Kurs Tengah Melemah 83 Poin, Rupiah Pimpin Pelemahan di Asia

Bank Indonesia mematok kurs tengah hari ini, Selasa (2/10/2018) di Rp14.988 per dolar AS, melemah 83 poin atau 0,55% dari posisi Rp14.905 pada Senin (1/10/2018).
Renat Sofie Andriani | 02 Oktober 2018 12:39 WIB
Lembaran mata uang rupiah dan dolar AS diperlihatkan di salah satu jasa penukaran valuta asing di Jakarta, Senin (2/7/2018)./ANTARA FOTO - Puspa Perwitasari

Bisnis.com, JAKARTA – Bank Indonesia mematok kurs tengah hari ini, Selasa (2/10/2018) di Rp14.988 per dolar AS, melemah 83 poin atau 0,55% dari posisi Rp14.905 pada Senin (1/10/2018).

Kurs jual ditetapkan Rp15.063 per dolar AS, sedangkan kurs beli berada di Rp14.913 per dolar AS. Selisih antara kurs jual dan kurs beli adalah Rp150.

Di pasar spot, berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah terpantau melemah 114 poin atau 0,76% ke level Rp15.025 per dolar AS.

Mata uang Garuda sebelumnya dibuka dengan pelemahan 34 poin atau 0,23% di level Rp14.945 per dolar AS. Adapun pada perdagangan Senin (1/10/2018), rupiah berakhir terdepresiasi 8 poin atau 0,05% di posisi Rp14.911 per dolar AS.

Pelemahan rupiah siang ini adalah yang terdalam di antara mata uang lainnya di kawasan Asia. Berturut-turut menyusul pelemahan rupiah adalah won Korea Selatan dan dolar Taiwan yang masing-masing terdepresiasi 0,46% dan 0,24%.

Sementara itu, indeks dolar AS, yang melacak pergerakan greenback terhadap mata uang utama lainnya, terpantau naik 0,036 poin atau 0,04% ke level 95,334 pada pukul 11.59 WIB.

Sebelumnya indeks dolar dibuka di zona merah dengan turun tipis 0,006 poin atau 0,01% di level 95,292, setelah pada perdagangan Senin (1/10) berakhir menguat 0,17% atau 0,166 poin di posisi 95,298.

Dilansir dari Bloomberg, rupiah terjerembap menembus level Rp15.000 untuk pertama kalinya sejak 1998, sekaligus memimpin pelemahan di antara mata uang pasar negara berkembang Asia.

Para pedagang melihat pelemahan ini akibat pergerakan greenback yang lebih kuat, kenaikan imbal hasil AS, harga minyak lebih tinggi.

“Secara keseluruhan, sentimen untuk aset berisiko tetap positif, setelah mengalami pemulihan selama beberapa pekan terakhir,” kata Terence Wu, seorang ekonom di Oversea-Chinese Banking Corp.

“Namun, dampak daya tarik aset berisiko yang positif pada mata uang emerging market di Asia juga sejalan dengan harga minyak mentah yang lebih tinggi dan imbal hasil obligasi AS yang lebih kuat.”

Menurut Christopher Wong, seorang pakar strategi valas di Maybank, pasar valas emerging market Asia kemungkinan tertekan lebih lanjut pekan ini akibat penguatan dolar AS.

Sementara itu, harga minyak WTI kontrak November 2018 terpantau lanjut menguat 0,29% ke level US$75,52 per barel pada pukul 12.11 WIB hari ini, setelah ditutup melonjak hampir 3% di posisi 75,30 pada Senin (1/10).

Kurs Transaksi Bank Indonesia (Rupiah)

2 Oktober

14.988

1 Oktober

14.905

28 September

14.929

27 September

14.919

26 September

14.938

25 September

14.893

Sumber: Bank Indonesia

 

Tag : kurs tengah bi
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top