Peluang Masuk Patimban, IPCC Masih Tunggu Titah Pemerintah

Emiten penyedia jasa terminal kendaraan PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk. masih menunggu kebijakan pemerintah untuk pengelolaan Pelabuhan Patimban. Entitas anak Pelindo II tersebut percaya diri untuk memfasilitasi ekspor kendaraan melalui Patimban.
Dara Aziliya | 30 September 2018 14:58 WIB
Direktur Utama PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk Chiefy Adi Kusmargono (dari kanan) bersama Direktur Sugeng Mulyadi, Direktur Arif Isnawan, dan Direktur PT Bursa Efek Indonesia IGD N. Yetna Setia mengamati nilai perdagangan pada monitor pencatatan perdana saham perseroan, di Jakarta, Senin (9/7/2018). - JIBI/Endang Muchtar

Bisnis.com, JAKARTA – Emiten penyedia jasa terminal kendaraan PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk. masih menunggu kebijakan pemerintah untuk pengelolaan Pelabuhan Patimban. Entitas anak Pelindo II tersebut percaya diri untuk memfasilitasi ekspor kendaraan melalui Patimban.

Dengan pertumbuhan ekspor kendaraan dalam 10 tahun terakhir telah mencapai CAGR 15% dan diprediksi dapat melampaui 30% dalam beberapa tahun mendatang, Indonesia Kendaraan Terminal menilai Patimban dapat menjadi ceruk pendapatan baru yang amat potensial.

Direktur Utama Indonesia Kendaraan Terminal Chiefy Adi Kusmargono mengatakan IKT dapat mendesain Patimban menjadi pelabuhan ekspor kendaraan komplementer dari kendaraan terminal perseroan yang saat ini ada di Tanjung Priok dan beberapa terminal di provinsi lain.

“Namun pelabuhan di sana itu kan cukup jauh, kalau dikirimkan [kendaraan untuk diekspor] dari pabrik-pabrik yang ada di Sunter atau Pulogadung, harga logistik daratnya akan sangat tinggi. Jadi meski terminalnya murah, land transportation-nya akan tetap tinggi,” ujar Chiefy di Jakarta pekan lalu.

Chiefy menyampaikan beberapa pelanggan primer Indonesia Kendaraan Terminal memprediksi pertumbuhan ekspor pada 2018—2019 dapat mencapai 35%—45%, seiring dengan peningkatan produksi di pabrikan kendaran.

Untuk itu, dia menyebut emiten dengan sandi IPCC tersebut melakukan penambahan fasilitas ekspor—impor kendaran seperti lapangan penumpukan dan lokasi parkir. Pada 2022, IPCC berambisi menjadi terminal kendaraan terbesar kelima dunia dengan luasan konsesi mencapai 89 hektare.

Kementerian Perhubungan sebelumnya menyebut akan melakukan lelang operator Pelabuhan Patimban pada Oktober 2018. Pemerintah membuka peluang pengelolaan yang sama baik bagi swasta, maupun Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Salah satu yang disebut-sebut telah menyatakan minat adalah entitas induk Indonesia Kendaraan Terminal yaitu PT Pelindo II. Sebelumnya, santer terdengar konglomerasi otomotif PT Astra Internasional Tbk. juga mengincar untuk menjadi operator pelabuhan yang pembangunannya didanai Jepang tersebut. Emiten yang juga disebut-sebut membidik Patimban yaitu PT Samudera Indonesia Tbk.

Adapun, setelah melantai di bursa saham pada 9 Juli 2018, IPCC kian gencar melakukan ekspansi. Perseroan berhasil mengantongi dana sebesr Rp920 miliar sehingga leluasa membidik pasar dalam dan luar negeri.

Tahun ini, IPCC menargetkan perolehan laba bersih dapat mencapai Rp220 miliar atau tumbuh 69% yoy. Di tahun ini IPCC mendapat tambahan dari pengalihan throughput kendaraan yang sebelumnya dikelola oleh Port of Tanjung Priok (afiliasi) sebagai bagian dari kebijakan spesialisasi (zonasi) bisnis yang dilakukan Pelindo II. 

Segmen ekspor-impor mendominasi pendapatan IPCC, namun perusahaan terus mengoptimalkan potensi segmen domestik yang dinilai masih besar kedepan seperti Transhipment Roro Services dan kerjasama operasi dengan pelabuhan domestik yang dimiliki Pelindo I, III dan IV.

Tag : kinerja emiten, indonesia kendaraan terminal
Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top