China Tetap Impor Kedelai AS Meski Kena Tarif 25%, Ini Penyebabnya

China belum bisa sepenuhnya beralih dari pasokan kedelai Amerika Serikat. Sejumlah kapal kargo kedelai dari AS saat ini tengah menuju ke China meskipun tarif telah diterapkan.
Mutiara Nabila
Mutiara Nabila - Bisnis.com 08 Agustus 2018  |  20:30 WIB
China Tetap Impor Kedelai AS Meski Kena Tarif 25%, Ini Penyebabnya
Pekerja melakukan proses pengolahan kedelai di salah satu pabrik di Jakarta, Selasa (13/3/2018). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA – China belum bisa sepenuhnya beralih dari pasokan kedelai Amerika Serikat. Sejumlah kapal kargo kedelai dari AS saat ini tengah menuju ke China meskipun tarif telah diterapkan.

Kedelai terus terdesak masuk dalam lingkup perang dagang antara AS dan China. Negeri Panda menjatuhkan tarif balasan sebesar 25% pada pengiriman barang dari AS, membuat pembeli dari China harus beralih ke pasokan kedelai dari Brasil.

Meskipun Brasil menjadi salah satu pengekspor kedelai terbesar di dunia, hasil produksinya dinilai belum bisa memenuhi permintaan China yang sangat besar.

Produksi kedelai Brasil diprediksi akan segera menyusut pada Oktober mendatang, beberapa bulan setelah mencapai rekor pengiriman. Penyusutan tersebut akan berlangsung bersamaan dengan puncak panen kedelai AS.

Dengan tidak ada lagi pertanian yang dapat memenuhi permintaan kedelai yang jumlahnya sangat besar dari China, maka China diperkirakan akan tetap harus membeli pasokan dari AS, atau memilih pasrah pasokan kedelainya merosot tajam jika tidak membeli dari AS.

“Kita akan segera menyaksikan banyak bisnis mulai dilakukan lagi antara AS dan China. Mungkin tidak akan sebanyak yang kita inginkan, tapi yang penting ada, daripada tidak ada sama sekali,” ujar Mark Schultz, Kepala Analis Pasar Northstar Commodity di Minneapolis, dikutip dari Bloomberg, Rabu (8/8/2018).

China merupakan pembeli terbesar kacang, tepung, dan minyak kedelai untuk dimanfaatkan sebagai pakan ternak dan minyak masak. Dengan adanya perang dagang, pola pembelian menjadi berubah, harga kedelai di Brasil mengalami lonjakan, sementar harga perdagangan berjangka kedelai di AS justru melorot.

Pada perdagangan Rabu (8/8), harga kedelai di Chicago Board Of Trade (CBOT) turun 3 poin atau 0,33% menjadi US$902,75 sen per bushel.

“Meskipun demikian, dengan adanya tarif membuat harga kedelai Brasil tetap lebih murah dibandingkan dengan kedelai AS,” kata Paulo Sousa, Direktur Perusahaan Biji-bijian Cargill Inc. di Amerika Latin.

Sulit untuk mengukur seberapa besar permintaan China saat berkaitan dengan perdagangan kedelai. Departemen Pertanian AS (USDA) memprediksi bahwa impor kedelai China akan merosot hingga 95 juta ton pada musim 2018 – 2019, penurunan yang terjadi untuk pertama kalinya dalam 15 tahun. Meski mengalami penurunan, AS masih bisa memenuhi 60% dari total pengiriman kedelai global.

Ekspor kedelai Brasil untuk musim ini diperkirakan mencapai 75 juta ton. Meskipun seluruh kiriman tersebut akan diserap oleh China, Negeri Panda masih memiliki kekosongan pasokan sebesar 20 juta ton, membuatnya harus membeli dari negara lain.

Kemungkinan akan sulit bagi China untuk memenuhi permintaan sebanyak itu tanpa membeli dari AS, yang diperkirakan akan mengirim sebanyak 55,5 juta ton. Argentina, diramalkan akan menjadi pengekspor terbesar berikutnya dengan hanya mengekspor sebanyak 8 juta ton.

Sudah ada bukti bahwa China masih melakukan pembelian dari AS. Kapal tongkang Betis sudah berangkat dari terminal eskpor milik Gavilon Group LLC di Kalama, Washington ke Shanghai dan tiba pada 29 Juli lalu, membawa kargo pertama kedelai AS untuk China selama tiga pekan.

“Untuk memenuhi permintaan, China harus mengimpor setidaknya 10 juta ton kedelai AS,” kata Jiang Boheng, analis Luzheng Futures Co. Ltd.

Sejumlah analis lainnya mematok jumlah yang lebih besar. Pedro Dejneka, rakanan MD Commodities, mengatakan bahwa kecuali China mengurangi permintaan kedelainya dalam jumlah yang cukup besar secara berkala, China harus tetap mengimpor kedelai dari AS setidaknya hingga 15 juta ton hingga akhir 2018.

Namun, ada tanda bahwa China masih akan mencari alternatif untuk pasokan dari AS, seperti mengurangi penggunaan kedelai. China dapat menurunkan impornya hingga 10 juta ton pada 2018 jika mengikuti peraturan seperti melakukan diet protein rendah dalam pakan ternak.

China juga dapat mendorong pembelian kernel kelapa sawit, bunga matahari, dan rapeseed untuk menggantikan kedelai. “China juga bisa memperoleh kedelai dari cadangan kedelainya yang jumlahnya cukup besar dibandingkan dengan harus mengimpor dari AS,” ungkap Soren Schroder, Chief Executive Officer Bunge Ltd.

Kecuali AS dan China bisa mencapai resolusi dagang, Schroder menegaskan bahwa Negara Asia itu akan terus melakukan pembelian kedelai dari Brasil. “China biasanya akan menyerap 20 juta ton kedelai AS pada kuartal pertama dan keempat tiap tahunnya. Ekspor ke China yang terhenti akan menjadi ‘lubang besar’ bagi ekspor AS, dan akan sulit untuk digantikan dengan bisnis lain.”

China National Grain and Oils Information Center (CNGOIC) melaporkan bahwa pasokan dari cadangan yang ada tidak bisa bertahan untuk waktu yang lama. Tingginya cadangan, ditambah dengan impor besar dari Brasil antara Juli dan September, harusnya bisa membuat pasokan kedelai China cukup untuk memenuhi permintaan hingga Oktober.

“Setidaknya China akan membeli sejumlah kedelai dari AS. Sulit mengatakan kapan akan mulai membeli lagi, tapi jika benar terjadi, mungkin saat masa panen AS memuncak, karena pada saat tersebut biasanya harga kedelai sedang di titik paling murah,” tutur Karl Setzer, analis pasar MaxYield Cooperative di Iowa, AS.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
komoditas, harga kedelai

Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top