Harga Batu Bara & Minyak Kompak Terkulai

Harga batu bara kembali tertekan pada akhir perdagangan Selasa (30/10/2018), setelah mampu rebound pada sesi perdagangan sebelumnya.
Renat Sofie Andriani | 31 Oktober 2018 08:03 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Harga batu bara kembali tertekan pada akhir perdagangan Selasa (30/10/2018), setelah mampu rebound pada sesi perdagangan sebelumnya.

Berdasarkan data Bloomberg, harga batu bara di bursa ICE Newcastle untuk kontrak teraktif Januari 2019 tergelincir dan berakhir melorot 0,92% atau 1 poin di level US$107,35 per metrik ton.

Padahal pada perdagangan Senin (29/10), harga batu bara mampu ditutup di zona hijau meskipun hanya dengan kenaikan 0,05% atau 0,05 poin di level 108,35, mematahkan pelemahan lima hari berturut-turut.

Di bursa ICE Rotterdam, harga batu bara untuk kontrak teraktif Februari 2019 ikut tergelincir dan berakhir melemah 0,87% atau 0,85 poin di level 97,40, setelah mampu ditutup rebound 0,05 poin di posisi 98,25 pada Senin (29/10).

Sementara itu di Zhengzhou Commodity Exchange, harga batu bara thermal untuk pengiriman Januari 2019 ditutup turun 0,19% atau 1,2 poin di level 637,4 yuan per metrik ton pada perdagangan kemarin.

“Faktor-faktor fundamental secara bertahap menyeret harga turun,” jelas Dennis Ip, analis di Daiwa Capital Markets, dalam risetnya, seperti dikutip Bloomberg.

Konsumsi batu bara di banyak provinsi dalam tren penurunan akibat permintaan daya yang lebih rendah. Sementara itu, persediaan pada enam pembangkit daya utama pesisir utama bertahan di level tinggi.

Sejalan dengan batu hitam, harga minyak mentah merosot ke level terendah dalam dua bulan terakhir pada Selasa (30/10) saat meningkatnya ketegangan perdagangan AS-China mengancam pertumbuhan global ketika cadangan minyak mentah AS membengkak.

Minyak West Texas Intermediate untuk pengiriman Desember berakhir melemah sekitar 1,3% di level US$66,18 di New York Mercantile Exchange, level penutupan terendah sejak 17 Agustus.

Adapun minyak Brent kontrak Desember ditutup turun 1,85% atau 1,43 poin di level US$75,91 di bursa ICE Futures Europe yang berbasis di London.

Dilansir Bloomberg, pemerintah AS sedang mempersiapkan daftar tarif baru yang akan berlaku untuk produk-produk China yang belum dikenai pajak impor jika pertemuan bulan depan antara presiden Donald Trump dan Xi Jinping pada KTT G20 di Buenos Aires tidak dapat menghasilkan kesepakatan.

Pada saat yang sama, American Petroleum Institute (API) melaporkan cadangan minyak mentah AS naik 5,69 juta barel pekan lalu, namun cadangan stok bensin turun 3,46 juta barel, sedangkan pasokan minyak distilasi turun 3,08 juta barel pekan lalu.

Kenaikan tersebut di atas estimasai dalam survei Bloomberg terhadap pada analis yang memperkirakan persediaan minyak mentah AS naik 3,21 juta barel pekan lalu, Sementara itu, pasokan di pusat penyimpanan utama di Cushing, Oklahoma, diperkirakan meningkat 2,1 juta barel.

Minyak mentah telah melemah bulan ini di tengah kekhawatiran permintaan di seluruh dunia, yang mengimbangi kekhawatiran tentang gangguan pasokan di Iran dan Venezuela.

Namun, pada saat yang sama cadangan minyak mentah AS sedang melonjak. Energy Information Administration diperkirakan melaporkan bahwa produksi AS telah meningkat lebih cepat dari perkiraan sebelumnya, menurut Rystad Energy AS.

Pergerakan harga batu bara kontrak Januari 2019 di bursa Newcastle

Tanggal                                    

US$/MT

30 Oktober

107,35

(-0,92%)

29 Oktober

108,35

(+0,05%)

26 Oktober

108,30                   

(-3,04%)

25 Oktober

111,70

(-0,27%)

24 Oktober

112,00

(-0,62%)

Sumber: Bloomberg

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
harga batu bara

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top