Importir Kedelai China ke AS Saat Perang Dagang Masih Berlangsung

Delegasi pengimpor kedelai China melakukan kunjungan ke pertanian di Missouri, Amerika Serikat untuk menijau tanaman kedelai AS yang sudah mulai siap panen.
Mutiara Nabila | 30 Agustus 2018 20:45 WIB
Ilustrasi - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA – Delegasi pengimpor kedelai China melakukan kunjungan ke pertanian di Missouri, Amerika Serikat untuk menijau tanaman kedelai AS yang sudah mulai siap panen.

Delegasi tersebut, termasuk sejumlah pengolah kedelai ternama di China seperti COFCO dan Yihai Kerry, beserta perwakilan dari perusahaan asal Ammerika Serikat Cargill Inc dan Bunge Ltd, melakukan pertemuan dengan petani kedelai AS, perwakilan industri, dan trader pada pekan ini di konferensi tahunan Global Trade Exchange yang diadakan oleh Dewan Ekspor Kedelai AS (USSEC).

Namun, pertemuan pemasok kedelai dan kunjungan ke petani yang dilangsungkan pada tahun ini kehilangan esensinya. Biasanya, China akan menandatangani kesepakatan pembelian bernilai miliaran dolar AS, tapi tidak kali ini.

Tidak akan ada upacara meriah yang biasanya menjadi sorotan utama kunjungan itu, karena perang tarif yang terjadi selama ini antara kedua kekuatan ekonomi dunia, AS dan China.

Kedelai menjadi salah satu komoditas yang terkena dampak terparah dari konflik perdagangan antara kedua negara tersebut.

Pengimpor China membeli kedelai AS hingga lebih dari US$12 miliar pada tahun lalu, sekitar 60% dari keseluruhan ekspor kedelai AS.

Kini sebagian besar dari jumlah tersebut telah dicabut dari pasar Beijing karena terkena tarif sebsar 25% untuk seluruh pengiriman dari AS pada pembalasan yang dilakukan China 6 Juli lalu kepada tarif serupa dari AS.

Namun, industri AS tidak mau mundur dari bisnis berkeuntungan tinggi itu, setelah menginvestasikan dana antara US$120 juta dan US$130 juta untuk perkembangan pasar China dalam 36 tahun terakhir.

“Kami membuat keputusan secara sadar untuk tidak menghentikan program kami di China dan tetap mengoperasikan program promosi dan edukasi kami di sana. Salah satu cara untuk melanjutkan upaya tersebut adalah dengan mengirim delegasi dari China ke AS,” ujar Jim Sutter, Chief Executive Officer USSEC, dilansir dari Reuters, Kamis (30/8/2018).

Harga kedelai AS terus mengalami penurunan hingga lebih dari 18% dalam 3 bulan terakhir karena ancaman tarif membuat pembeli China menggeser pemesanan kedelainya ke Brasil, pengekspor utama minyak kedelai dunia.

Namun, pada perdagangan Kamis (30/8), harga kedelai di bursa Chicago Board Of Trade (CBOT) rebound 6 poin atau 0,72% menjadi US$842 sen per bushel.

“Sejumlah industri di AS dan China telah melakukan kesepakatan pembelian hingga tiga kali dalam beberapa tahun terakhir. Tetapi kemudian terhenti pada November tahun lalu,” ungkap Xiaoping Zhang, Direktur USSEC di China.

Acara kunjungan yang dilakukan pada Juli 2017 silam di AS menghasilkan kesepakatan pembelian kedelai AS dari China sebanyak 12,5 juta ton, jumlah terbesar kedua yang pernah disepakati antar keduanya.

Setelah melakukan konferensi di Kansas, Missouri, para delegasi akan berkunjung ke Pantai Timur AS untuk meninjau pelabuhan Norfolk yang dioperasikan oleh Perdue Agribusiness.

Sutter menambahkan, pengumuman kesepakatan dagang AS dan Meksiko pada pekan ini membuatnya yakin bahwa Presiden AS Donald Trump terkadang melakukan pendekatan agresif dalam negosiasi perdagangan sehingga ada kemungkinan menghasilkan sesuatu juga untuk China.

Tag : komoditas, kedelai
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top