Rekomendasi Obligasi: SUN Berpeluang Terkoreksi

MNC Sekuritas memperkirakan bahwa pada perdagangan hari ini, Kamis (4/10/2018) harga Surat Utang Negara berpeluang untuk kembali mengalami koreksi di tengah kenaikan imbal hasil US Treasury dan kenaikan imbal hasil surat utang regional.
Emanuel B. Caesario | 04 Oktober 2018 09:39 WIB
SURAT UTANG NEGARA

Bisnis.com, JAKARTA--MNC Sekuritas memperkirakan bahwa pada perdagangan hari ini, Kamis (4/10/2018) harga Surat Utang Negara berpeluang untuk kembali mengalami koreksi di tengah kenaikan imbal hasil US Treasury dan kenaikan imbal hasil surat utang regional.

I Made Adi Saputra Kepala Divisi Riset Fixed Income MNC Sekuritas mengatakan bahwa faktor pergerakan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika akan turut mempengaruhi pergerakan harga Surat Utang Negara pada perdagangan hari ini. 

Sementara itu, pelaku pasar akan menantikan disampaikannya data cadangan devisa bulan September 2018 yang akan disampaikan oleh Bank Indonesia pada hari Jum'at, 5 Oktober 2018 di mana angka cadangan devisa diperkirakan masih akan mengalami penurunan di tengah keluarnya aliran modal dari investor asing.

"Dengan kondisi pasar surat utang yang masih cenderung mengalami penurunan harga, maka kami masih merekomendasikan Surat Berharga Negara dengan tenor pendek dan menengah guna meminimalkan risiko fluktuasi harga di pasar sekunder," katanya dalam riset harian, Kamis (4/10/2018).

Beberapa seri pilihan yang Made sarankan di antaranya adalah sebagai berikut : FR0031, FR0053, FR0061, FR0043, FR0063, FR0046, FR0070, FR0077, FR0059 dan FR0042.

Review Perdagangan Kemarin

Berlanjutnya pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerkia mendorong terjadinya kenaikan imbal hasil Surat Utang Negara pada perdagangan Rabu, 3 Oktober 2018. 

Secara keseluruhan, kenaikan imbal hasil Surat Utang Negara yang terjadi pada perdagangan kemarin juga berdampak terhadap kenaikan imbal hasil Surat Utang Negara seri acuan, dimana untuk tenor 5 tahun tercatat mengalami kenaikan sebesar 6 bps di level 7,973%. 

Sementara itu, imbal hasil dari seri acuan dengan tenor 10 tahun dan 15 tahun masing - masing mengalami kenaikan sebesar 11 bps dan 10 bps di level 8,214% dan 8,378%. 

Pergerakan imbal hasil Surat Utang Negara yang cenderung mengalami kenaikan pada perdagangan kemarin dipengaruhi oleh faktor kembali berlanjutnya pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika seiring dengan kenaikan harga minyak dunia yang dikhawatirkan akan berdampak terhadap defisit neraca perdagangan (Trade Balance) dan neraca berjalan (Current Account). 

Kondisi tersebut mendorong investor untuk melakukan aksi ambil untung (profit taking) dengan melakukan penjualan di pasar sekunder. Hanya saja, aksi jual oleh investor pada perdagangan kemarin tidak didukung oleh volume perdagangan yang besar. 

Hal tersebut mengindikasikan bahwa investor masih berusaha mencermati kondisi pasar surat utang jelang disampaikannya beberapa data ekonomi di pekan ini.

Nilai tukar Rupiah pada perdagangan kemarin kembali ditutup melemah sebesar 32,50 pts (0,22%) di level Rp15.075,00 per dolar Amerika. Bergerak melemah sepanjang sesi perdagangan di kisaran Rp15.065,30 hingga Rp15.087,50 per dolar Amerika di tengah pergerakan nilai tukar mata uang regional yang cenderung bergerak terbatas. 

Pelemahan nilai tukar rupiah kemarin merupakan yang terendah dalam satu tahun terakhir dan juga yang terendah sejak krisis keuangan di tahun 1998. Sejak awal tahun 2018, nilai tukar rupiah telah mengalami pelemahan sebesar 11,21% terhadap dolar Amerika.

Imbal hasil US Treasury pada perdagangan kemarin ditutup dengan mengalami kenaikan, dimana untuk tenor 10 tahun ditutup naik pada level 3,187% dan tenor 30 tahun di level 3,341%. 

Secara teknikal, koreksi harga Surat Utang Negara yang terjadi dalam beberapa hari mulai berdampak terhadap beberapa indikator teknikal yang mengindikasikan adanya potensi perubahan tren pergerakan harga Surat Utang Negara dari tren kenaikan harga menjadi tren penurunan harga. 

Tag : Obligasi, Obligasi
Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top