Harga Minyak Tergelincir Usai Tembus Level Tertinggi

Harga minyak mentah dunia tergelincir dari lonjakannya menyusul laporan industri yang menunjukkan kenaikan tak terduga dalam persediaan minyak mentah Amerika Serikat (AS).
Renat Sofie Andriani | 26 September 2018 06:41 WIB
Harga Minyak WTI - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak mentah dunia tergelincir dari lonjakannya menyusul laporan industri yang menunjukkan kenaikan tak terduga dalam persediaan minyak mentah Amerika Serikat (AS).

Harga minyak Brent untuk pengiriman November tergelincir 37 sen ke level US$81,57 per barel pada pukul 4.59 sore waktu New York di ICE Futures Europe exchange. Padahal, minyak mentah acuan global ini mampu menetap di level US$81,87 pada akhir perdagangan Selasa (25/9/2018), level tertinggi sejak November 2014.

Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak November juga tergelincir dan diperdagangkan di level US$72,06 per barel pada pukul 4.46 sore waktu setempat, setelah sebelumnya ditutup di level US$72,28 per barel di New York Mercantile Exchange.

Melansir Bloomberg, kontrak berjangka minyak di London dan New York tergelincir setelah American Petroleum Institute (API) dikabarkan melaporkan kenaikan persediaan minyak AS sebesar 2,9 juta barel pekan lalu.

Ini akan menjadi kenaikan pertama sejak awal Agustus jika unit data energi pemerintah federal mengonfirmasikannya pada hari ini, Rabu (26/9/2018). Di antara para analis sendiri terdapat konsensus untuk penurunan sebesar 1,5 juta.

API juga dikabarkan melaporkan kenaikan pasokan bensin sebesar 949.000 barel pekan lalu, sedangkan stok di pusat pipa utama di Cushing, Oklahoma, meningkat 260.000 barel.

Sementara itu, Bloomberg memperkirakan Energy Information Administration (EIA) hari ini akan melaporkan penurunan sebesar 150.000 barel untuk pekan lalu.

“Kita sekarang di masa ketika persediaan minyak mentah seringkali turun dan jika itu terjadi, mungkin butuh sedikit tekanan dari lompatan besar yang dibukukan kemarin dalam harga,” ujar James Williams, Presiden perusahaan riset energi WTRG Economics, seperti dikutip Bloomberg.

Ketika musim mengemudi selama musim panas berakhir di Amerika Utara, penyuling biasanya menutup unit-unit utama untuk maintenance. Proses ini mengurangi permintaan sekaligus memungkinkan menumpuknya minyak mentah dalam tangki-tangki penyimpanan.

Harga minyak di London dan New York sebelumnya menguat setelah Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya pada akhir pekan kemarin mengindikasikan untuk menyesuaikan output dengan permintaan serta mengabaikan ancaman terhadap pasokan Iran.

Hal ini dilakukan meskipun kartel produsen minyak tersebut mendapat tekanan dari Presiden AS Donald Trump untuk melepaskan lebih banyak pasokan dan menurunkan harga.

Tag : Harga Minyak
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top