Mirae Asset Sekuritas: Harga SUN Terdorong Momentum Window Dressing

Mirae Asset Sekuritas Indonesia memperkirakan harga Surat Utang Negara atau SUN di pasar sekunder hari ini, Selasa (2/10/2018) berpotensi melemah dibandingkan dengan kemarim.
Emanuel B. Caesario | 02 Oktober 2018 09:36 WIB
Ilustrasi - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA--Mirae Asset Sekuritas Indonesia memperkirakan harga Surat Utang Negara atau SUN di pasar sekunder hari ini, Selasa (2/10/2018) berpotensi melemah dibandingkan dengan kemarim.

Dhian Karyantono, analis Fixed Income Mirae Asset Sekuritas Indonesia, mengatakan bahwa pelemahan harga SUN di pasar sekunder didorong oleh kenaikan yield US Treasury khususnya tenor 10 tahun dan proyeksi depresiasi rupiah terhadap dolar AS hari ini di tengah meningkatnya kekhawatiran terkait rancangan defisit APBN Italia.

"Namun demikian, proyeksi melemahnya harga SUN tersebut diperkirakan dibatasi oleh momen window dressing dan sentimen positif dari rendahnya inflasi September 2018," katanya dalam riset harian, Selasa (2/10/2018).

Berikut ini proyeksi rentang pergerakan harga dan imbal hasil seri-seri acuan SUN hari ini [harga (yield)]:

FR0063 (15 Mei 2023): 91,20 (7,94%) - 91,60 (7,82%)
FR0064 (15 Mei 2028): 86,50 (8,18%) - 87.50 (8,01%)
FR0065 (15 Mei 2033): 85,50 (8,36%) - 86,50 (8,23%)
FR0075 (15 Mei 2038): 89,90 (8,57%) - 90,70 (8,48%).

Sementara itu, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat diperkirakan bergerak fluktuatif masih pada kisaran Rp14.882 – Rp14.945 dengan kecenderungan melemah.

"Kami merekomendasikan jual seri-seri FR0063, FR0064, FR0065, FR0070, FR0072, FR0077, FR0078, & FR0075," katanya.

Harga SUN menguat di awal pekan. Rata-rata penguatan harga SUN untuk kategori tenor pendek mencapai 22,87 bps sementara untuk kategori tenor menengah dan panjang mengalami rata-rata kenaikan harga masing-masing sebesar 114,11 bps dan 275,23 bps.

Dengan demikian, yield SUN secara umum menurun di mana khusus benchmark 10 tahun turun ke level 7,96% dibandingkan dengan penutupan akhir pekan lalu.

Kenaikan harga SUN di pasar sekunder pada perdagangan terakhir cenderung anomali di tengah kenaikan yield US Treasury khususnya tenor 10 tahun dan depresiasi rupiah terhadap dolar AS yang kemungkinan didorong oleh adanya momen window dressing oleh investor dan sentimen positif dari rilis inflasi September 2018 yang dirilis lebih rendah di level 2,88% (YoY) dibandingkan dengan konsensus pasar di level 3,06% (YoY).

Tag : Obligasi
Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top