Perang Dagang AS-China Tekan Rupiah & Mata Uang di Asia

Nilai tukar rupiah melemah bersama mayoritas mata uang di Asia pada perdagangan hari ini, Senin (24/9/2018), di tengah memanasnya perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China.
Renat Sofie Andriani | 24 September 2018 17:57 WIB
Petugas jasa penukaran valuta asing memeriksa lembaran mata uang rupiah dan dollar AS di Jakarta, Senin (2/7/2018). - ANTARA/Puspa Perwitasari

Bisnis.com, JAKARTA — Nilai tukar rupiah melemah bersama mayoritas mata uang di Asia pada perdagangan hari ini, Senin (24/9/2018), di tengah memanasnya perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China.

Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup melemah 49 poin atau 0,33% di level Rp14.866 per dolar AS, pelemahan pertama dalam tiga hari perdagangan.

Pada perdagangan terakhir pekan lalu, Jumat (21/9), mata uang Garuda masih mampu melanjutkan penguatannya dengan ditutup terapresiasi 32 poin di level 14.817. Rupiah mulai tergelincir dari penguatannya ketika dibuka terdepresiasi 29 poin atau 0,20% di posisi 14.846 pagi tadi.

Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah bergerak pada level Rp14.846 – Rp14.879 per dolar AS.

Mata uang lainnya di Asia mayoritas ikut melemah, dipimpin rupee India yang melemah 0,55% pada pukul 17.15 WIB.

Di sisi lain, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan kurs dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama terpantau turun 0,15% atau 0,143 poin ke level 94,077 pada pukul 17.04 WIB.

Sebelumnya indeks dolar dibuka dengan kenaikan tipis 0,010 poin atau 0,01% di level 94,230, setelah berakhir menguat 0,33% atau 0,308 poin di posisi 94,220 pada perdagangan Jumat (21/9).

Pemerintahan Presiden AS Donald Trump efektif memberlakukan tarif terhadap barang-barang asal China senilai US$200 miliar pada hari ini. China telah menyatakan siap membalasnya dengan mengenakan tarif pada barang-barang asal AS senilai US$60 miliar.

Padahal, Trump mengancam akan melemparkan tarif baru terhadap impor tambahan dari China senilai US$267 miliar apabila Tiongkok melakukan retaliasi. Jika Trump serius dengan ancamannya itu, tarif AS akan mencakup semua barang yang diimpornya dari China tahun lalu.

Sementara itu, pemerintah China menegaskan bahwa pembicaraan untuk menyelesaikan kebuntuan atas perdagangan dengan Amerika Serikat (AS) tidak dapat terjadi selama Presiden Donald Trump terus mengancam akan memberlakukan tarif lebih lanjut.

“Mengingat tidak adanya pembicaraan perdagangan, investor akan mengawasi apa yang terjadi pascapenerapan tarif dan terutama apakah AS akan bergerak ke fase berikutnya, yakni tarif terhadap barang-barang China senilai US$267 miliar,” ujar Dushyant Padmanabhan, pakar strategi mata uang di Nomura, seperti dikutip dari Bloomberg.

Khoon Goh, kepala riset di Australia and New Zealand Banking Group Ltd., mengatakan tarif AS terhadap impor China berpotensi untuk meningkatkan inflasi AS. Oleh karenanya, reaksi bank sentral AS Federal Reserve atas hal ini akan menjadi penting.

“Dengan imbal hasil obligasi AS bertenor 10 tahun bertahan di atas 3,05% dan minyak mentah Brent melampaui level USS$80 per barel, mata uang dengan defisit transaksi berjalan akan tetap rentan,” tambah Goh.

Harga minyak Brent kontrak November 2018 petang ini terpantau melonjak 2,44% atau 1,92 poin k level US$80,72 per barel pukul 17.35 WIB.

Menurut JPMorgan Chase, Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin untuk membantu menghadapi penurunan pada aset-aset Indonesia ketika menggelar pertemuan kebijakan pada Kamis pekan ini.

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top