Ledakan Bisnis Cepat Saji Myanmar Dilirik Produsen Minyak Kelapa Sawit

Ledakan makanan cepat saji memikat produsen minyak kelapa sawit Asia Tenggara terhadap Myanmar agar dapat memenuhi lonjakan permintaan dari wilayah yang sebelumnya terisolasi.
Mutiara Nabila | 25 Juni 2018 21:03 WIB
Kelapa sawit. - Bloomberg/Taylor Weidman

Bisnis.com, JAKARTA – Ledakan makanan cepat saji memikat produsen minyak kelapa sawit Asia Tenggara terhadap Myanmar agar dapat memenuhi lonjakan permintaan dari wilayah yang sebelumnya terisolasi.

Berdasarkan data Departemen Pertanian AS (USDA), impor minyak kelapa sawit meningkat 60% dalam enam tahun terakhir mencapai 750.000 metrik ton. U Toe Aung Mynit, sekretaris permanen Kementerian Perdagagan Myanmar menyebutkan, sebelumnya negaranya membatasi pembeliannya sebelum 2011, yang membeli sekitar 200.000 hingga 300.000 ron setiap tahunnya.

Kemunculan Myanmar dari isolasi ekonomi dan potensinya yang belum dimanfaatkan telah menarik perhatian perusahaan luar negeri termasuk KFC, restoran Barat pertama yang berdiri di negara itu pada 2015.

Berdasarkan data dari Yoma Strategic Holdings Ltd., Myanmar saat ini telah memiliki 23 toko dan akan menuju 32 toko pada Maret 2019. Di sana juga sudah ada restoran Pizza Hut dan Burger King.

“Pembukaan lebih banyak toko makanan cepat saji akan meningkatkan permintaan minyak kelapa sawit seiring dengan industri makanan dan minuman Myanmar yang lebih memilih menggunakan minyak sayur tersebut karena harganya yang lebih terjangkau dan karena lebih banyak mengolah makanan dengan cara digoreng,” ujar Zakaria Arshad, Chief Excecutive Officer Felda Global Ventures Holding Bhd. (FGV), dikutip dari Bloomberg, Minggu (24/6/2018).

Perusahaan tersebut merupakan salah satu produsen minyak kelapa sawit terbesar di dunia, menjual minyak memasak berbahan dasar minyak kelapa sawit di bawah merek Saji di Yangon dan Mandalay, Malaysia.

Dengan peningkatan daya beli dan perubahan gaya hidup, transisi Myanmar menjadi condong ke pasar berbasis ekonomi dan reformasi negaranya menjadi lebih terbuka melebarkan kesempatan bagi pengekspor minyak kelapa sawit. FGV kemungkinan akan memperluas volume penjualan minyak kelapa sawitnya.

Toe Aung Myint juga mengungkapkan bahwa Myanmar biasanya membeli minyak kelapa sawit dari Malaysia dan Indonesia, dan hanya membeli minyak berkualitas tinggi. Sementara itu, impor minyak kedelai dan minyak biji bunga matahari juga tetap diizinkan.

USDA mencatatkan pembelian minyak kelapa sawit Myanmar mencapai rekor dengan jumlah 820.000 ton pada tahun yang berakhir pada 30 September lalu. Sementara untuk tahun ini pembeliannya diperkirakan kemungkinan akan berkurang, USDA justru memperkirakan pembeliannya akan rebound sebanyak 4% pada 2018 – 2019.

Adapun, data dari Sime Darby Plantation Bhd., perusahaan pertanian terbesar di dunia dari luas lahannya, menjelaskan bahwa Myanmar bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan domestiknya dan lebih dari setengah konsumsi minyak layak makannya tercurah pada minyak kelapa sawit.

“Meskipun ada perlambatan impor ke Myanmar dari Malaysia baru-baru ini, hal itu masih tetap bisa menjadi prospek baik bagi pasar minyak kelapa sawit,” ujar Direktur Pengelola Sime Darby Plantation Bhd. Mohd Bakke Salleh.

Menurut Bakke, pengembangan infrastruktur masih beum dapat mengejar peningkatan permintaan. Jalanan yang rusak dan penyimpanan kargo yang terbatas di pelabuhan membuat biaya logistik menjadi lebih tinggi, memberi dampak bagi margin dan menghambat pengiriman. Perusahaannya juga harus menerima risiko politik dan ketidakpastian kebijakan pemerintahnya.

Sekitar 85% minyak kelapa sawit, yang digunakan untuk memasak dan menggoreng, serta digunakan dalam campuran cokelat dan kosmetik, diproduksi di Malaysia dan Indonesia.

Sumber : Bloomberg

Tag : harga cpo
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top