ETF Mencoba Peruntungan di Tengah Pelemahan Pasar

Pelemahan indeks harga saham gabungan (IHSG) dalam beberapa pekan terakhir dimanfaatkan oleh manajer investasi untuk menghadirkan produk reksa dana pasif.
Tegar Arief | 12 September 2018 06:39 WIB
Pengunjung berada di dekat papan elektronik yang menampilkan perdagangan harga saham, di Jakarta, Senin (10/9/2018). - JIBI/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA - Pelemahan indeks harga saham gabungan (IHSG) dalam beberapa pekan terakhir dimanfaatkan oleh manajer investasi untuk menghadirkan produk reksa dana pasif.

Melemahnya pasar dinilai sebagai momentum tepat bagi perusahaan untuk merilis produk baru dengan harapan investor melakukan aksi beli. Sebab, turunnya indeks berdampak pada terjangkaunya harga saham dan produk turunannya.

Head of Investment PT Infovesta Utama Wawan Hendrayana menilai, saat ini reksa dana pasif baik reksa dana indeks maupun Exchange Traded Fund (ETF) cukup diminati pasar karena dalam dua tahun terakhir kinerjanya cukup positif.

"Momentum saat ini sudah tepat, pasar turun penjualan reksa dana pasif dimaksimalkan. Harapannya saat ada pemulihan pasar return bisa cukup tinggi," kata dia kepada Bisnis, Senin (10/9/2018).

Apalagi, kata Wawan, tren yang ada selama ini pada penghujung tahun kinerja saham menunjukkan perbaikan. Momentum ini tentu sangat dimanfaatkan oleh manajer investasi untuk memberondong pasar dengan produk baru jelang penutupan tahun.

Dua manajer investasi yang meluncurkan produk ETF adalah PT Pinnacle Persada Investama dan PT MNC Asset Management. Awal pekan ini, Pinnacle telah menghadirkan ETF pertama yang menggunakan indeks FTSE Indonesia sebagai underlying benchmark, yakni Pinnacle FTSE Indonesia ETF.

Chief Investment Officer (CIO) PT Pinnacle Persada Investama Andri Yauhari menjelaskan, kondisi market sepanjang tahun ini terbilang cukup fluktuatif. Menurutnya, saat ini merupakan momentum tepat untuk meluncurkan ETF ke pasar Tanah Air.

"Secara jangka panjang potensi produk ini sangat bagus. Di sisi lain keadaan market kita juga kuat. Ini produk yang dikelola secara pasif yang kami yakin akan memberikan return cukup baik," ujarnya.

Di sisi lain, perseroan optimistis produk ini akan mampu megerek dana kelolaan. Pasalnya investor yang bisa masuk tidak hanya berasal dari dalam negeri melainkan juga dari regional dan global. Dalam meluncurkan produk ini, perseroan bermitra dengan global index provider yakni FTSE Russel.

"Tapi nanti tentunya yang akan lebih banyak porsi dari investor institusi di dalam negeri meskipun dari regional dan global juga bisa masuk," ujarnya.

Sebelumnya, PT MNC Asset Management meluncurkan produk ETF pertamanya yakni reksa dana ETF MNC36 Likuid. Produk ini dapat dibeli investor baik di pasar premier maupun pasar sekunder secara realtime atau dapat ditransaksikan di bursa seperti layaknya saham dengan acuan indeks MNC36.

Direktur Utama PT MNC Asset Management Frery Kojongian mengatakan, produk ini dirilis untuk memenuhi kebutuhan investor institusi. "Tapi kami juga menyediakan ini di dua pasar, yakni pasar primer dan pasa sekunder. Jadi semua lapisan masyarakat bisa membeli," kata dia.

Perseroan menargetkan dana kelolaan alias asset under management (AUM) untuk produk ini senilai Rp100 miliar dalam waktu satu tahun. "Tentunya kami ingin dana kelolaan sebanyak-banyaknya. Tapi kalau ditany berapa, kami targetkan sekitar Rp100 miliar dalam tahun pertama."

Sementara itu, kinerja seluruh produk reksa dana ETF secara year to date (ytd) per akhir Agustus lalu negatif sejalan dengan jebloknya pergerakan saham. Dari data Infovesta Utama, IHSG secara ytd per Agustus lalu -5,3%. Adapun seluruh kinerja produk ETF yang jauh di bawah IHSG.

Tag : IHSG
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top