Harga Minyak Brent Melonjak, Diprediksi Bakal Tembus US$100 Per Barel

Harga minyak mentah diprediksi akan kembali menembus level US$100 per barel, untuk pertama kalinya sejak 2014, di tengah upaya OPEC dan sekutunya untuk mengompensasi sanksi Amerika Serikat (AS) terhadap ekspor Iran.
Renat Sofie Andriani | 24 September 2018 19:29 WIB
Pengolahan minyak mentah/ilustrasi - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak mentah diprediksi akan kembali menembus level US$100 per barel, untuk pertama kalinya sejak 2014, di tengah upaya OPEC dan sekutunya untuk mengompensasi sanksi Amerika Serikat (AS) terhadap ekspor Iran.

Harga minyak mentah Brent melonjak ke level tertingginya dalam hampir empat tahun pada perdagangan hari ini, Senin (24/9/2018). Lonjakan harga seperti inilah yang diupayakan untuk dicegah oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dengan menekan Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya untuk meningkatkan produksi.

Namun, kartel produsen minyak tersebut, setelah menggelar pertemuan di Aljazair akhir pekan kemarin, akhirnya menunjukkan tanda bahwa mereka akan mengabaikan permintaan AS untuk menekan harga minyak mentah secara cepat.

Keengganan OPEC, dikombinasikan dengan tanda-tanda akselerasi penurunan pasokan dari Iran, pun menciptakan suasana bullish dalam pertemuan tahunan pelaku industri minyak di Singapura pada hari ini.

“Pasar tidak memiliki respons pasokan untuk potensi kehilangan 2 juta barel per hari pada kuartal keempat,” tuturco-founder Mercuria Energy Group Ltd. Daniel Jaeggi dalam pidato di S&P Global Platts Asia Pacific Petroleum Conference atau APPEC.

“Dalam pandangan saya, hal tersebut memungkinkan untuk membawa lonjakan harga di atas US$100 per barel,” lanjutnya, seperti dikutip Bloomberg.

Ketika Trump pada Mei mengumumkan rencana untuk menerapkan kembali sanksi terhadap ekspor minyak Iran, pasar memperkirakan penurunan suplai minyak sekitar 300.000 hingga 700.000 barel per hari, jelas co-head Trafigura Group Ben Luckock.

Namun, konsensus saat ini telah melihat penurunan sebesar 1,5 juta barel per hari karena AS dinilai “sangat serius” tentang langkah-langkahnya.

“Produksi Iran akan menjadi jauh lebih sedikit dari sebelumnya, dan mungkin lebih rendah dari yang diharapkan kebanyakan orang ketika sanksi diumumkan,” kata Luckock pada acara APPEC. Menurutnya, harga minyak akan menyentuh level US$90 sekitar Natal dan US$100 pada awal 2019.

Berdasarkan data Bloomberg, harga minyak mentah Brent, acuan untuk lebih dari separuh minyak global, untuk pengiriman November 2018 hari ini melonjak 2,44% ke level US$80,72 per barel pada pukul 17.35 WIB, setelah sempat menyentuh level 80,94.

OPEC tidak hanya bergulat dengan sanksi AS yang mengurangi suplai minyak Iran. Produksi minyak di Venezuela juga merosot akibat krisis ekonomi. Sumber pasokan global baru yang terbesar, minyak shale AS, juga mengalami peningkatan penurunan karena kemacetan saluran pipa dan isu tenaga kerja yang menghambat pertumbuhan.

“Harga minyak di level US$100 mungkin tidak akan berkelanjutan dalam jangka panjang karena prospek permintaan dapat terancam perang perdagangan AS-China dan suplai, terutama dari AS, terlihat cukup dalam 12 bulan ke depan,” kata Janet Kong, kepala perdagangan BP Plc di Asia.

Satu dekade yang lalu, harga minyak mentah Brent melonjak menjadi hampir US$150 per barel, sebelum dalam beberapa bulan kemudian terjungkal karena harga bahan bakar yang tinggi dan krisis keuangan global memicu penurunan permintaan.

Kali ini, memanasnya perang dagang antara AS dan China yang mengancam pertumbuhan ekonomi di Asia beserta gejolak di emerging market dapat memperkuat dampak dari harga yang lebih tinggi terhadap pertumbuhan permintaan global.

Tag : Harga Minyak
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top