Swasta Sambut Rencana Penertiban MTN

Rencana Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk menyusun aturan mengenai surat utang jangka menengah alias medium term notes mendapat sambutan dari kalangan swasta.
Tegar Arief | 07 Juni 2018 20:36 WIB
Memantau layar surat utang negara - Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA - Rencana Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk menyusun aturan mengenai surat utang jangka menengah alias medium term notes mendapat sambutan dari kalangan swasta.

Sejumlah perusahaan yang telah dan akan menerbitkan surat utang jenis ini mendukung langkah otoritas. Baik dari sisi skema yakni dengan mencatatkan MTN di Bursa Efek Indonesia (BEI), maupun kewajiban perusahaan untuk menggunakan rating.

Sekretaris Perusahaan PT Sri Rejeki Isman Tbk. Welly Salam mengatakan, perseroan selalu menggunakan rating dalam menerbitkan MTN. Alasannya, untuk menjadi acuan sehingga penghitungan kupon bisa dirasionalisasi.

"Kalau tidak menggunakan rating susah ditentukan kuponnya, jadi kami selalu menggunakan rating. Ini upaya baik dari ortoritas untuk mengatur MTN," kata dia saat dihubungi Bisnis.com, Kamis (7/6/2018).

Adapun terkait wacana untuk mewajibkan pencatatan di pasar modal, menurut Welly hal tersebut akan berdampak pada meningkatnya kepercayaan investor. Sebab, informasi mengenai surat utang tersebut bisa diakses lebih mudah.

Namun dia mengingatkan agar otoritas nantinya juga melakukan evaluasi, sejauhmana dampak kebijakan ini terhadap pasar.

"Yang pasti kami siap mendukung. Tapi untuk mengetahui dampaknya nanti perlu dievaluasi," ujarnya.

Pada bulan lalu, emiten tekstil bersandi SRIL ini menerbitkan MTN senilai US$25 juta dengan tenor 3 tahun dan akan berakhir pada 18 Mei 2021. MTN Sritex Tahap III Tahun 2018 ini memiliki tingkat bunga tetap 5,8% per tahun yang akan dibayarkan setiap enam bulan.

Hal senada diungkapkan oleh Sekretaris Perusahaan PT Waskita Beton Precast Tbk. Ratna Ningrum. Bahkan, perusahaan pelat merah itu akan menggunakan dua lembaga rating untuk menyertai penerbitan MTN.

Saat ini, emiten bersandi WSBP itu masih menunggu proses rating dan persetujuan dewan komisaris untuk menerbitkan MTN. Rencananya perseroan akan mengemisi MTN hingga Rp3 triliun. Adapun lembaga rating yang digunakan adalah Pefindo dan Fitch.

"Kami menggunakan dua lembaga rating, ini penting untuk acuan. Kenapa menggunakan dua? Karena ini memang ketentuan internal induk usaha kami," kata dia. MTN ini kemungkinan akan dirilis setelah perayaan Idulfitri.

Dia menambahkan, pada dasarnya perseroan akan mengikuti seluruh aturan yang akan disusun oleh otoritas pasar modal. Termasuk mencatatkan surat utang jangka menengah itu di BEI dengan tujuan transparansi.

Sementara itu, Direktur Utama PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk. Stephanus Turangan menilai, rencana OJK tersebut akan berdampak pada peningkatan transparansi MTN. Ujungnya, minat investor terhadap jenis efek ini semakin tinggi.

Selama ini, kata dia, MTN lebih diminati karena selain jangka waktu menengah juga proses yang cukup cepat. Kata dia, maksimal proses penerbitan surat utang jenis ini tuntas dalam waktu satu bulan.

"Selama kita bisa mempercepat penerbitan apa itu MTN atau lainnya dan juga transparan maka akan diminati pasar," kata dia. Dengan kata lain, otoritas juga harus menjamin kelancaran proses penerbitan MTN setelah payung hukum diterbitkan.

Emiten bersandi TRIM ini pada April lalu menerbitkan MTN senilai Rp250 miliar dengan tenor tiga tahun. Peringkat dari Pefindo adalah idA dengan tingkat kupon 10,25% per tahun.

Dengan diterbitkannya MTN I PT Trimegah Sekuritas Indonesia tahun 2018 ini, perseroan akan mendapatkan manfaat berupa berkurangnya risiko mayurity gap/mismatch antara sumber pendanaan perseroan dengan bisnis pembiayaan yang diberikan oleh perseroan kepada nasabah.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
surat utang

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top