Spekulasi Anggaran Italia Kerek Euro, Dolar AS Tergelincir

Pergerakan dolar Amerika Serikat (AS) tergelincir turun pada perdagangan pagi ini, Rabu (3/10/2018), saat nilai tukar mata uang euro bangkit dari pelemahannya.
Renat Sofie Andriani | 03 Oktober 2018 11:43 WIB
Karyawan memegang mata uang dolar AS di tempat penukaran valuta asing, Jakarta, Kamis (8/11/2017). - JIBI/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA – Pergerakan dolar Amerika Serikat (AS) tergelincir turun pada perdagangan pagi ini, Rabu (3/10/2018), saat nilai tukar mata uang euro bangkit dari pelemahannya.

Berdasarkan data Bloomberg, indeks dolar AS, yang melacak pergerakan greenback terhadap sejumlah mata uang utama di dunia melandai 0,21% atau 0,205 poin ke level 95,302 pada pukul 10.36 WIB.

Sebelumnya indeks dolar dibuka di zona merah dengan turun tipis 0,050 poin atau 0,05% di level 95,457, setelah pada perdagangan Selasa (2/10) berakhir menguat 0,22% atau 0,209 poin di posisi 95,507. Ini merupakan catatan kenaikan lima hari beruntun.

Di sisi lain, nilai tukar euro terpantau rebound dan naik 0,31% ke US$1,1584, setelah berakhir melemah 0,26% di US$1,1548 pada perdagangan Selasa (2/10), yang merupakan pelemahan hari kelima berturut-turut.

Dilansir dari Reuters, euro bangkit dari pelemahannya menyusul laporan bahwa Italia berencana untuk mengurangi defisit anggarannya pada tahun-tahun mendatang.

Surat kabar Italia Corriere della sera melaporkan bahwa pemerintah Italia berencana untuk secara bertahap mengurangi defisit anggarannya menjadi 2% dari produk domestik bruto (PDB) pada 2021.

Pekan lalu, pemerintah Italia menetapkan target defisit 2,4% dari PDB untuk tiga tahun ke depan, sehingga meresahkan pasar sekaligus mendorong kritik dari pejabat Komisi Eropa.

“Mata uang euro terangkat, setelah laporan terbaru tentang anggaran Italia tampaknya telah mendorong sedikit short covering menyusul penurunan baru-baru ini,” kata Koji Fukaya, presiden di FPG Securities, Tokyo.

Menurut Junichi Ishikawa, pakar strategi valas di IG Securities, dolar AS telah mendapatkan keuntungan dari pelemahan euro akhir-akhir ini. Namun, kenaikan suku bunga Federal Reserve AS memainkan peran yang lebih besar dalam penguatan greenback.

“Data AS yang akan dirilis kemudian seperti indeks ISM non-manufaktur dan laporan pekerjaan pada hari Jumat akan memberikan peluang untuk melihat apakah kinerja ekonomi sejalan dengan pandangan The Fed,” tambah Ishikawa.

Indeks dolar AS telah naik sekitar 1,4% sejak Rabu pekan lalu, ketika bank sentral AS tersebut menaikkan suku bunga acuannya serta memperkirakan kenaikan suku bunga lebih lanjut pada bulan Desember, tiga kali kenaikan pada tahun depan, dan satu kali pada 2020.

Posisi indeks dolar AS                                                                        

3/10/2018

(Pk. 10.36 WIB)

95,302

(-0,21%)

2/10/2018

95,507

(+0,22%)

1/10/2018

95,298

(+0,17%)

28/9/2018

95,132

(+0,25%)

27/9/2018

94,894

(+0,74%)

Sumber: Bloomberg

 

Tag : dolar as
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top