Bukit Asam (PTBA) Yakin Kinerja Operasional & Keuangan Moncer

Emiten pertambangan PT Bukit Asam Tbk. (PTBA) optimistis pertumbuhan perusahaan dari sisi kinerja operasional dan keuangan akan lebih tinggi pada semester II/2018 dibandingkan 6 bulan sebelumnya.
Hafiyyan
Hafiyyan - Bisnis.com 24 Juli 2018  |  16:15 WIB
Bukit Asam (PTBA) Yakin Kinerja Operasional & Keuangan Moncer
PT Bukit Asam Tbk

Bisnis.com, JAKARTA — Emiten pertambangan PT Bukit Asam Tbk. (PTBA) optimistis pertumbuhan perusahaan dari sisi kinerja operasional dan keuangan akan lebih tinggi pada semester II/2018 dibandingkan 6 bulan sebelumnya.

Direktur Utama Bukit Asam (PTBA) Arviyan Arifin menyampaikan, pada semester I/2018 perusahaan membukukan laba bersih Rp2,57 triliun, naik 49,44% year-on-year (yoy) dari sebelumnya Rp1,72 triliun. Pertumbuhan itu lebih rendah dari peningkatan pada periode Januari—Maret 2018, karena ada implementasi kebijakan domestic  market  obligation (DMO).

Sebelumnya laba bersih PTBA pada kuartal I/2018 mencapai Rp1,45 triliun. Angka itu melonjak 66,64% yoy dari sebelumnya Rp870,83 miliar.

“Kuartal I/2018 dari sisi pertumbuhan laba memang lebih tinggi. Memang tak dapat dipungkiri ada efek DMO yang mulai berlaku akhir Maret. Tapi tentunya kami punya sejumlah strategi agar kinerja semester II/2018 pertumbuhannya jauh lebih baik,” tuturnya, Senin (23/7/2018).

Menurutnya, dengan menjalankan strategi yang tepat, pertumbuhan kinerja pada semester II/2018 dapat melampaui kenaikan laba bersih kuartal I/2018 yang menembus 60%.

Strategi pertama ialah melakukan transfer kuota, agar perusahaan tambang batu bara yang tidak dapat memenuhi kewajiban DMO bisa membeli kelebihan alokasi dari PTBA. Skema ini berjalan secara business-to-busines (B to B) sehingga perseroan bisa menjual dengan harga premium.

Pada 2018, PTBA menargetkan penjualan batu bara sejumlah 25,88 juta ton, naik 9,52% yoy dari realisasi 2017 sebesar 23,63 juta ton. Perinciannya, pasar domestik berkontribusi 13,74 juta ton dan pasar eskpor 12,15 juta ton.

Mengacu kepada bujet perusahaan, PTBA hanya berkewajiban menjual batu bara ke PLN sejumlah 25% dari target penjualan, yakni 6,47 juta ton. Artinya, perseroan dapat menjual 7,27 juta ton batu bara domestik lainnya dengan harga premium.

“Karena DMO kami melampaui kuota [25%], kami bisa melakukan transfer kuota. Jadi perusahaan mitra nantinya tetap membeli dengan harga premium, bukan harga yang dibatasi US$70 per ton,” tuturnya.

Pada semester I/2018, PTBA menjual 6,35 juta ton batu bara ke pasar domestik, atau 52% dari total pemasaran sejumlah 12,22 juta ton. Arviyan menyampaikan, untuk melakukan transfer kuota, pihaknya sudah mendapat penawaran dari sejumlah perusahaan.

Strategi kedua untuk menggenjot laba bersih ialah melakukan efisiensi operasional. Pada semester I/2018, ongkos operasional produksi batu bara PTBA sudah turun 10,11% yoy menjadi US$613 per ton dari sebelumnya US$682 per ton.

Adapun, strategi ketiga ialah memproduksi kembali batu bara berkalori tinggi sehingga mendapatkan harga jual dan margin pendapatan yang juga lebih tinggi.

Sekretaris Perusahaan Bukit Asam Suherman menyampaikan, proses produksi batu bara berkalori tinggi baru dimulai pada Juni 2018 sekitar 100.000—200.000 ton per bulan. Lokasinya berada di Tanjung Enim, yang sebelumnya menjadi area perumahan karyawan.

“Sebelumnya kami perkirakan produksi bisa lebih cepat, tetapi ternyata ada perizinan pembongkaran, dan juga perlu mengurus rumah pengganti. Jadi agak terlambat mulainya,” ujarnya.

Menurutnya, penjualan perdana produk premium itu dapat dimulai pada Juli—Agustus 2018, sehingga dapat mencapai 1 juta ton sampai akhir tahun. Pihak pembeli berasal dari Jepang.

Sebelumnya, PTBA berhenti memproduksi batu bara bekalori tinggi pada pertengahan 2016. Pembeli saat ini, sambung Suherman, merupakan pelanggan lama perseroan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
batu bara, ptba, bukit asam, kinerja emiten

Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top