Mirae Asset Sekuritas: Tingginya Sentimen Global Tekan Harga SUN

Mirae Asset Sekuritas memperkirakan bahwa harga surat utang negara atau SUN pada perdagangan hari ini, Jumat (31/8/2018)  melemah (yield meningkat), didorong oleh proyeksi depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sebagai akibat dari tingginya sentimen negatif global.
Emanuel B. Caesario | 31 Agustus 2018 10:32 WIB

Bisnis.com, JAKARTA--Mirae Asset Sekuritas memperkirakan bahwa harga surat utang negara atau SUN pada perdagangan hari ini, Jumat (31/8/2018)  melemah (yield meningkat), didorong oleh proyeksi depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sebagai akibat dari tingginya sentimen negatif global.

"Meski demikian, investor perlu memperhatikan dampak dari rencana Bank Indonesia terkait pembelian obligasi pemerintah di pasar sekunder senilai Rp100 triliun dalam rangka intervensi pasar," katanya dalam riset harian, Jumat (31/8/2018).

Berikut ini proyeksi rentang pergerakan harga dan yield seri-seri acuan SUN hari ini:

FR0063 (15 Mei 2023):  91,15 (7,92%) -  91,30  (7,87%)
FR0064 (15 Mei 2028):  86,80 (8,12%) -  87,05  (8,07%)
FR0065 (15 Mei 2033):  85,75 (8,32%) -  86,15  (8,27%)
FR0075 (15 Mei 2038):  89,55 (8,61%) -  89,95  (8,56%)

Nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat diperkirakan melemah dibandingkan dengan hari sebelumnya pada rentang Rp14.705 – Rp14.795.

Sementara itu, pada perdagangan kemarin harga SUN secara umum turun.

Rata-rata penurunan harga SUN tenor pendek adalah sebesar 8,10 bps, sementara SUN tenor menengah dan panjang mengalami rata-rata  penurunan harga masing-masing sebesar 28,11 bps dan 32,86 bps.

Penurunan harga yang cukup dalam tersebut sejak 2 minggu terakhir secara umum didorong oleh depresiasi rupiah sebesar 0,31% ke level Rp14.690 (depresiasi terbesar sejak September 2015).

Pelemahan rupiah ini sebagai akibat dari tingginya sentimen negatif setelah pasar melihat potensi krisis ekonomi Argentina yang sekaligus meningkatkan sentimen negatif sebelumnya dari rilis data PDB AS, krisis mata uang lira dan antisipasi pasar jelang rilis inflasi PCE AS.

Dengan demikian, yield SUN secara umum meningkat di mana yield SUN 10 tahun naik ke level 7,97% (sebelumnya 7,90%).

Sementara itu, dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) berencana untuk menambah Rp100 triliun kepemilikan obligasi pemerintah melalui pasar sekunder dalam rangka antisipasi sentimen negatif dari global khususnya krisis ekonomi Argentina.

Sejauh ini, BI telah membeli Rp57,23 triliun obligasi pemerintah dari pasar primer dan sebesar Rp22,18 triliun di pasar sekunder.
 
Dhian mengatakan, beberapa sentimen utama yang berpotensi memberikan eksternalitas negatif terhadap pasar obligasi Indonesia adalah sebagai berikut:

Pertama, minggu depan, Presiden Trump berencana untuk “kembali” mengenakan tarif impor produk China dengan nilai impor senilai $200 miliar. Selain itu, Trump juga menyampaikan kemungkinan AS untuk mencabut keanggotaannya di WTO.  

Kedua, nilai tukar Argentina Peso mengalami depresiasi signifikan sebesar 13,44% ke level 38,53 peso terhadap dolar AS sekaligus melanjutkan depresiasi peso di hari sebelumnya setelah Pemerintah Argentina mempercepat pencairan bailout IMF.

Merespon  depresiasi tajam Argentina peso, Bank Sentral Argentina menaikkan suku bunga acuan sebesar 15 poin persentase ke level 60% dari sebelumnya 45% dan menyampaikan outlook kebijakannya bahwa Bank Sentral akan mempertahankan level suku bunga acuan tersebut setidaknya hingga Desember tahun ini.

Ketiga, indikator ekonomi AS terus membaik setelah data pendapatan dan  pengeluaran masyarakat AS per Juli 2018 meningkat masing-masing ke level 0,3% (MoM) dan 0,4% (MoM) atau sesuai dengan ekspektasi pasar.

Selain itu, data inflasi acuan The Fed , PCE Inti (Core PCE Inflation), pada Juli 2018 tercatat sebesar 2% (YoY) atau meningkat dibandingkan Juni 2018 sebesar 1,9% (YoY).

Hal tersebut sekaligus menjaga peluang kenaikan suku bunga The Fed keempat kalinya tahun ini meski minggu kemarin Powell cenderung memberikan pernyataan dovish.

Dhian mengatakan, bauran sentimen tersebut membuat investor global cenderung meningkatkan porsi aset safe havennya yang tercermin dari penurunan yield US treasury 10 tahun ke level 2,86% (sebelumnya di level 2,89%) dan meningkatnya indeks dolar AS ke level 94,70 poin (sebelumnya pada rentang 94,6 — 94,61 poin). 
 

 



 

Tag : surat utang negara
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top