ATURAN IPO: OJK Tampung Masukan tentang Porsi Penjatahan Investor Ritel

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan mengakomodasi keinginan para underwriter atau penjamin emisi terkait besaran porsi penjatahan untuk investor ritel dalam penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO).
Tegar Arief | 19 September 2018 01:40 WIB
Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan (kanan) berbincang dengan Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hoesen (tengah), dan Kepala OJK Perwakilan Jawa Barat Joko Sarwono di selasela pembukaan perdagangan saham di Jakarta, Selasa (27/2). - JIBI/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan mengakomodasi keinginan para underwriter atau penjamin emisi terkait besaran porsi penjatahan untuk investor ritel dalam penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO).

Langkah itu dilakukan oleh OJK setelah meminta masukan kepada para pelaku pasar modal, termasuk investor ritel. Rencananya, persentase penjatahan akan dibuat fleksibel atau dengan kata lain tidak statis.

"Underwriter beberapa minta porsi ritel kecil, sedangkan investor ritel maunya besar jadi nanti akan fleksibel," kata Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hoesen di Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (18/9/2018).

Dalam draf rumusan yang diperoleh Bisnis.com, investor yang berpartisipasi dalam bookbuilding akan diberikan porsi penjatahan lebih. Dalam rumusannya, porsi yang ditawarkan oleh OJK yakni 2:1. Sementara itu, penjatahan terlebih dahulu untuk pesanan paling banyak 10 lot.

Persentase penjatahan paling tinggi adalah 12,5% untuk nilai penawaran umum kurang dari sama dengan Rp250 miliar. Adapun besaran minimal adalah 2,5% untuk nilai penawaran lebih dari Rp2,5 triliun.

Namun Hoesen masih belum bersedia untuk menyebutkan angka yang akan diadopsi sehingga memuaskan semua pihak.

"Masih kami rumuskan, dan sedang pengumpulan masukan dulu, ini angkanya masih belum final," ujarnya.

Asosiasi Perusahaan Efek Indonesia (APEI) sebelumnya merasa keberatan dengan angka yang ditawarkan OJK tersebut. Komite Ketua Umum APEI Octavianus Budiyanto mengatakan angka yang ideal untuk investor ritel sebesar 5%.

Pada dasarnya, APEI setuju jika besaran porsi penjatahan itu disesuaikan dengan nilai IPO. Namun angka 12,5% dianggap terlalu besar. Kata Ocky, angka ideal ada di kisaran 2,5%-5% untuk investor ritel.

Nantinya, ketentuan mengenai porsi penjatahan itu akan dimuat dalam aturan tentang electronic book building. Di sisi lain, Bursa Efek Indonesia (BEI) akan memerinci kategori investor ritel. Dalam kajiannya, bursa berencana untuk menentukan plafon atau batas maksimal investasi bagi ritel.

Rumusan ini dibahas untuk menghindari adanya pembelian investor ritel hanya pada satu atau dua orang tertentu, karena memiliki dana dalam jumlah besar. Akibatnya, semangat untuk meningkatkan jumlah investor ritel terabaikan.

"Itu skema yang kami simulasikan, kira-kira seperti apa. Ini masih dalam pembahasan juga," kata Direktur Penilaian Perusahaan BEI Nyoman Yetna.

Dia menambahkan, pengaturan secara rinci ini ditujukan untuk meningkatkan kenyamanan bagi perusahaan tercatat yang sahamnya dimiliki oleh investor ritel. Sebab selama ini, investor ritel sering diabaikan karena dianggap tidak aman.

"Selama ini kalau investornya institusi dianggap lebih aman dan meyakinkan. Tapi kami terus membahas bagaimana agar ritel tetap ada porsi yang ideal dengan skema yang juga tepat," ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ipo, ojk

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top