Dolar AS Makin Ganas Hadapi Mata Uang Lain

Dolar Amerika Serikat (AS) terus menunjukkan keperkasaannya pada perdagangan siang ini, Kamis (4/10/2018), setelah kuatnya sejumlah data ekonomi AS memacu lonjakan imbal hasil obligasi ke level tertingginya sejak Mei 2011.
Renat Sofie Andriani | 04 Oktober 2018 14:14 WIB
Lembaran mata uang rupiah dan dolar AS diperlihatkan di salah satu jasa penukaran valuta asing di Jakarta, Senin (2/7/2018)./ANTARA FOTO - Puspa Perwitasari

Bisnis.com, JAKARTA – Dolar Amerika Serikat (AS) terus menunjukkan keperkasaannya pada perdagangan siang ini, Kamis (4/10/2018), setelah kuatnya sejumlah data ekonomi AS memacu lonjakan imbal hasil obligasi ke level tertingginya sejak Mei 2011.

Berdasarkan data Bloomberg, indeks dolar AS, yang melacak pergerakan greenback terhadap sejumlah mata uang utama di dunia menguat 0,32% atau 0,302 poin ke level 96,064 pada pukul 13.11 WIB.

Sebelumnya indeks dolar dibuka dengan kenaikan 0,255 poin atau 0,27% di level 95,762, setelah pada perdagangan Rabu (3/10) berakhir menguat 0,27% atau 0,255 poin di posisi 95,762, kenaikan enam hari beruntun.

Imbal hasil Treasury AS bertenor 10 tahun tetap berada di kisaran level tertingginya sejak 2011 setelah melonjak 12 bps pada Rabu (3/10), didorong laporan kenaikan dalam data Ketenagakerjaan Nasional ADP dan Institute for Supply Management (ISM).

Imbal hasil obligasi AS melonjak setelah Laporan Ketenagakerjaan Nasional ADP menunjukkan peningkatan lapangan kerja swasta sebanyak 230.000 pekerjaan pada bulan September, kenaikan terbesar sejak Februari.

Sementara itu, laporan dari Institute for Supply Management menunjukkan aktivitas sektor jasa mencapai level tertinggi dalam 21 tahun terakhir pada bulan September.

Kedua data tersebut pun meningkatkan ekspektasi untuk kenaikan suku bunga acuan Federal Reserve AS pada bulan Desember, belum lagi spekulasi laporan yang juga akan mengejutkan dari rilis data payroll pada Jumat (5/10).

“Indeks (ISM) secara signifikan di atas rata-rata dalam jangka panjang selama periode pertumbuhan dan konsisten dengan risiko kenaikan terhadap pertumbuhan,” ujar Kevin Cummins, ekonom senior AS di NatWest Markets.

”Minimal, data ini menunjukkan bahwa permintaan tenaga kerja masih sangat kuat,” tambahnya, seperti dikutip Reuters.

Gubernur bank sentral AS Federal Reserve Jerome Powell menyatakan prospek ekonomi "sangat positif" dan suku bunga mungkin naik di atas level "netral".

Prediksi penaikan suku bunga lebih lanjut oleh The Fed pada Desember kini meningkat, sementara para investor mengangkat ekspektasi tentang setinggi apa tingkat suku bunga pada akhirnya akan naik.

Kenaikan dolar AS turut ditopang pelemahan mata uang euro. Nilai tukar euro siang ini terpantau stagnan di level US$1,1478 pada pukul 13.27 WIB, setelah berakhir melemah 0,61% pada perdagangan Rabu (3/10), pelemahan hari keenam berturut-turut.

Di Asia, nilai tukar rupee India dan rupiah membukukan pelemahan yang cukup dalam, sebagian karena tekanan lonjakan biaya impor minyak.

Harga minyak diketahui telah mencapai level tertingginya dalam empat tahun di tengah fokus pasar pada sanksi AS yang akan datang terhadap Iran, mengesampingkan kenaikan mingguan dalam stok minyak mentah AS.

Posisi indeks dolar AS                                                                        

4/10/2018

(Pk. 13.11 WIB

96,064

(+0,32%)

3/10/2018

(Pk. 10.36 WIB)

95,762

(+0,27%)

2/10/2018

95,507

(+0,22%)

1/10/2018

95,298

(+0,17%)

28/9/2018

95,132

(+0,25%)

Sumber: Bloomberg

Tag : dolar as, nilai tukar rupiah
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top