Trik Tetap Cuan di Tengah Fluktuasi Harga Saham Komoditas

Investor agar lebih berhati-hati dalam menentukan keputusan investasi jangka menengah dan panjang karena kondisi pasar masih berpeluang bearish menanti tahun pemilu 2019 terlepas dari sentimen global yang terus mengkhawatirkan.
Fajar Sidik | 21 September 2018 10:54 WIB
Petani memindahkan kelapa sawit hasil panen ke atas truk di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Rabu (4/4/2018). - JIBI/Rachman

Bisnis.com, JAKARTA - Sejumlah saham berbasis komoditas, seperti perkebunan dan produsen sawit, dalam kurun waktu satu bulan terakhir melejit. Tak heran, pundi-pundi kantong pengoleksi saham komoditas kian gemuk.

Head of Research Reliance Sekuritas, Lanjar Nafi menjelaskan saham-saham produsen minyak kelapa sawit pada bulan lalu bergerak melejit di mana pergerakan 1 bulan pada Agustus mayoritas naik signifikan di antarnya AALI (+24.1%), LSIP (+38.8%), TBLA (+30.90%), SIMP (+5.6%)dan SSMS (+5.3%). 

Ini terjadi karena imbas optimisme awal rencana dari kebijakan pemerintah mengenai kebijakan pencampuran 20% minyak sawit ke BBM jenis solar yang akan berlaku pada solar subsidi dan solar non-subsidi pada 1 September 2018.  Di mana pemerintah melakukan penghematan devisa dalam impor minyak dengan target US$2.3 Miliar hingga akhir tahun. 

“Sehingga investor berspekulasi kebijakan ini akan menambah permintaan dan konsumsi kelapa sawit dalam negeri yang akan berpengaruh pada kenaikan harga CPO di dalam negeri dan menguntungkan para produsen CPO,” ujar Lanjar dalam Siaran Pers, Jumat (21/9/2018).

Apakah di tengah tren kenaikan itu, saham komoditas layak dikoleksi? Lanjar tetap mewanti-wanti, karena setelah diberlakukannya kebijakan B20, ternyata terdapat berbagai kendala dalam sistem pengangkutan kapal dan distribusi hingga pro dan kontra terhadap mesin mobil solar yang diklaim dengan adanya 20% campuran CPO akan memperpendek umur filter bahan bakar. 

“Hal tersebut yang mendasari alasan investor untuk melakukan aksi profit taking pada bulan ini setelah pada Agustus menguat signifikan,” jelasnya. 

Secara historis, Lanjar mengungkapkan trend bearish dengan kondisi terkoreksi masih cukup membayangi saham-saham produsen CPO dalam negeri.

Hal itu, terlepas dari sentimen dalam negeri mengenai kebijakan pemerintah, nyatanya harga CPO dunia sendiri saat ini bergerak bearish hingga level terendah tahun 2018 di mana pada bursa berjangka kuala lumpur tercatat 2.176 ringgit/ton pada 19 september 2018 dengan return year to date -13%. 

Dia memprediksi akibat sentimen dari ketegangan perdagangan Tiongkok dan Produksi minyak kelapa sawit yang lebih banyak dari perkiraan, berpotensi oversupply sehingga akan mengalami permintaan ekspor minyak kelapa sawit yang berlebihan.

Ke depan, pergerakan harga saham komoditas, akan sangat dipengaruhi oleh implementasi kebijakan B20 pemerintah dalam fase distribusi jika terdapat perbaikan.

Selagi menunggu implementasi kebijakan B20 yang sempurna, pergerakan kinerja saham komoditas CPO ini akan kembali berkiblat pada polemik produksi CPO, aktifitas permintaan impor dan ekspor, hingga pengaruh terhadap harganya sendiri.

Untuk itu, Lajar pun mewanti-wanti, agar investor lebih berhati-hati dalam menentukan keputusan investasi jangka menengah dan panjang karena kondisi pasar masih berpeluang bearish menanti tahun pemilu 2019 terlepas dari sentimen global yang terus mengkhawatirkan. 

Menurutnya, sangat disarankan untuk melakukan trading jangka pendek dengan terus mengupdate informasi, disiplin membatasi resiko dan terus memperhatikan pergerakan harga saham.

“Untuk investor jangka pendek akan selalu ada peluang disaat market mengalami sell off besar-besaran dengan teknikal rebound. untuk investor jangka menengah hingga panjang cukup riskan untuk buy on hold jangka panjang disaat kondisi pasar sedangan mengalami trend bearish,” jelasnya.

Dari analisa riset Reliance Sekuritas, situasi politik jelang Pemilu 2019, tidak begitu berpengaruh signifikan terhadap saham berbasis komoditas. Hanya saja pengaruh dari tingkat kepercayaan investor pada instrumen saham yang akan bergejolak menghadapi tahun pemilu 2019.

Tag : rekomendasi saham
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top