PROYEKSI IHSG SEMESTER II: Tekanan Masih Membayangi, Sejumlah Sektor Ini Bakal Bertahan

Tekanan terhadap pasar modal selama kuartal II/2018 diprediksi masih akan berlanjut pada awal paruh kedua tahun ini sejalan dengan belum kondusifnya situasi ekonomi global.
Tegar Arief | 02 Juli 2018 07:38 WIB
Karyawan mengamati pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Dealing Room Bank Permata, Jakarta, Rabu (4/4/2018). - JIBI/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA - Tekanan terhadap pasar modal selama kuartal II/2018 diprediksi masih berlanjut pada awal paruh kedua tahun ini sejalan dengan belum kondusifnya situasi ekonomi global.

Pada awal tahun ini, kinerja indeks sangat moncer dan bahkan beberapa kali menyentuh rekor baru. Angka tertinggi indeks harga saham gabungan (IHSG) berada pada level 6.689 pada periode Februari-Maret lalu.

Memasuki kuartal II indeks loyo. Sempat parker sebentar ke level 6.000 sesaat menjelang Lebaran, kini indeks kembali bergerak aktif di kisaran 5.700-5.800.

Kepala Riset Koneksi Capital Alfred Nainggolan mengatakan, ada dua faktor eksternal yang masih akan mengganggu kinerja indeks pada paruh kedua tahun ini. Pertama perdang dagang antara China dan Amerika Serikat (AS), dan kedua rencana bank sentral AS untuk kembali menaikkan suku bunga.

The Fed, kata dia, telah mengumumkan akan menaikkan suku bunga sebanyak 4 kali, di mana saat ini telah direalisasikan sebanyak 2 kali. "Artinya masih ada tekanan terhadap indeks kita karena faktor ini," kata dia kepada Bisnis.com, akhir pekan lalu.

Kondisi perang dagang kembali memanas setelah AS mengancam akan memberlakukan tarif impor cukup tinggi terhadap kendaraan yang diimpor dari Uni Eropa. Kondisi ini turut berdampak pada pasar modal Indonesia.

Alfred menjelaskan, satu-satunya antisipasi yang wajib dilakukan pemerintah untuk menenangkan pasar adalah dengan mewujudkan soliditas marko ekonomi sehingga dapat meminimalisasi dampak dari eksternal.

"Kalau inflasi pemerintah sudah berhasil, tinggal menangani neraca perdagangan saja dan merealisasikan berbagai proyek infrastruktur," imbuhnya.

Sementara itu, sentimen yang bisa mendongkrak laju IHSG menurutnya akan datang pada Agustus mendatang, tepatnya keputusan mengenai kepastian figur yang akan maju sebagai calon presiden. Dengan kata lain, pada pertengahan kuartal III/2018 pasar modal diyakini akan kembali menggeliat.

Equity Technical Analyst Reliance Sekuritas Indonesia Lanjar Nafi menambahkan, intervensi yang dilakukan oleh Bank Indonesia (BI) untuk menstabilkan nilai tukar rupiah cukup positif. Menurutnya, strategi ini akan efektif untuk menjaga aset investor asing di dalam negeri.

Lanjar menilai, tak lama lagi arus dana asing akam kembali masuk ke pasar modal nasional. "Intervensi rupiah ini untuk memenuhi permintaan investor asing. Semester II/2018 sudah kondusuf dengan indikasi mulai terjadinya capital inflow, karena dari awal tahun dana keluar cukup deras," jelasnya.

Pada paruh kedua tahun ini, kata dia, sektor komoditas seperti tambang, logam, energi, batu bara, dan minyak masih cukup bagus. Selain itu akan ada perbaikan untuk sektor perbankan dan konstruksi karena terdorong oleh berbagai kebijakan pemerintah.

Reliance Sekuritas masih mempertahankan target IHSG pada akhir tahun ini di kisaran 6.500-6.800 pada akhir tahun. Adapun target IHSG yang dipatok oleh Koneksi Capital adalah di kisaran 6.600-6.700.

Sementara itu, Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Inarno Djajadi menegaskan bahwa yang terjadi di pasar saham beberapa pekan terakhir murni merupakan faktor eksternal, baik perang dagang maupun The Fed.

"Gejolak market memang sangat luar biasa akhir-akhir ini. Kami melihat ini faktor eksternal yang dalam beberapa saat selalu bergejolak. Tapi kami melihat BI cukup bagus," kata dia. Bursa mengklaim, kinerja emiten juga cukup positif.

Tag : IHSG
Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top