Pertikaian Dagang AS-China Tahan Investor, Bursa Asia Lesu

Bursa saham Asia bergerak lesu pada perdagangan pagi ini, Selasa (25/9/2018), saat putaran tarif terbaru antara Amerika Serikat (AS) dan China membangkitkan kembali kekhawatiran tentang dampak konflik perdagangan terhadap pertumbuhan global.
Renat Sofie Andriani | 25 September 2018 08:59 WIB
bursa asia

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Asia bergerak lesu pada perdagangan pagi ini, Selasa (25/9/2018), saat putaran tarif terbaru antara Amerika Serikat (AS) dan China membangkitkan kembali kekhawatiran tentang dampak konflik perdagangan terhadap pertumbuhan global.

Indeks MSCI Asia Pacific, selain Jepang, turun 0,1%, dengan bursa saham Australia melandai 0,08%. Di sisi lain, indeks Nikkei Jepang mampu naik 0,2%.

Pemerintah China dan Amerika Serikat memberlakukan putaran tarif baru terhadap produk-produk satu sama lain pada Senin (24/9), sehingga mengintensifkan pertikaian perdagangan yang diperkirakan akan memukul pertumbuhan ekonomi global.

Pasar keuangan global telah dilanda kekhawatiran dalam beberapa bulan terakhir bahwa dampak perang dagang China-AS akan menyurutkan investasi dan perdagangan sekaligus berdampak pada pertumbuhan dunia.

Pergerakan indeks S&P 500 dan Dow Jones pun berakhir lebih rendah di bursa Wall Street Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin, masing-masing turun sekitar 0,7% dan 0,3%, setelah putaran baru dari tarif perdagangan AS-China mulai diberlakukan.

Sektor industri, yang telah terbebani isu perang perdagangan yang berlarut-larut, menjadi salah satu hambatan terbesar pada S&P dengan penurunan 1,3%

Latar belakang ketegangan tersebut menambah kehati-hatian pasar menjelang pertemuan kebijakan bank sentral AS Federal Reserve pekan ini yang diperkirakan akan memutuskan kenaikan suku bunga.

“Terlihat situasi penghindaran risiko secara umum, pelaku pasar menjadi sedikit lebih berhati-hati,” ujar Chris Zaccarelli, chief investment officer di Independent Advisor Alliance, North Carolina, seperti dikutip Reuters.

Selain itu ada pula ketidakpastian atas masa depan Wakil Jaksa Agung AS Rod Rosenstein. Rosenstein diketahui mengawasi penyelidikan penasihat khusus atas peran Rusia dalam pemilihan presiden tahun 2016.

“Pelemahan Wall Street di tengah kekhawatiran terbaru dalam konflik perdagangan adalah faktor negatif untuk pasar ekuitas. Beberapa pasar, seperti Jepang, memiliki faktor positif untuk kembali bangkit didukung pelemahan yen, tetapi dukungan tersebut dapat tiada jika pasar China dilanda volatilitas,” kata Masahiro Ichikawa, pakar strategi senior di Sumitomo Mitsui Asset Management, Tokyo.

Tag : bursa asia, perang dagang AS vs China
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top