Masih Ada Ruang Penguatan Saham ADRO

Setelah sempat terkoreksi cukup dalam pekan lalu, kini saham dengan ticker ADRO mencoba uptrend setelah ditutup menguat 20 poin di level 1.980 pada akhir perdagangan sore ini.
Anida ul Masruroh | 07 Agustus 2018 17:51 WIB
Presiden Direktur PT Adaro Energy Tbk Garibaldi Thohir menyampaikan sambutan saat Perayaan 10 Tahun Initial Public Offering (IPO) sekaligus satu dekade transformasi bisnis perusahaan PT Adaro Tbk di Jakarta, Senin (16/7). - ANTARA/Puspa Perwitasari

Bisnis.com, Jakarta—Setelah sempat terkoreksi cukup dalam pekan lalu, kini saham dengan ticker ADRO mencoba uptrend setelah ditutup menguat 20 poin di level 1.980 pada akhir perdagangan sore ini.

Penandatanganan Head of Agreement antara pemerintah dengan Freeport Mc-MoRan dilanjutkan dengan kebijakan pemerintah terkait pembatalan pencabutan domestic market obligation menjadi sentimen positif bagi sektor pertambangan termasuk saham milik PT Adaro Energy Tbk. Tidak hanya prospek harga batu bara ke depan yang diyakini masih positif, aksi korporasi emiten tambang batu bara ini dalam mengakuisisi tambang Rio Tinto di Australia juga turut mengungkit harga saham ADRO.

Saham ADRO saat ini sudah sangat terdiskon dengan forward P/E ratio 8,6 kali (di bawah rata-rata historis 5 tahun sebesar 10,6 kali). Pada kondisi seperti ini bisa dijadikan momentum untuk para investor untuk melakukan akumulasi aksi beli. Namun, harga saham ADRO ini relatif lebih mahal apabila dibandingkan dengan valuasi indeks sektoral yang memiliki forward P/E ratio sebesar 1,26 kali. Secara year to date, harga saham ADRO tumbuh positif 6,45% atau mengalami underperformed terhadap pertumbuhan indeks sektor pertambangan yang tumbuh mengesankan sebesar 34,6% sepanjang 2018.

Secara teknikal, saham ADRO mencoba melanjutkan penguatan terbatas breakout menuju MA200 sebagai resistance terdekat di level 2.000. Indikator Relative Strength Index (RSI) terlihat neutral menuju overbought (area jenuh beli). Diperkirakan saham ADRO akan mengalami penguatan terbatas dengan rentang 1.900-2.100 pada perdagangan berikutnya.

Sumber: Bloomberg

*) Anida ul Masruroh adalah analis Bisnis Indonesia Resources Center

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
IHSG, adaro

Editor : Aprillian Hermawan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top