Suku Bunga Acuan Naik, Rupiah Malah Tergelincir

Penaikan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia (BI) belum mampu mengangkat penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada akhir perdagangan hari ini, Kamis (27/9/2018).
Renat Sofie Andriani | 27 September 2018 19:01 WIB
Petugas jasa penukaran valuta asing memeriksa lembaran mata uang rupiah dan dolar AS di Jakarta - ANTARA/Puspa Perwitasari

Bisnis.com, JAKARTA — Penaikan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia (BI) belum mampu mengangkat penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada akhir perdagangan hari ini, Kamis (27/9/2018).

Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup melemah tipis 12 poin atau 0,08% di level Rp14.923 per dolar AS.

Adapun pada perdagangan Rabu (26/9), rupiah berhasil rebound dan berakhir terapresiasi 7 poin di posisi 14.911.

Padahal, mata uang Garuda sempat mencuri momentum penguatannya kembali hingga mencapai kisaran level 14.880 setelah dibuka terdepresiasi 10 poin di Rp14.921 per dolar AS pagi tadi.

Namun, menjelang penutupan perdagangan hari ini rupiah tergelincir dan kembali melemah. Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah bergerak pada level Rp14.888 – Rp14.928 per dolar AS.

Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 26-27 September 2018 memutuskan untuk menaikkan BI 7-day Reverse Repo Rate 25 bps menjadi level 5,75%.

BI menaikkan suku bunga acuan untuk kelima kalinya sejak Mei seiring dengan upaya intensifnya untuk menjaga nilai tukar rupiah dari dampak pergolakan pada emerging market.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan keputusan tersebut konsisten dengan upaya untuk menurunkan defisit transaksi berjalan ke batas yang aman serta mempertahankan daya tarik pasar keuangan domestik sehingga dapat memperkuat ketahanan eksternal Indonesia di tengah ketidakpastian yang tinggi.

“BI juga akan terus mengawasi perkembangan di defisit transaksi berjalan, nilai tukar dan stabilitas sistem keuangan serta inflasi untuk menjaga stabilitas makro ekonomi dan sistem keuangan,” tambah Perry, dalam paparan RDG.

Sebelumnya, pada pertemuan kebijakan moneter yang berakhir Rabu (26/9), para pembuat kebijakan bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve mengerek suku bunga acuannya (Fed Funds Rate/FFR) sebesar 25 basis poin (bps) ke kisaran 2%-2,25%.

The Fed juga mempertahankan rencana untuk terus memperketat kebijakan moneter di tengah optimisme atas perekonomian AS, dengan memperkirakan kenaikan suku bunga lebih lanjut pada bulan Desember, tiga kali kenaikan pada tahun depan, dan satu kali pada 2020.

“Mungkin tidak ada pilihan lain bagi Bank Indonesia selain untuk menaikkan suku bunga acuannya demi mendukung nilai tukar rupiah, mengingat bagaimana The Fed menaikkan suku bunganya,” kata Tsutomu Soma, general manager fixed income trading di SBI Securities, seperti dilansir dari Bloomberg.

“BI mungkin terpaksa menaikkan suku bunganya satu kali lagi sebelum akhir tahun ini, jika bank sentral AS kembali mengambil langkah [penaikan],” tambah Soma.

Beberapa mata uang di Asia ikut terdepresiasi petang ini, di antaranya yen Jepang dan dolar Hong Kong yang masing-masing melemah 0,05% dan 0,04% pada pukul 18.07 WIB. Di sisi lain, won Korea Selatan dan dolar Taiwan memimpin apresiasi di antara mata uang lainnya.

Sementara itu, indeks dolar AS yang melacak kekuatan greenback terhadap sejumlah mata uang utama terpantau menguat 0,278 poin atau 0,30% ke level 94,471 pada pukul 17.57 WIB.

Indeks dolar sebelumnya dibuka dengan kenaikan 0,070 atau 0,07% poin di level 94,263, setelah berakhir naik 0,060 poin di posisi 94,193 pada Rabu (26/9).

Tag : Gonjang Ganjing Rupiah
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top