IHSG & Rupiah Terseret Perang Dagang AS-China

Memanasnya perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China kembali menekan pergerakan nilai tukar rupiah bersama Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Renat Sofie Andriani | 24 September 2018 17:20 WIB
Pelajar mengamati monitor pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis (13/9/2018). - ANTARA/Sigid Kurniawan

Bisnis.com, JAKARTA — Memanasnya perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China kembali menekan pergerakan nilai tukar rupiah bersama Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Pada perdagangan hari ini, Senin (24/9/2018), IHSG ditutup melemah 1,27% atau 75,52 poin di level 5.882,22, mematahkan reli penguatan yang mampu dibukukan tiga sesi perdagangan berturut-turut sebelumnya.

Padahal, indeks sempat menyentuh level 5.958 setelah melanjutkan kenaikannya dengan dibuka naik tipis 0,01% atau 0,82 poin. Pada perdagangan Jumat (21/9), IHSG masih berakhir menguat 0,45% atau 26,48 poin di posisi 5.957,74, seiring dengan meredanya gejolak di emerging market akibat perang dagang AS-China.

Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG bergerak pada level 5.876,65 – 5.958,57. Sektor konsumer (-1,59%), tambang (-1,56%), dan infrastruktur (-1,53%) memimpin pelemahan seluruh sembilan sektor pada IHSG.

Dari 602 saham yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI), sebanyak 112 saham menguat, 268 saham melemah, dan 222 saham stagnan.

Saham PT HM Sampoerna Tbk. (HMSP) yang turun 3,85% menjadi penekan utama terhadap pelemahan IHSG, diikuti saham BBRI (-3,53%), TLKM (-1,67%), dan BBNI (-3,59%).

Sejalan dengan IHSG, indeks Bisnis-27 berakhir melemah 1,74% atau 9,09 poin di level 514,04, mematahkan penguatan tiga sesi perdagangan berturut-turut sebelumnya.

Sebelumnya indeks Bisnis-27 dibuka turun tipis 0,01% atau 0,04 poin di posisi 523,10, setelah ditutup naik 0,50% atau 2,63 poin di level 523,14.

Sementara itu, berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup melemah 49 poin atau 0,33% di level Rp14.866 per dolar AS. Pada perdagangan terakhir pekan lalu, Jumat (21/9), mata uang Garuda masih mampu melanjutkan penguatannya dengan ditutup terapresiasi 32 poin di level 14.817.

Rupiah melemah untuk pertama kalinya dalam tiga hari perdagangan saat memburuknya perang dagang antara AS dan China mengurangi permintaan untuk aset-aset pasar negara berkembang (emerging market).

Pemerintahan Presiden AS Donald Trump efektif memberlakukan tarif terhadap barang-barang asal China senilai US$200 miliar pada hari ini. China telah menyatakan siap membalasnya dengan mengenakan tarif pada barang-barang asal AS senilai US$60 miliar.

“Tekanan pada emerging market akan bertahan, saat tensi perdagangan AS-China terus menggelora,” kata Khoon Goh, kepala riset di Australia and New Zealand Banking Group Ltd. “Tarif AS terhadap impor China berpotensi untuk meningkatkan inflasi AS dan bagaimana reaksi the Fed atasnya akan menjadi penting.”

Menurut JPMorgan Chase, Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin untuk membantu menghadapi penurunan pada aset-aset Indonesia ketika menggelar pertemuan kebijakan pada Kamis pekan ini.

Indeks saham lainnya di Asia Tenggara bergerak variatif sore ini dengan indeks FTSE Straits Time Singapura (+0,06%), indeks SE Thailand (-0,04%), indeks FTSE Malay KLCI (-0,58%), dan indeks PSEi Filipina (+0,69%).

Secara keseluruhan, indeks MSCI Asia selain Jepang melorot 1,1% pada pukul 4.26 sore waktu Hong Kong. Indeks saham acuan Hong Kong, yang tetap menjadi barometer untuk sentimen tensi perdagangan saat aktivitas perdagangan di China ditiadakan karena libur, membukukan penurunan terbesar di Asia.

Saham-saham penekan IHSG:

 Kode

(%)

HMSP

-3,85

BBRI

-3,53

TLKM

-1,67

BBNI

-3,59

Saham-saham pendorong IHSG:

Kode

(%)

BBCA

+0,95

TOPS

+12,33

INAF

+24,84

NIKL

+24,67

Sumber: Bloomberg

Tag : IHSG, Gonjang Ganjing Rupiah
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top