BI Klaim Depreasi Rupiah Masih Terkendali

Bisnis.com, JAKARTA Bank Indonesia mengklaim meski nilai tukar rupiah terhadap dolar masih tertekan, tetapi depresiasi yang dialami rupiah masih berkisar 3,5% hingga saat ini.
Ipak Ayu H Nurcaya | 11 Juli 2018 21:37 WIB
Petugas jasa penukaran valuta asing memeriksa lembaran mata uang rupiah dan dollar AS di Jakarta, Senin (2/7/2018). - ANTARA/Puspa Perwitasari

Bisnis.com, JAKARTA — Bank Indonesia mengklaim meski nilai tukar rupiah terhadap dolar masih tertekan, tetapi depresiasi yang dialami rupiah masih berkisar 3,5% hingga saat ini.

Bagi Bank Sentral artinya angka ini masih menunjukkan stabilisasi yang terkendali.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia (BI) Nanang Hendarsah mengatakan, selama depresiasi di bawah 5% maka Indonesia lebih baik dibandingkan dengan beberapa negara seperti Argentina dan Turki yang nilai tukarnya tertekan hingga digit ganda.

Dirinya mengemukakan poin ini menjadi penting untuk disampaikan pada Masyarakat agar setiap melihat depresiasi bukan pada angka mata uang yang berubah.

"Saat ini tekanan rupiah juga diperparah adanya perang dagang. Namun, BI selalu imbau jangan lihat nilai rupiahnya yang berubah tapi volatilitasnya karena kami akan selalu menjaga stabilitas," katanya, Rabu (11/7/2018).

Nanang mengemukakan pelemahan ini adalah fenomena global dan sudah pernah dihadapi dalam beberapa episode pada periode 2008 dan 2013.

Tak hanya itu, tekanan terhadap nilai tukar saat ini tidak hanya terjadi pada negara yang mengalami defisit transaksi berjalan, tetapi juga yang transaksi berjalannya surplus.

Untuk itu, saat ini hampir semua negara juga menaikkan suku bunga karena likuiditas global yang ketat. BI juga sudah melakukan langkah pre-emptive dengan menaikkan suku bunga.

Nanang menilai kenaikan suku bunga acuan yang dilakukan BI bukan untuk merespons ekonomi domestik, melainkan sebagai respons dari perekonomian global. BI juga senantiasa menggunakan cadangan devisa untuk menjaga nilai tukar.

"Kemarin pada saat rupiah bergerak dari Rp13.900 ke Rp14.000, seolah-olah Indonesia akan menghadapi bencana, tapi sekarang di level Rp14.300 semua berjalan biasa-biasa saja," ujarnya.

Sementara itu, Nanang menambahkan BI akan terus berupaya memperbaiki struktur neraca pembayaran.

Dirinya menghimbau agar pelaku usaha yang membutuhkan dolar membeli sesuai kebutuhan dengan menggunakan underlying yang benar agar tidak sampai menimbulkan kepanikan. Terakhir, untuk mitigasi risiko, bisa melalui hedging.

Tag : Gonjang Ganjing Rupiah
Editor : Achmad Aris

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top