Rekor Baru Wall Street Kerek Bursa Asia

Bursa saham Asia menguat pada awal perdagangan hari ini, Kamis (30/8/2018), menyusul rekor baru bursa Wall Street Amerika Serikat (AS) didorong optimisme diskusi Perjanjian Perdagangan Bebas Amerika Utara (NAFTA) yang akan meredakan tensi perdagangan global.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 30 Agustus 2018  |  08:39 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Asia menguat pada awal perdagangan hari ini, Kamis (30/8/2018), menyusul rekor baru bursa Wall Street Amerika Serikat (AS) didorong optimisme diskusi Perjanjian Perdagangan Bebas Amerika Utara (NAFTA) yang akan meredakan tensi perdagangan global.

Dilansir dari Reuters, indeks MSCI Asia Pacific selain Jepang naik 0,1%. Sementara itu, indeks Nikkei Jepang menguat ke level tertingginya dalam tiga bulan dan bursa saham Australia naik 0,15%.

Bursa Wall Street Amerika Serikat (AS) memperpanjang relinya pada perdagangan Rabu (29/8), dengan indeks S&P 500 dan Nasdaq mencetak rekor level tertinggi untuk sesi keempat berturut-turut, didorong prospek positif diskusi perdagangan AS-Kanada.

Indeks S&P 500 ditutup menguat 0,57% atau 16,52 poin di level 2.914,04 dan indeks Nasdaq Composite menanjak 0,99% atau 79,65 poin di level 8.109,69. Adapun indeks Dow Jones Industrial Average berakhir naik 0,23% atau 60,55 poin di level 26.124,57.

Para pemimpin AS dan Kanada pada Rabu menyatakan optimismenya bahwa negosiasi NAFTA akan memenuhi tenggat waktu pada Jumat pekan ini (31/8) untuk tercapainya sebuah kesepakatan.

Kanada bergabung dalam diskusi untuk memodernisasi NAFTA setelah Meksiko dan Amerika Serikat mengumumkan kesepakatan perdagangan bilateral pada Senin (27/8). Kabar kesepakatan AS-Meksiko telah membantu mengangkat pasar ekuitas global sejak awal pekan ini.

"Perundingan NAFTA baru-baru ini telah membantu menghapus sebagian ketidakpastian yang pasar rasakan, serta memberi harapan jika tensi perdagangan AS-China akan berubah menjadi lebih baik,” kata Masahiro Ichikawa, pakar strategi senior di Sumitomo Mitsui Asset Management.

Di sisi lain, pihak Gedung Putih menyatakan ingin menyelesaikan isu seputar NAFTA sebelum bernegosiasi dengan China. Batas waktu untuk komentar publik tentang tarif yang diusulkan Presiden AS Donald Trump terhadap barang-barang China senilai US$200 miliar adalah pada 5 September.

Sementara itu, sentimen risiko membaik di kawasan lain dunia. Nilai tukar pound sterling melonjak di tengah kekhawatiran berkurangnya sikap 'hard Brexit' setelah kepala negosiator Brexit dari Uni Eropa mengisyaratkan sikap akomodatif terhadap Inggris dalam pembicaraan yang sedang berlangsung.

Pound sterling menguat ke level tertinggi dalam 3,5 pekan di US$1,3035, memperpanjang penguatannya setelah melonjak lebih dari 1% semalam. Indeks dolar pun bergerak di kisaran level terendahnya dalam empat pekan akibat terbebani reli pound sterling.

Greenback juga telah berada dalam posisi defensif pekan ini, saat permintaan untuk mata uang safe-haven menyusut di tengah membaiknya sentimen untuk aset berisiko di pasar.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bursa asia, wall street

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top