Walaupun Kupon Tinggi, Penerbitan Obligasi Korporasi Masih Marak

Tingginya biaya penerbitan alias cost of fund tidak menghalangi perusahaan untuk menghimpun pendanaan melalui penerbitan surat berharga atau obligasi.
Tegar Arief | 18 September 2018 01:18 WIB
Pelajar mengamati monitor pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis (13/9/2018). - ANTARA/Sigid Kurniawan

Bisnis.com, JAKARTA - Tingginya biaya penerbitan alias cost of fund tidak menghalangi perusahaan untuk menghimpun pendanaan melalui penerbitan surat berharga atau obligasi.

Hingga saat ini, setidaknya sebanyak sembilan perusahaan berencana untuk menerbitkan obligasi. Dari data Bursa Efek Indonesia (BEI), kesembilan perusahaan itu akan menerbitkan sebanyak 12 emisi, di mana total nilai emisi tercatat mencapai Rp17,85 triliun.

Obligasi dengan nilai emisi tertinggi diterbitkan oleh dua perusahaan perbankan nasional, yakni PT Bank Mayapada Internasional Tbk. dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk., yang mana masing-masing senilai Rp3 triliun.

Kepala Divisi Riset Fixed Income MNC Sekuritas I Made Adi Saputra menilai, biaya yang saat ini berlaku terbilang masih cukup rendah, dibandingkan dengan dua hingga tahun yang lalu.

"Secara year to date memang kelihatan mengalami kenaikan. Tapi kalau dibandingkan dengan kemarin-kemarin masih lebih rendah. Apalagi saat dibandingkan perusahaan itu menerbitkan obligasi tiga tahun lalu," kata dia saat dihubungi Bisnis.com, Senin (17/9/2018).

Dia menambahkan, keputusan untuk menerbitkan obligasi ini ditempuh banyak perusahaan karena adanya kebutuhan untuk pembayaran utang yang jatuh tempo. Dengan demikian, seandainya biaya berada pada level tinggi, penerbitan tetap akan direalisasikan oleh perusahaan.

Tahun ini, sambungnya, biaya penerbitan terbilang murah dibandingkan dengan tahun depan yang diperkirakan akan lebih mahal karena adanya faktor kenaikan suku bunga.

"Pilihannya tahun depan yang mahal atau tahun ini yang lebih murah," imbuhnya.

Menurut Made, selain untuk refinancing dana hasil penerbitan obligasi itu juga akan digunakan untuk modal kerja serta rencana ekspansi. Namun menurutnya tidak semua sektor perusahaan butuh ekspansi. Properti, misalnya, yang saat ini tengah lesu sehingga banyak perusahaan menunda ekspansi.

"Kebutuhan untuk tiga itu memang besar. Pilihannya menerbitkan utang atau sindikasi perbankan. Dan banyak yang memilih obligasi karena memang kebutuhannya dalam jumlah besar," ujarnya.

Direktur Investa Saran Mandiri Hans Kwee menambahkan, rencana penerbitan obligasi telah dilakukan oleh perusahaan sejak awal tahun. Sehingga, jika pada pertengahan tahun terjadi lonjakan biaya penerbitan maka tidak akan mempengaruhi keputusan perusahaan.

Menurutnya, tahun ini banyak perusahaan yang memang berusaha untuk menerbitkan obligasi sebagai langkah antisipasi kenaikan suku bunga acuan. "Banyak yang ngebut tahun ini antisipasi fund rate. Selain itu, permintaan bond di pasar juga masih besar," kata dia.

Senada dengan Made, Hans memprediksi penerbitan obligasi pada tahun depan akan sedikit tertahan. Selain alasan suku bunga acuan, kekhawatiran pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS serta pembatasan impor juga menjadi faktor. "Tahun depan banyak yang menahan," ujarnya.

