Lamon Rutten: Masalahnya Adalah Mental Jam Karet

Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia atau Indonesia Comodity & Derivatives Exchange atau ICDX terus berkembang sebagai salah satu bursa berjangka komoditas di Tanah Air
Oktaviano Donald Baptista/Fitri Sartina Dewi Oktaviano Donald Baptista/Fitri Sartina Dewi | 21 Agustus 2018 12:39 WIB
Lamon Rutten: Masalahnya Adalah Mental Jam Karet
Lamon Rutten, Chief Executive Officer Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia atau Indonesia Comodity & Derivatives Exchange (ICDX). - Bisnis/Endang Muchtar

Bisnis.com, JAKARTA - Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia atau Indonesia Comodity & Derivatives Exchange atau ICDX terus berkembang sebagai salah satu bursa berjangka komoditas di Tanah Air. Bisnis berkesempatan untuk mewawancarai Lamon Rutten, Chief Executive Officer ICDX, untuk menggali lebih jauh kondisi dan strategi bursa ini untuk memperkuat posisinya yang tebilang sangat strategis. Berikut petikannya:

Bagaimana perkembangan ICDX sejauh ini?

Saat ini ICDX sangat berkembang. Tiga tahun lalu, ICDX mendapatkan keuntungan dengan adanya regulasi soal ekspor timah dari Indonesia. Setelah itu, perdagangan di sektor itu meningkat signifikan. Dulunya, ekspor timah ilegal tinggi sekali, bahkan mencapai US$200 juta. Sekarang semua berhenti.

Kualitas timah Indonesia juga semakin baik dan kian dikenal. Sebelumnya, harga ekspor timah Indonesia di bawah harga dunia, sekarang di atasnya. Saya pikir perkembangan bursa berjangka di produk timah sangat baik. Sampai sekarang, timah yang paling penting dengan kontrak sistem perdagangan alternatif (SPA).

Apa perbedaan yang ada setelah Anda memimpin ICDX sejak 2017?

Secara global, di bursa berjangka yang paling penting adalah kontrak berjangka. Waktu saya masuk, kontrak berjangka di bursa itu kecil sekali. Sejak awal, saya dorong supaya sektor itu bisa meningkat.

Itu pekerjaan yang besar, perlu dukungan teknologi berbeda, perlu orang khusus, dan tentunya itu tidak mudah. Saya lakukan itu secara perlahan-lahan.

Sekarang kami sudah mulai bisa menghadirkan produk baru. Kami mulai dengan emas, minyak bumi dan forex .

Sekarang, itu sudah di sistem teknologi kami dan bisa dimanfaatkan. Memang pekerjaan ini belum sempurna, karena masih perlu market maker, tetapi secara teknis semua sudah baik.

Apakah pekerjaan besar itu sekarang sudah bisa digunakan?

Pada bulan ini, kontrak emas, minyak bumi dan forex multilateral dilakukan untuk pertama kali di Indonesia. Jenis kontrak itu di dunia besar sekali, tetapi di Indonesia baru ada. Kontrak itu sangat penting untuk investasi. Misalnya, pasar forex yang ada di Indonesia lebih dari US$100 miliar setahun.

Di Indonesia, itu kebanyakan di luar multilateral. Sekarang, dengan produk kami, nasabah bisa mengikuti perdagangan dengan kontrak multilateral dengan didukung regulasi. Jadi, lebih baik dan aman untuk nasabah, dengan transparansi harga dan ongkos transaksi yang lebih rendah dari pasar SPA .

Sekarang, kami hanya perlu memperkenalkan produk baru itu ke nasabah. Di negara lain, produk seperti itu berkembang dengan cepat.

Kapan produk itu diluncurkan?

Pada pekan lalu, kami sebenarnya sudah soft launch. Nasabah sudah bisa memperdagangkan kontrak itu, tetapi kami belum ada koneksi dengan market maker dari luar. Fungsi market maker adalah membuat koneksi antara pasar Indonesia dan pasar internasional. September .

Bagaimana dengan antusiasme pasar dengan produk itu?

Ada yang suka, ada pula yang tidak. Saya sudah menerangkan bahwa produk itu akan lebih aman, tranpasaran, dan murah. Di Indonesia, situasinya sekarang nasabah menggunakan kontrak yang mahal dan tidak transparan.

Ada pialang yang tidak terlalu senang bbahwa sekarang ada produk yang lebih kompetitif. Secara global, padahal pasar di luar multilateral menurun secara perlahan.

Saya pikir, pialang yang mengerti bagaimana sektor ini berfungsi akan senang sekali dengan produk baru itu. Sekarang pasar forex di Indonesia masih sangat kecil dan dengan produk baru bisa meningkat signifikan.

