Ini Alasan Return Obligasi Tahun Ini Diprediksi Negatif

Tingkat keuntungan atau return investasi obligasi tahun ini kemungkinan akan berbalik negatif dibandingkan posisi akhir tahun 2017 lalu akibat kuatnya sentimen negatif eksternal dan bayang-bayang pengetatan likuiditas di dalam negeri.
Emanuel B. Caesario | 12 Juli 2018 07:55 WIB
Ilustrasi - www.hennionandwalsh.com

Return Obligasi Berpotensi Negatif

Bisnis.com, JAKARTA—Tingkat keuntungan atau return investasi obligasi tahun ini kemungkinan akan berbalik negatif dibandingkan posisi akhir tahun 2017 lalu akibat kuatnya sentimen negatif eksternal dan bayang-bayang pengetatan likuiditas di dalam negeri.

Indeks obligasi ICBI hingga akhir perdagangan Rabu (11/7) ditutup pafs evel 237,1491, turun 0,31% dibandingkan hari sebelumnya. Posisi indeks ICBI sudah turun 2,44% secara year to date (ytd) menandakan pelemahan yang cukup tajam pada tahun ini.

Hal ini berbeda dibandingkan kinerja indeks ICBI sepanjang 2017 yang berhasil mencatatkan return tinggi mencapai 16,6% dibandingkan akhir 2016.

I Made Adi Saputra, Kepala Divisi Riset Fixed Income MNC Sekuritas, mengatakan bahwa pihaknya memutuskan untuk mengubah proyeksi kinerja pasar obligasi hingga akhir tahun ini, menimbang banyaknya perubahan yang terjadi di pasar hingga pertengahan tahun ini.

Perubahan di pasar terutama dipicu oleh perubahan kondisi eksternal yang turut menyebabkan gejolak pada pasar dalam negeri. Made menilai, sepanjang semester kedua ini hingga 2019 mendatang, suku bunga negara-negara maju akan meningkat mengikuti keputusan The Fed. Hingga 2019, Fed Fund Rate diperkirakan akan naik hingga 2,75%.

Menyikapi keputusan moneter negara-negara maju, negara-negara berkembang cenderung merespons secara bervariatif, tetapi cenderung menaikkan suku bunganya. Bank Indonesia merespons dengan kenaikan suku bunga hingga 100 bps sepanjang semester pertama 2018.

MNC Sekuritas menganalisis bahwa dalam 6 bulan ke depan, peluang terjadinya penurunan indeks masih akan sangat terbuka. Penurunan indeks kemungkinan besar akan terjadi pada bulan Agustus, September dan November tahun ini.

Dengan pertimbangan tersebut serta melihat perkembangan nilai tukar rupiah yang sudah mencapai Rp14.300 atau di atas estimasi awal tahun MNC Sekuritas sebesar Rp13.500, maka MNC Sekuritas melakukan revisi terhadap target yield surat utang negara (SUN) menjadi lebih tinggi.

Target moderat semula yang disusun awal tahun ini untuk seri SUN tenor 5 tahun, 10 tahun, 15 tahun dan 20 tahun masing-masing adalah 5,87%; 6,34%; 6,71%; dan 7,00%. Namun, kini targetnya diubah menjadi masing-masing 7,39%; 7,65%; 7,94%; dan 8,04%.

Made mengatakan, dengan estimasi yield tersebut dan penurunan harga seiring peningkatan yield, SUN dengan tenor di atas 10 tahun cenderung akan mencatatkan return negatif, sedangkan di bahwa 10 tahun masih positif. Secara total, rata-rata return akan cenderung negatif.

“Dengan asumsi moderat, kami perkirakan bahwa rata-rata total return surat utang negara pada akhir tahun 2018 akan memberikan imbal hasil negatif sebesar -1,25%,” katanya dalam riset outlook pasar obligasi semester II/2018 MNC Sekuritas, dikutip Rabu (11/7).

Anil Kumar, Manager Investasi dan Portofolio Ashmore Asset Management, mengatakan bahwa kondisi pasar obligasi saat ini menunjukkan penurunan minat investor asing. Net sell asing sepanjang semester pertama tahun ini mencapai Rp5,98 triliun. Net sell asing pada periode semester pertama ini baru kembali terjadi sejak 2009.

Namun, sayangnya investor domestik yang diharapkan menjadi penopang permintaan juga akan mengalami tantangan di masa mendatang.

Anil mengatakan, ada indikasi akan terjadinya pengetatan likuiditas akibat lonjakan permintaan kredit yang lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan deposito. Kredit bank tumbuh sekitar 10%, sementara deposito hanya sekitar 5%.

Hal ini akan memaksa perbankan untuk menaikkan suku bunga deposito. Ujung-ujungnya akan menyebabkan persaingan perebutan dana dengan pemerintah yang selama ini cenderung menerbitkan surat berharga negara (SBN) tenor pendek di bawah 1 tahun.

Bila pemerintah ingin mempertahankan target pertumbuhan ekonomi di atas 5%, tingkat defisit anggaran tidak dapat terlalu ditekan. Namun, meningkatnya defisit justru akan berpotensi menimbulkan risiko refinancing bagi pemerintah akibat kerap menerbitkan utang jangka pendek.

“Kalau refinancing dilakukan dengan imbal hasil rendah, investor lokal yang tadinya investasi obligasi akan mulai pindah ke deposito karena bank tampaknya sedang alami masalah likuditas, jadi dia akan naikkan bunga depositonya,” katanya.

Anil mengatakan, bila demikian yang terjadi, imbal hasil SUN mau tidak mau pasti akan terus meningkat. Ditambah lagi dengan merebaknya sentimen ketidakpastian eksternal, Indonesia terpaksa harus menaikkan suku bunga untuk mendapatkan arus modal masuk bila tidak ingin perekonomian memasuki era perlambatan.

Dengan semua pertimbangan tersebut, dirinya sependapat bahwa cukup sulit tahun ini bagi pasar obligasi untuk mendapatkan return positif.

“Mungkin dengan kenaikan imbal hasil, return negatifnya masih akan dapat ditekan karena adanya kupon. Pada akhirnya mestinya returnya akan negatif, tetapi tidak terlalu besar negatifnya. Kalau berharap positif besar, dengan keadaan hari ini, tampaknya akan sedikit sulit tahun ini,” katanya.

Tag : Obligasi
Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top