Pasokan Melimpah, Eksportir Kopi Brasil Kewalahan

Pengekspor kopi Brasil kesulitan mencari kapasitas pengiriman untuk memindahkan kelebihan produksi dari produsen kopi terbesar di dunia, yang akan menghambat rantai pasokan kopi ke pengolah biji kopi di seluruh dunia.
Mutiara Nabila | 24 Agustus 2018 15:08 WIB
Biji kopi Robusta. - Bloomberg/Dimas Ardian
Bisnis.com, JAKARTA – Pengekspor kopi Brasil kesulitan mencari kapasitas pengiriman untuk memindahkan kelebihan produksi dari produsen kopi terbesar di dunia, yang akan menghambat rantai pasokan kopi ke pengolah biji kopi di seluruh dunia.
Kelebihan pasokan di seluruh negara konsumen, masih bisa mengimbangi dampak jangka pendek dari kesulitan pengiriman hasil panen terbaru dari Brasil itu, sehingga belum memberikan dampak besar bagi harga kopi yang telah mencapai level terendah selama 12 tahun.
Pada perdagangan Jumat (24/8), harga kopi Arabika di Intercontinental Exchange hanya terkerek tipis 0,60 poin atau 0,69% menjadi US$101,50 sen per pon. Pada perdagangan hari sebelumnya, harga kopi sempat mencapai US$99,35 sen per pon, turun sekitar 23% secara year-to-date (ytd).
Para petani di Brasil masih merampungkan panen yang diperkirakan oleh Pemerintah dan industri Brasil akan mencapai rekor sekitar 60 juta kantong berisi 60 kilogram kopi dibandingkan dengan jumlah kantong sebanyak 45 juta pada tahun lalu.
Kapal tongkang yang mengangkut hasil produksi berlimpah tersebut kini tidak memiliki kapasitas untuk mengantar biji-bijian itu dalam jumlah besar. Artinya, pada pengeskpor, yang biasanya harus memesarn sejumlah kapasitas kapal dua pekan sebelum pengiriman, kini harus menunggu lebih lama, bahkan hingga delapan pekan.
“Ini terjadi kepada siapapun. Ini bukan hal yang bisa dikontrol oleh pengimpor,” ungkap Joseph Ferrara, Direktur Unique Coffee Roasters, dilansir dari Reuters, Jumat (24/8). Fererra menambahkan, sebagai pengolah biji kopi, perusahaannya masih memiliki cukup banyak persediaan dan bisa menunggu untuk jangka waktu yang cukup lama.
Data dari Komisi Dagang Internasional (ITC) AS menunjukkan bahwa penundaan pengiriman itu muncul setelah impor kopi AS dari Brasil merosot 6,6% pada semester I/2018 ke level terendah selama enam tahun.
“Ketersediaan kapal yang bisa mengangkut masih kurang untuk jumlah kopi sebanyak itu. Biasanya harus menunggu beberapa pekan untuk memesan kapasitas baru, hingga tiga sampai empat pekan,” kata Rodrigo Costa, Direktur Bidang perdagangan Comexim, AS.
Costa mengatakan bahwa keterlambatan pengiriman hingga lebih dari delapan pekan akan membuat harga kopi melambung hingga 10%.
Asosiasi pengekspor kopi Brasil Cecafe melaporkan bahwa pengiriman pada Juli lalu mengalami kenaikan hingga 28% dari periode yang sama pada tahun sebelumnya, dan seharusnya bisa lebih tinggi apabila tidak ada kendala di pelabuhan.
Kenaikan pengiriman tersebut muncul setelah Brasil, wilayah perekonomian terkuat di Amerika Latin, mengalami kemunduran yang cukup dalam hingga mendekati rekor pada 2017, membuat impornya berkurang dan harus memangkas ketersediaan pengangkut barang yang ada, untuk digunakan daalam ekspor.
Di sisi lain, komoditas kopi terkena dampak dari keputusan Brasil tersebut, beriringan dengan masa panen Brasil tahun 2018/2019 yang harus segera disebarluaskan.
Belum ada kejelasan terkait dengan peningkatan kemampuan pengangkutan untuk impor untuk beberapa waktu mendatang mengingat perekonomian Brasil masih belum bangkit dan impornya masih di level terendah.
Meskipun penjualan kopi Brasil meningkat hingga 38% dari keseluruhan hasil produksi, dibandingkan dengan 34% pada periode yang sama tahun lalu., harga kopi Arabika Brasil sudah terlanjur anjlok ke level terendah selama 12 tahun hingga US$1 per pon karena mata uang Brasil yang terus melemah.
Kemerosotan harga tersebut akan menurunkan penjualan petani, sehingga diharapkan dapat membantu mengatasi masalah pengiriman. Namun, kemudian akan membawa harga kopi kembali rebound dalam berapa bulan kedepan sehingga akan kembali meningkatkan penjualan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kopi, produksi kopi

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top