Bagaimana dengan proyeksi komposisi produk di ICDX ke depan?

Akan berbeda sekali. Berubah. Kalau orang Indonesia ingin kontrak forex yang baik, tidak ada produk yang lebih baik dibandingkan produk kami. Pasar forex akan berkembang dengan cepat, dibandingkan dengan timah. Pasar forex di Indonesia lebih dari US$600 miliar, sedangkan timah hanya US$1 milliar.

Di dalam GOFX ada emas, minyak bumi dan forex. Itu produk yang dikenal sehingga kebanyakan orang yang punya strategi investasi akan investasi di produk itu.

Produk lain seperti kakao, kopi dan minyak CPO itu juga akan berkembang seiring dengan perkembangan GOFX. Dengan produk GOFX, kami akan mendapat banyak sekali nasabah.

Misalnya, ada 10.000 nasabah dan 5% dari itu suka kakao, sehingga kontrak kakao sudah bisa diminati 500 orang. Kalau ada 100.000 nasabah yang suka emas, mungkin 5.000 di antaranya bisa ikut perdagangan kakao.

Kontrak berjangka itu perlu investasi, tidak hanya dari orang yang berada di dalam sektor itu, tetapi juga dari luar. Pasar perlu likuiditas. Seperti di kolam renang. Orang bisa berenang di kolam, karena ada air. Di pasar, air itu adalah investasi.

Harga emas sempat turun, apa yang membuat ICDX yakin tetap memperdagangkan GOFX?

Di bursa berjangka, orang bisa membeli kontrak dan menjual kontrak. Pembeli akan mendapatkan laba saat harga naik. Sebaliknya, penjual mendapat laba kalau harga turun. Oleh karena itu, orang yang terlibat perdagangan di pasar kami, kondisi pasar naik dan turun itu tidak terlalu penting.

Seberapa besar risiko yang ditimbulkan dari kondisi pasar itu?

Ada risiko. Sama seperti eksportir Indonesia yang mengalami perubahan nilai tukar rupiah terhadap dolar dibandingkan dengan tahun lalu. Itu ada risiko. Oleh karena itu, orang menggunakan pasar untuk hedging. Yang penting adalah diversifikasi portofolio.

Sebagai pemimpin, apa saja tantangan di industri?

Perlu upaya besar untuk edukasi. Saat ini sudah ada pasar SPA, dan orang sudah kenal, pialang juga kenal. Namun, kontrak multilateral belum dikenal luas.

Ada banyak situasi di pasar SPA yang kurang baik, kurang sehat. Oleh karena itu, ada banyak orang yang berpikir bahwa kontrak komoditas dan kontrak forex, bukan kontrak yang baik. Itu tidak benar. Anggapan itu muncul karena dulu ada masalah di pasar SPA.

Perlu mengedukasi orang supaya mengerti bahwa di pasar multilateral ada transparansi. Ada situasi aman. Tidak ada risiko bahwa pialang akan meraup uang nasabah. Di pasar multilateral, pialang hanya bisa mendapatkan uang kalau ada laba untuk nasabah.

Apa tantangan lain bagi industri?

Dulu saya bekerja di India. Di India lebih cepat. Di Indonesia, ada sedikit masalah, terkait dengan ‘jam karet’. Kebanyakan, orang tidak melihat tujuan kenapa harus cepat, tetapi lebih suka perlahan-lahan. Itu tidak baik.

Bagaimana harapan Anda kepada regulator agar industri ini berkembang?

Di pemerintahan, kami perlu dukungan agar bisa menjalankan kontrak baru. Kalau tidak ada regulasi, kami tidak bisa mulai kontrak.

Mereka perlu mengerti bagaimana bursa bisa membantu pembangunan negara. Ada studi di negra lain yang menunjukkan bahwa dengan manajemen risiko, laba perusahaan akan lebih tinggi. Investasi lebih tinggi dan risiko berkurang. Bursa seperti ICDX bisa membantu banyak perusahaan dan dengan begitu membantu ekonomi negara.

Di sektor pertanian, ada banyak fungsi bursa, sebagaimana fungsi pemerintahan, yang akan jauh lebih efisien bila didukung bursa. Petani bisa mendapatkan informasi harga yang benar. Dengan bursa, mereka bisa menjual komoditas di pasar yang transparan dan efisien. Semua itu dapat diciptakan oleh bursa.

*) Artikel dimuat di  koran cetak Bisnis Indonesia edisi Selasa (21/8/2018)

Tag : icdx
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top