Pacu Bisnis Batu Bara, Trada Alam Minera (TRAM) Genjot Produksi

Emiten pelayaran dan pengangkutan PT Trada Alam Minera Tbk. (TRAM) kian fokus memacu lini bisnis batu bara. Tahun depan, perusahaan menargetkan produksi dan penjualan batu bara sebesar 5 juta ton, meningkat dua kali lipat dari estimasi tahun ini sejumlah 2,5 juta ton.
Hafiyyan | 05 November 2018 15:25 WIB
Direktur Utama PT Trada Alam Minera Tbk. Soebianto Hidayat (tengah), memberikan paparan didampingi Direktur Independen Irwandy Arif (kanan), dan Direktur Ismail, saat konferensi pers di Jakarta, Selasa (7/11). - JIBI/Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA — Emiten pelayaran dan pengangkutan PT Trada Alam Minera Tbk. (TRAM) kian fokus memacu lini bisnis batu bara. Tahun depan, perusahaan menargetkan produksi dan penjualan batu bara sebesar 5 juta ton, meningkat dua kali lipat dari estimasi tahun ini sejumlah 2,5 juta ton.

Direktur Utama Trada Alam Minera Soebianto Hidayat menyampaikan, perusahaan akan memacu lini bisnis batu bara seiring dengan kondisi industri yang positif. Tahun depan, TRAM menargetkan  volume produksi dan penjualan batu bara sejumlah 5 juta ton.

“Sampai 2019 diperkirakan industri batu bara masih kondusif. Kami pun menargetkan volume produksi dan penjualan 5 juta ton,” ujarnya kepada Bisnis, akhir pekan lalu.

Melalui anak usahanya, PT Gunung Bara Utama (GBU) perusahaan menargetkan penjualan batu bara sampai akhir 2018 sebesar 2,5 juta ton. Per September 2018, GBU sudah melakukan ekspor sebanyak 1,6 juta ton dengan rerata harga hampir mencapai US$70 per ton.

Per Juli 2018, tambang GBU yang terletak di Kutai Barat, Kalimantan Timur, ini memiliki cadangan 65 juta ton. Produk yang dihasilkan termasuk kalori tinggi sehingga cocok untuk pasar ekspor. 

Di Kutai Barat, melalui entitasnya PT Delta Samudra (DS), TRAM juga memiliki cadangan batu bara sejumlah 43,47 juta ton. DS merupakan anak usaha PT SMR Utama Tbk. (SMRU), dan TRAM memegang 52,30% saham SMRU.

“Kami juga masih dalam proses penambahan cadangan batu bara,” tutur Soebianto.

Per September 2018, perusahaan membukukan pendapatan US$173,27 juta, melonjak dari sebelumnya US$16,13 juta. Penjualan batu bara berkontribusi terbesar, yakni US$115,31 juta.

Selanjutnya, penambangan US$40,37 juta, penyewaan dan pengoperasian kapal US$16,57 juta, sewa alat berat US$960.717, keagenan kapal US$55.946, dan handling fee US$239.

Lonjakan pendapatan disebabkan pada tahun lalu perseroan belum membukukan pemasukan dari bisnis pertambangan. Laba TRAM per September 2018 pun mencapai US$6,65 juta, berbalik dari sebelumnya rugi bersih US$7,81 juta.

Adapun, bisnis jasa pertambangan dikontribusikan oleh entitas anak PT Ricobana Abadi (RBA). RBA merupakan anak usaha SMRU.

Per September 2018, pendapatan SMRU terkoreksi tipis 1,09% yoy menjadi Rp590,45 miliar dibandingkan sebelumnya Rp596,95 miliar. Rugi bersih perusahaan membengkak menjadi Rp72,39 miliar dari posisi per kuartal III/2017 sebesar Rp5,12 miliar.

Soebianto menyampaikan, seiring dengan poisitifnya industri batu bara, TRAM menargetkan pendapatan dan laba bersih sampai akhir 2018 cenderung meningkat.

Selain dari penambangan dan penjualan batu bara, GBU juga mulai ekspansi ke bisnis infrastruktur logistik pada Oktober 2018. GBU menyepekati kerjasama penggunaan logistik pertambangan dengan PT Citra Dayak Indah (CDI).

Volume batu bara yang disepakati dalam kerja sama ialah 700.000 ton. Jumlah ini dapat meningkat ke depannya menjadi 1 juta ton per tahun.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kinerja emiten, trada alam minera

Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top