Bursa Asia Terseret Turun Jelang Pengenaan Tarif Impor

Gejolak pasar saham China menyeret turun bursa saham Asia pada perdagangan pagi ini, Jumat (6/7/2018), hanya beberapa jam sebelum pemerintah Amerika Serikat (AS) siap mengenakan tarif pada impor China yang berpotensi memicu perang dagang berskala penuh dan merugikan ekonomi global.
Renat Sofie Andriani | 06 Juli 2018 10:25 WIB
bursa asia

Bisnis.com, JAKARTA – Gejolak pasar saham China menyeret turun bursa saham Asia pada perdagangan pagi ini, Jumat (6/7/2018), hanya beberapa jam sebelum pemerintah Amerika Serikat (AS) siap mengenakan tarif pada impor China yang berpotensi memicu perang dagang berskala penuh dan merugikan ekonomi global.

Indeks saham MSCI Asia Pacific, selain Jepang, turun 0,3% dari kenaikan yang moderat sebelumnya. Indeks ini telah mencatat penurunan 8,8% sejak 7 Juni.

Sementara itu, indeks Kospi Korea Selata turun 0,2%, sedangkan bursa saham di Taiwan turun 0,4% dan Australia naik 0,4%.

Sejumlah indeks utama China bergerak fluktuatif pada awal perdagangan, dengan indeks CSI300 blue-chip keluar masuk dari wilayah negatif. Terakhir, pergerakannya turun 0,2%, sedangkan indeks Shanghai Composite turun 0,3%.

Adapun indeks saham Nikkei Jepang bergerak 0,7% lebih tinggi setelah ditutup di level terendah dalam tiga bulan pada perdagangan Kamis (5/7).

Di sisi lain, bursa saham AS dan Eropa mampu menguat pada Kamis ditopang kenaikan saham produsen mobil. Turut mengangkat sentimen pasar, Kanselir Jerman Angela Merkel mengatakan akan kembali menurunkan tarif Uni Eropa pada impor mobil AS setelah pemerintah AS menawarkan untuk membatalkan ancaman tarif pada mobil-mobil Eropa.

Sentimen tersebut mengurangi ketegangan serta membantu rebound Nikkei, dengan saham produsen mobil Honda Motor Co. melonjak 2% dan Toyota Motor Corp naik 1,9%.

Namun pada perdagangan pagi ini, fokus pasar tetap tertuju pada rencana pengenaan tarif AS.

Pada Kamis, Presiden Donald Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat akan mulai menghimpun tarif untuk impor China senilai US$34 miliar pada Jumat (6/7/2018) jam 12.01 waktu Washington. Ia juga memperingatkan bahwa putaran berikutnya dapat memungkinkan pengenaan tarif pada barang-barang senilai lebih dari US$500 miliar.

“Risiko bahwa eskalasi lebih lanjut menghambat pertumbuhan telah membuat beberapa investor tetap berhati-hati,” tulis analis ANZ dalam risetnya hari ini, seperti dikutip Reuters.

Perselisihan perdagangan antara AS dan China telah mengguncang pasar keuangan termasuk saham, mata uang, dan perdagangan global komoditas mulai dari kedelai hingga batu bara selama beberapa pekan terakhir.

Risalah rapat kebijakan The Fed (FOMC minutes) pada 12-13 Juni yang baru saja dirilis menunjukkan para pembuat kebijakan membahas tentang potensi resesi serta menyatakan kekhawatiran ketegangan perdagangan global dapat memukul ekonomi yang sebagian besar tampak kuat.

Risalah tersebut juga mencerminkan kepercayaan diri di antara para pembuat kebijakan Federal Reserve dalam hal kekuatan ekonomi AS dan rencana untuk kenaikan suku bunga di masa mendatang, meski ada pula kekhawatiran dengan apa yang dapat mendorong ekonomi keluar dari arah kenaikannya.

Imbal hasil obligasi AS bertenor 10 tahun mencapai 2,83% dari sebelumnya di posisi 2,84%. Adapun imbal hasil dua tahun, yang naik bersama dengan ekspektasi pedagang atas suku bunga The Fed yang lebih tinggi, berada di 2,55% dari sebelumnya 2,56%.

Di sisi lain, emas yang sensitif terhadap kenaikan suku bunga, turun 0,2%. Spot emas diperdagangkan di US$1.254,43 per ounce.

 

Tag : bursa asia, perang dagang AS vs China
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top