Harga Batu Bara Rebound Dari Tekanan

Harga batu bara berhasil rebound pada akhir perdagangan Senin (29/10/2018), setelah terkulai selama beberapa hari berturut-turut.
Renat Sofie Andriani | 30 Oktober 2018 08:06 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Harga batu bara berhasil rebound pada akhir perdagangan Senin (29/10/2018), setelah terkulai selama beberapa hari berturut-turut. 

Berdasarkan data Bloomberg, harga batu bara di bursa ICE Newcastle untuk kontrak Januari 2019 rebound ke zona hijau meski berakhir hanya dengan kenaikan 0,05% atau 0,05 poin di level US$108,35 per metrik ton.

Rebound harga batu bara Newcastle kontrak Januari mematahkan tekanan selama lima hari berturut-turut sebelumnya. Adapun pada perdagangan Jumat (26/10), harga batu bara ditutup anjlok 3,04% di level 108,30.

Di bursa ICE Rotterdam, harga batu bara untuk kontrak teraktif Januari 2019 ikut rebound dan mengakhir pergerakannya dengan kenaikan 0,56% atau 0,55 poin di level 98,80 pada perdagangan Senin (29/10).

Sementara itu di Zhengzhou Commodity Exchange, harga batu bara thermal untuk pengiriman Januari 2019 rebound dan ditutup naik 0,63% atau 4 poin di level 638,6 yuan per metrik ton pada perdagangan kemarin.

“Harga di tambang-tambang batu bara kuat karena sejumlah produsen menangguhkan operasi di tengah inspeksi lingkungan yang sedang berlangsung,” jelas analis Huatai Futures Sun Hongyuan, seperti dikutip Bloomberg.

Berbanding terbalik dengan batu hitam, harga minyak mentah berakhir melemah pada perdagangan Senin (29/10). Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak Desember 2018 ditutup melemah 0,81% atau 0,55 poin di level US$67,04 per barel di New York Mercantile Exchange.

Adapun minyak Brent kontrak Desember 2018 berakhir melemah 0,36% atau 0,28 poin di level US$77,34 per barel di ICE Futures Exchange Eropa.

Dilansir Bloomberg, Rusia memperkirakan dapat mempertahankan tingkat output-nya di atas rekor pada era-Soviet atau meningkatkan produksi lebih lanjut, dan memperingatkan adanya potensi kekurangan pasokan.

Pernyataan tersebut hanya beberapa hari setelah Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya mengisyaratkan mereka dapat memangkas produksi pada 2019.

Minyak telah merosot sekitar 12% dari level tertinggi dalam empat tahun terakhir pada awal bulan ini saat pelemahan di pasar ekuitas global menimbulkan kekhawatiran terhadap pertumbuhan ekonomi dan permintaan energi di tengah peningkatan persediaan minyak mentah AS.

Dengan sanksi baru dari AS terhadap Iran yang akan berlaku penuh pekan depan, para pelaku pasar mencari tanda-tanda apakah OPEC dan mitra-mitranya mampu (dan berkeinginan) untuk meningkatkan produksi guna mengisi kemungkinan adanya celah pasokan.

"Saya memperkirakan investor akan mengambil sikap wait and see pekan ini sebelum kembalinya sanksi terhadap Iran dan pemilihan paruh waktu di AS," kata Makiko Tsugata, analis senior di Mizuho Securities Co.

Makiko mengatakan, meskipun ada potensi penurunan ekspor Iran, kelebihan pasokan masih akan terjadi jika Arab Saudi dan Rusia meningkatkan produksi dan produksi AS terus meningkat.

Sementara itu, Menteri Energi Rusia Alexander Novak mengatakan kepada wartawan di Istanbul, Turki, bahwa dia tidak melihat alasan untuk mengurangi produksi dan bahwa ada risiko defisit di pasar minyak.

Pergerakan harga batu bara kontrak Januari 2019 di bursa Newcastle

Tanggal                                    

US$/MT

29 Oktober

108,35

(+0,05%)

26 Oktober

108,30                   

(-3,04%)

25 Oktober

111,70

(-0,27%)

24 Oktober

112,00

(-0,62%)

23 Oktober

112,70

(-0,22%)

Sumber: Bloomberg

Tag : harga batu bara
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top