Milenial Dominasi Pembelian Saving Bond Retail 004

Kelompok investor terbesar dalam instrumen SBR004 ini adalah generasi milenial kelahiran 1980-2000, atau yang kini berusia antara 18 tahun hingga 38 tahun sebanyak 40,99%.
Emanuel B. Caesario | 17 September 2018 22:48 WIB
Kaum milenial - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA—Jumlah investor ritel dari kalangan anak muda yang berinvestasi pada instrumen saving bond retail (SBR) seri SBR004 meningkat drastis seiring penggunaan metode pemasaran yang ampuh dan kondisi pasar yang mendukung.

Berdasarkan publikasi Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, total volume pemesanan pembelian instrumen SBR004 mencapai Rp7,32 triliun, Pemerintah memutuskan untuk menyerap semuanya.

Nominal pemesanan tersebut berasal dari 21.267 investor individu warga negara Indonesia, dengan jumlah investor baru mencapai 17.195 inventor.

Data ini meningkat dibandingkan penerbitan SBR003 pada Mei lalu, yang mana nilai penjualannya hanya Rp1,93 triliun dari total 7.642 investor dengan 5.683 investor di antaranya adalah investor baru.

Menariknya, DJPPR mencatat berdasarkan usia, kelompok investor terbesar dalam instrumen SBR004 ini adalah generasi milenial kelahiran 1980-2000, atau yang kini berusia antara 18 tahun hingga 38 tahun sebanyak 40,99%.

Itu artinya, jumlah mencapai sekitar 8.717 investor. Jumlah ini bahkan lebih tinggi dari total investor pada seri SBR003. Pada SBR003, jumlah investor dari generasi muda juga sejatinya sudah mendominasi dengan 44,61% dari total investor, atau sekitar 3.409 investor.

Berdasarkan lokasi sebaran investor, jumlah pemesan terbesar SBR004 masih berasal dari Indonesia bagian barat selain DKI Jakarta, mencapai Rp3,29 triliun. Sementara itu, wilayah DKI Jakarta mencapai Rp3,27 triliun, sedangkan Indonesia bagian timur dan tengah hanya Rp761,6 miliar.

“Dibandingkan dengan penerbitan SBR003, seluruh wilayah mengalami peningkatan dengan persentase peningkatan tertinggi yaitu DKI Jakarta sebesar 302,06%,” tulis DJPPR, Senin (17/9/2018).

Dari sisi nominal pemesanan per investor, pemesan terbesar adalah dengan nominal antara Rp1 juta hingga Rp100 juta, mencapai 55,59%. Secara total, rata-rata volume pemesanan adalah Rp337,9 juta per investor, lebih tinggi dibadingkan SBR003 Rp252,3 juta per investor.

I Made Adi Saputra, Kepala Divisi Riset Fixed Income MNC Sekuritas, mengatakan bahwa proses penawaran yang lebih mudah secara daring menjadi faktor utama di balik kesuksesan penjualan SBR004 kali ini.

Kendati nilainya belum mencapai Rp10 triliun, tetapi capaian ini menunjukkan peningkatan yang luar biasa mengingat instrumen SBR umumnya kurang diminati investor ritel yang terbiasa dengan instrumen obligasi ritel Indonesia (ORI) atau sukuk ritel yang bisa ditransaksikan di pasar sekunder.

Penerbitan secara daring memang paling cocok dengan tren masa kini yang serba terdigitalisasi. Oleh karena itu, tidak mengherankan bila profil investor terbesar instrumen ini adalah dari kalangan muda yang akrab dengan gadjet, walaupun dari sisi nilai investasi mereka masih terbatas.

“Hasilnya efektif dengan menurunkan minimum pemesanan Rp1 juta. Menggandeng fintech untuk menjual juga trobosan luar biasa. Mereka bisa iklan di mana saja dan ini massif sekali,” katanya.

Seperti diketahui, DJPPR melibatkan dua startup fintech, yakni Investree dan Modalku. Selain itu, ada juga dua perusahaan efek khusus yakni Bareksa dan Tanamduit. Selebihnya dari satu sekuritas yakni Trimegah Sekuritas, dan 6 lainnya perbankan.

Made mengatakan, penjualan oleh bank secara luring biasanya cenderung hanya menyasar nasabah prioritas mereka saja. Namun, ketika pemasaran digeser menjadi daring, proses sosialisasi menjadi lebih terbuka dan memanfaatkan beragam platform media digital.

Stephanus Turagan, Presiden Direktur Trimegah Sekuritas, mengatakan bahwa salah satu faktor keberhasilan penjualan kali ini adalah lebih banyaknya waktu untuk sosialisasi. Masa penawaran SBR004 mencapai 4 pekan, sedangkan SBR003 lalu hanya 2 pekan.

Ramdhan Ario Maruto, Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Indonesia, mengatakan bahwa strategi pemerintah untuk mulai menggunakan teknologi digital sangat tepat, mengingat generasi milenial kini sudah memasuki usia dewasa dan cukup mampu serta sadar terhadap pentingnya investasi.

Meski begitu, menurutnya pemerintah belum dapat berpuas diri mengingat meskipun jumlah investor baru di instrumen ini cukup tinggi, tetapi rasionya terhadap total jumlah penduduk Indonesia masih sangat rendah.

Jumlah investor dari Indonesia bagian tengah dan timur pun terbukti belum cukup banyak, yang mana menunjukkan masih terbatasnya literasi pasar modal di sana. Dirinya berharap, di masa mendatang sosialisasi lebih gencar dilakukan.

Tag : Obligasi, generasi milenial
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top