Juli 2018, Transaksi Broker Saham Menggeliat

Transaksi broker sepanjang bulan lalu menunjukkan tren positif. Berdasarkan data Bloomberg, total gross value dalam satu bulan trakhir tercatat mencapai Rp315,47 triliun.
Tegar Arief | 05 Agustus 2018 23:40 WIB
Karyawan melakukan swafoto di dekat papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (3/8/2018). - JIBI/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA - Transaksi broker sepanjang bulan lalu menunjukkan tren positif. Berdasarkan data Bloomberg, total gross value dalam satu bulan trakhir tercatat mencapai Rp315,47 triliun.

Angka tersebut naik sebesar 19,35% dibandingkan total transaksi pada bulan yang sama tahun lalu yakni senilai Rp264,31 triliun. Adapun jika dibandingkan Juni 2018 yang senilai Rp253,64 triliun, transaksi pada Juli tumbuh sebesar 29,48%.

Pada bulan lalu, tercatat ada dua perusahaan sekuritas dalam negeri yang menempati posisi 10 broker dengan nilai transaksi terbesar. Yakni PT Mandiri Sekuritas dengan nilai transaksi Rp13,74 triliun dan PT Indo Premier Sekuritas dengan gross value Rp8,72 triliun.

Direktur PT Panin Sekuritas Tbk. Prama Nugraha menjelaskan, ada dua faktor yang menyebabkan transaksi tetap tinggi pada bulan lalu. Pertama, volatilitas di pasar saham sehingga transaksi cukup deras.Kedua, adanya perubahan konstituen dalam sejumlah indeks.

"Transaksi broker samai-ramai saja. Karena banyak pemberitaan sehingga investor banyak yang beli dan banyak yang jual, market juga terus naik turun. Ramainya transaksi itu tercermin dalam broker fee yang masih stabil," kata dia kepada Bisnis, akhir pekan lalu.

Adapun terkait dengan perubahan konstituen sejumlah indeks, kata dia, cukup mendorong investor untuk aktif melakukan transaksi. Terutama terhadap saham-saham likuid yang masuk ke dalam indeks LQ45.

Menurutnya, hal ini membuktikan bahwa investor tidak hanya tergantung pada beberapa emiten sehingga adanya perubahan konstituen itu tetap memancing minat pembelian saham dari emiten yang baru masuk.

"Investor semakin banyak pilihan, artinya saham besar tidak hanya itu-itu saja. Ada emiten yang keluar, ada emiten yang masuk juga, dan klien-klien kami aktif juga di situ," ujarnya.

Pada bulan lalu, PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menjadi broker dengan nilai transaksi tertinggi, yakni mencapai Rp16,31 triliun. Kemudian disusul oleh Macquarie Capital Securities dengan Rp15,52 triliun, dan Mandiri Sekuritas pada posisi ketiga.

Beberapa saham yang sering ditransaksikan oleh investor adalah sektor perbankan dan telekomunikasi. Yakni PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), dan PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA). Adapun sektor telekomunikasi yang diminati pasar adalah PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM).

Nilai transaksi ini diyakini bakal terus meningkat sejalan dengan pemulihan pasar. Presiden Direktur PT BNI Sekuritas Adiyasa Suhadibroto meyakini, pemulihan pasar akan terjadi setelah September mendatang.

Sebab, pada pengujung kuartal III/2018 dan memasuki kuartal IV/2018 kinerja emiten setahun penuh mulai tampak. Dia meyakini, mayoritas emiten akan mencatatkan kinerja baik pada tahun ini. "Semakin mundur kan kinerja emiten semakin baik," kata dia.

Untuk saat ini, sambungnya, tingkat volatilitas di pasar saham masih cukup tinggi karena terpengaruh tekanan dari eksternal serta kekhawatiran mengenai kenaikan suku bunga, baik di dalam negeri maupun di Amerika Serikat.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
transaksi saham

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top