Rupiah Menguat Setelah Tarif Impor AS-China Diterapkan

Pada penutupan perdagangan Jumat (6/7/2018), rupiah menguat 19 poin atau 0,13% menjadi Rp14.375 per dolar AS dari penutupan sesi sebelumnya yang berada di posisi Rp14.394 per dolar AS, dengan pelemahan sepanjang tahun hingga 6,05%.
Mutiara Nabila | 07 Juli 2018 20:23 WIB
Lembaran mata uang rupiah dan dolar AS diperlihatkan di salah satu jasa penukaran valuta asing di Jakarta, Senin (2/7/2018)./ANTARA FOTO - Puspa Perwitasari

Bisnis.com, JAKARTA — Rupiah menguat setelah tarif impor dalam perang dagang AS-China mulai diterapkan.

Pada penutupan perdagangan Jumat (6/7/2018), rupiah menguat 19 poin atau 0,13% menjadi Rp14.375 per dolar AS dari penutupan sesi sebelumnya yang berada di posisi Rp14.394 per dolar AS, dengan pelemahan sepanjang tahun hingga 6,05%.

"Selama ini, hanya AS yang memberikan komentar-komentar sehingga indeks dolar AS terus menguat. Pada saat ada perlawanan dari China dengan menetapkan tarif yang sama, ini artinya ada kemungkinan besar dolar AS akan mengalami pelemahan," ujar Direktur PT Garuda Berjangka Ibrahim kepada Bisnis, Sabtu (7/7).

Pada akhir pekan lalu, AS merilis data perdagangan yang menunjukkan porsi ekspor masih lebih rendah dari impor. Meskipun lebih baik dari 2017, hal tersebut diperkirakan akan melemahkan dolar AS meskipun data tenaga kerja muncul lebih baik dari ekspektasi.

Dilansir dari Bloomberg, Jumat (6/7), Departemen Tenaga Kerja AS menyampaikan  jumlah pekerjaan naik menjadi 213.000 pada Juni. Sementara itu, tingkat pengangguran tercatat meningkat 4% dan pendapatan per jamnya naik US$5 sen atau 0,2% pada Juni 2018.

"Kalau data tenaga kerja AS cukup bagus, kemungkinan bank sentral AS akan kembali menaikkan suku bunga pada kuartal III/2018. Data-data tersebut meskipun hasilnya baik, untuk saat ini tidak akan memberikan efek yang signifikan karena pasar berfokus pada perang dagang," lanjut Ibrahim.

Adanya perlawanan dari China pada tarif yang diberikan AS bisa membuat dolar AS kembali melemah. Dia memprediksi pelemahan dolar AS akan membawa indeksnya berada di posisi 93,7.

"Artinya, ada kesempatan bagi rupiah untuk bisa menguat, walaupun penguatannya tidak besar," terang Ibrahim.

Dia memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran Rp14.300 per dolar AS untuk sepekan ke depan di tengah pelemahan dolar AS saat ini.

Penguatan mata uang Garuda terbatas karena dari faktor internal yakni belum memuaskannya data ekspor dan impor Indonesia, meskipun sudah lebih baik dari tahun lalu.

Banyak obligasi yang jatuh tempo juga membuat Bank Indonesia (BI) harus mengalirkan dolar AS yang cukup banyak. Selain itu, BI juga sudah menaikkan suku bunga 50 basis poin menjadi 5,25%.

Ibrahim menilai sesungguhnya BI sudah mengerahkan seluruh kemampuannya.

Prospek kenaikan suku bunga AS untuk yang keempat kalinya yang diperkirakan terjadi pada akhir 2018 dipandang belum bisa memberikan efek untuk saat ini.

"Setelah tarif dagang berlaku, biasanya baru terasa. Para pelaku usaha resah, kemudian mereka mengadu ke Pemerintah AS dan China sehingga akan ada solusi. Setelah solusi itu tercapai, dolar AS akan kembali melemah dan harga komoditas serta mata uang lain akan mengalami penguatan," tambahnya.

AS terus menaikkan suku bunganya hingga 2019 dengan alasan untuk menarik dana total US$12,5 triliun yang dipakai untuk stimulus 2009.

Selain itu, biaya perkembangan infrastruktur AS juga semakin meningkat, bahkan anggaran militernya naik tiga kali lipat. Sehingga, Trump terus berusaha melakukan perlawanan terhadap para lawan bisnisnya sehingga menyebabkan dolar AS terus mengalami penguatan.

Tag : Gonjang Ganjing Rupiah, perang dagang AS vs China
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top