Jadi Dirut Krakatau Steel, Silmy Karim Ditarget Cetak Untung

Kementerian Badan Usaha Milik Negara menargetkan Direktur Utama PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. yang baru dapat mempercepat proses penyelesaian proyek serta mencetak keuntungan pada 2018.
M. Nurhadi Pratomo | 07 September 2018 07:33 WIB
Foto Silmy Karim tahun 2015 saat menjabat Direktur Utama PT Pindad (Presero). Silmy Salim ditunjuk menjadi Direktur Utama PT Krakatau Steel (Persero) dalam RUPS Kami (6/9/2018), sehingga harus meninggalkan jabatannya sebagai Direktur Utama PT Barata (Persero). - Bisnis/Rachman

Bisnis.com, JAKARTA— Kementerian Badan Usaha Milik Negara menargetkan Direktur Utama PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. yang baru dapat mempercepat proses penyelesaian proyek serta mencetak keuntungan pada 2018.

Rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) Krakatau Steel, Kamis (6/9/2018), menyetujui perubahan susunan pengurus perseroan. Adapun, pergantian dilakukan dengan mengangkat Silmy Karim sebagai Direktur Utama menggantikan Mas Wigrantoro Roes Setiyadi.

Deputi Bidang Usaha Pertambangan, Industri Strategis dan Media Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Fajar Harry Sampurno mengatakan pergantian dilakukan untuk mempercepat penyelesaian proyek  yang dicanangkan perseroan. Pasalnya, terdapat sejumlah pekerjaan yang mundur dari target perseroan.

“Kinerja harus ditingkatkan lagi dan kami harapkan tahun ini bisa untung,” ujarnya kepada Bisnis, Kamis (6/9/2018).

Dia menjelaskan bahwa kondisi kinerja keuangan semester I/2018 menjadi salah satu pertimbangan pergantian direktur utama dilakukan melalui RUPSLB. Artinya, momentum tersebut bertepatan dengan evaluasi yang dilakukan oleh pemerintah.

Terkait penunjukkan Silmy yang sebelumnya menjabat Direktur Utama PT Barata (Persero), Fajar menyebut Menteri BUMN Rini M. Soemarno memiliki pertimbangan tersendiri. Salah satunya yakni keberhasilan dalam membawa kinerja PT Barata Indonesia (Persero) menjadi lebih baik.

Selain menyetujui perubahan susunan pengurus perseroan, RUPSLB juga merestui penggunaan dana hasil penawaran umum terbatas melalui hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) I senilai Rp1,22 triliun. Peruntukan dana berubah dari semula untuk modal kerja proyek pembangunan Hot Strip Mill No.2 (HSM#2) menjadi pemenuhan kebutuhan investasi pekerjaan tersebut.

Berdasarkan laporan keuangan semester I/2018, Krakatau Steel mengantongi pendapatan US$854,27 juta. Jumlah tersebut naik 34,75% secara tahunan atau US$633,97 juta pada periode yang sama tahun lalu.

Akan tetapi, beban pokok pendapatan naik lebih tinggi sebesar 39,38% secara tahunan pada semester I/2018. Dari situ, emiten berkode saham KRAS itu membukukan laba kotor US$100,39 juta atau naik 7,82% secara tahunan.

Laba operasi yang dibukukan KRAS melesat 110,36%. Tercatat, jumlah yang dikantongi naik dari US$4,44 juta menjadi US$9,34 juta.

Dengan demikian, rugi periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tergerus 71,76% secara tahunan pada semester I/2018. Kerugian tercatat menurun dari US$56,70 juta menjadi US$16,01 juta.

Penjualan Tumbuh

Di sisi lain, Direktur Pemasaran Krakatau Steel Purwono Widodo memproyeksikan volume penjualan akan mengalami kenaikan sejalan dengan kebijakan pemerintah memperketat impor baja. Dengan demikian, diproyeksikan volume penjualan akan tumbuh dua digit pada kuartal III/2018.

“Secara year on year tumbuh sekitar 20%,” jelasnya.

Dari sisi ekspor, Purwono mengatakan kontribusi kontribusi diprediksi mencapai 10% hingga akhir tahun ini. Akan tetapi, akan terjadi kenaikan apabila HSM#2 telah beroperasi pada 2019.

“Normalnya kami ingin 20%—30% diharapkan bisa mencapai segitu,” imbuhnya.

Sebagai catatan, KRAS membidik volume penjualan 2,8 juta ton pada 2018. Target tersebut naik 40% dibandingkan dengan target yang dipasang pada tahun lalu.

Tag : krakatau steel
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top