Topix, 654  saham di antaranya menguat, 1.369 saham melemah, dan 83 saham stagnan.

Saham Sony Corp. dan Kao Corp. yang masing-masing turun 2,94% dan 3,76% menjadi penekan utama atas melorotnya Topix pada akhir perdagangan hari ini.

Sejalan dengan Topix, indeks Nikkei 225 ditutup melorot 1,55% atau 344,67 poin di level 21.898,99, setelah dibuka berakhir dengan pelemahan 1,08% atau 241,19 poin di posisi 22.002,47.

Sebanyak 55 saham menguat, 167 saham melemah, dan 3 saham stagnan dari 225 saham pada indeks Nikkei. Saham Fast Retailing Co. Ltd. (-4,76%), NTT Data Corp. (-8,32%), dan TDK Corp. (-4,31%) menekan pergerakan indeks Nikkei 225 hari ini.

Padahal, baik Topix maupun Nikkei 225 mampu rebound tajam, masing-masing berakhir melonjak 1,64% dan 2,56%, pada perdagangan Jumat (2/11).

Di sisi lain, nilai tukar yen terpantau lanjut terdepresiasi 0,03 poin atau 0,03% ke level 113,23 yen per dolar AS hari ini pukul 14.29 WIB, setelah berakhir melemah 0,43% atau 0,49 poin di posisi 113,20 pada Jumat.

Rebound bursa saham Jepang pada Jumat didukung laporan Bloomberg News bahwa Presiden Donald Trump menginginkan tercapainya kesepakatan perdagangan dengan China dalam KTT G-20 bulan ini. Investor juga fokus pada pemilu kongres AS yang akan segera digelar.  

Akan tetapi, bursa AS justru berakhir memerah pada perdagangan Jumat (2/11) setelah penasihat ekonomi Gedung Putih Larry Kudlow mengecilkan potensi tercapainya kesepakatan dengan segera.

“Pasar saham Jepang kembali melemah setelah rally pada Jumat, mengingat penyangkalan dari pejabat AS,” ujar Tomoichiro Kubota, seorang analis di Matsui Securities, seperti dikutip Bloomberg.

“Hingga pemilu paruh waktu, Trump mungkin mengurangi retorikanya terhadap China karena ia mempertimbangkan potensi dampak negatif terhadap bursa saham, tetapi ia mungkin akan melanjutkan komentarnya yang ekstrim setelah pemilu.”

Sementara itu, Shoji Hirakawa, kepala strategi global di Tokai Tokyo Research Institute di Tokyo, mengatakan prospek untuk suku bunga AS dapat pula memengaruhi saham.

Imbal hasil obligasi AS membukukan kenaikan terbesar dalam sebulan menjadi 3,21% pada Jumat (2/11) akibat spekulasi bahwa bank sentral AS Federal Reserve akan bertahan dengan arah kenaikan suku bunganya setelah sebuah laporan pekerjaan menunjukkan peningkatan upah tahunan melampaui 3%, untuk pertama kalinya sejak 2009.

“Ada kemungkinan bahwa peningkatan upah AS akan naik menjadi sekitar 3,5% tahun depan, jadi kita perlu berpikir mengenai risiko bahwa saham akan menjadi terlalu mahal akibat kenaikan suku bunga,” tambah Hirakawa.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bursa jepang

Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top