Tercatat, beberapa perusahaan telah memulai penawaran umum obligasi tersebut. PT XL Axiata Tbk. telah melepas obligasi dan sukuk ijarah dalam beberapa seri yaitu Seri A dengan tenor 370 hari kalender, Seri B dengan tenor 3 tahun, Seri C dengan tenor 5 tahun, Seri D dengan tenor 7 tahun, dan Seri E dengan tenor 10 tahun.

Kelima seri tersebut pun dirancang dalam pricing range bertingkat yaitu tenor 1 tahun sebesar 8%-8,5%, tenor 3 tahun sebesar 8,75%-9,5%, tenor 5 tahun sebesar 9,25%-10,25%, tenor 7 tahun 9,85%-10,5%, dan tenor 10 tahun pada rentang 10%-10,65%.

Kemudian PT Jakarta Lingkar Baratsatu menerbitkan obligasi yang dibagi dalam dua tenor, yakni Seri A untuk tenor 3 tahun dan seri B untuk tenor 5 tahun. Bunga Obligasi dibayarkan setiap triwulan sejak tanggal emisi.

Bunga Obligasi pertama akan dibayarkan pada tanggal 20 Desember 2018 sedangkan Bunga Obligasi terakhir sekaligus jatuh tempo Obligasi akan dibayarkan pada 20 September 2021 untuk Obligasi Seri A dan 20 September 2023 untuk Obligasi Seri B.

Obligasi ini dijamin dengan jaminan fidusia berupa konsesi pengusahaan jalan tol berdasarkan Perjanjian Pengusahaan Jalan Tol Ruas JORR W1 (Kebun Jeruk Penjaringan) No. 02/PPJT/II/Mn/2007 tanggal 2 Februari 2007 yang haknya diberikan Pemerintah selama masa konsesi dan rekening operasional yang diikat dengan fidusia.

Pipeline Obligasi Korporasi

1. PT Tiphone Mobile Indonesia Tbk.
Obligasi Berkelanjutan II TiphoneTahap I Tahun 2018 Rp1,2 triliun

2.PT Jakarta Lingkar Baratsatu
Obligasi I Jakarta Lingkar Baratsatu Tahun 2018 Rp1,3 triliun

3. PT Bank Mayapada Internasional Tbk.
Obligasi Subordinasi Bank Mayapada V Tahun 2018 Rp3,00 triliun

4. PT Lontar Papyrus Pulp & Paper Industry
Sukuk Ijarah Lontar Papyrus Pulp Paper Industry I Tahun 2018 Rp2,5 triliun

5. PT XL Axiata Tbk.
Obligasi Berkelanjutan I XL Axiata Tahap I Tahun 2018 Rp1,00 triliun

6. PT XL Axiata Tbk.
Sukuk Ijarah Berkelanjutan II XL Axiata Tahap I Tahun 2018 Rp1,00 triliun

7. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.
Obligasi Berkelanjutan I Bank Mandiri Tahap III Tahun 2018 Rp3,00 triliun

8. PT Bank CIMB Niaga Tbk.
Obligasi Berkelanjutan II Bank CIMB Niaga Tahap IV Tahun 2018 Rp1,25 triliun

9. PT Federal International Finance
Obligasi Berkelanjutan III Federal International Finance Dengan Tingkat Bunga Tetap Tahap IV Tahun 2018 Rp1,50 triliun

10. PT Summarecon Agung Tbk.
Obligasi Berkelanjutan III Summarecon Agung Tahap I Tahun 2018 Rp0,60 triliun

11. PT Bank CIMB Niaga Tbk.
Sukuk Mudharabah Berkelanjutan I Bank CIMB Niaga Tahap I Tahun 2018 Rp1,00 triliun

12. PT Bank CIMB Niaga Tbk.
Obligasi Subordinasi III Bank CIMB Niaga Tahun 2018 Rp0,50 miliar

Sumber: Bursa Efek Indonesia

Tag : obligasi korporasi
Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top