AS Kenakan Tarif Baja ke Sejumlah Mitra Dagang, China Genjot Pasar Ekspor ke Afrika

Produsen baja asal China mencari tujuan ekspor baru di Afrika dan Amerika Selatan menyusul anjloknya ekspor ke Asia Tenggara setelah friksi perdagangan dengan AS mengancam keberlangsungan pasar ke sejumlah negara tujuan.
Aprianto Cahyo Nugroho | 06 Juni 2018 14:26 WIB
baja. - .

Bisnis.com, JAKARTA – Produsen baja asal China mencari tujuan ekspor baru di Afrika dan Amerika Selatan menyusul anjloknya ekspor ke Asia Tenggara setelah friksi perdagangan dengan AS mengancam keberlangsungan pasar ke sejumlah negara tujuan.

China, yang merupakan produsen sekaligus konsumen dan pengekspor baja terbesar di dunia, mengalami persoalan berkurangnya opsi ekspor ke sejumlah negara. AS pekan lalu memberlakukan tarif besar pada eksportir baja utama ke negaranya, termasuk Kanada, Mexico, dan Uni Eropa, yang memicu tindakan balasan.

Dilansir Reuters, tarif impor yang dimulai AS pada Maret lalu terutama ditujukan untuk mengekang impor baja China, yang juga diyakini oleh produsen baja AS telah dialihkan melalui negara lain sebelum mendarat di Negeri Paman Sam.

Bulan lalu, Departemen Perdagangan AS mengenakan bea impor besar pada produk baja dari Vietnam yang dianggap berasal dari China. Hal tersebut memukul pasar ekspor kedua terbesar China setelah Korea Selatan, dan outlet utama penjualan oleh pabrik asal China yang memiliki gudang di Vietnam.

Vietnam mengatakan perusahaan-perusahaan baja kemungkinan akan berhenti membeli logam dari China untuk menghindari sanksi atas pengiriman produk mereka ke AS.

"Semakin jelas bahwa peluang ekspor produsen asal China menjadi semakin terbatas, karena undang-undang perdagangan yang ada, yang diajukan oleh banyak negara di dunia," kata Chris Jackson, analis di konsultan baja di MEPS International Ltd, seperti dikutip Reuters, Rabu (6/6/2018).

Meskipun ekspor baja China menyentuh level tertinggi dalam delapan bulan terakhir pada April, pengiriman untuk empat bulan pertama tahun ini turun 20%, meskipun secara nilai hanya turun 2,5%.

Ekspor ke pasar terbesar China termasuk Vietnam dan Korea Selatan telah turun dua digit sejak tahun lalu. Hal ini mencerminkan persaingan yang lebih ketat dari eksportir lain seperti Rusia.

Sementara itu, bea masuk anti-dumping yang dikenakan oleh negara di Asia Tenggara seperti Thailand, Vietnam, Indonesia dan Malaysia pada ekspor baja China juga telah menurunkan ekspor dari Negeri Panda tersebut.

“Pasar Asia Tenggara semakin ramai. Semakin banyak yang mencari pasar baru, terutama di negara-negara Amerika Selatan dan Afrika,” kata Steven Yue, manajer penjualan di Hebei Huayang Pipeline Co, eksportir pipa baja China.

"Kami berencana untuk mengembangkan pasar di Amerika Selatan dan Afrika pada paruh kedua tahun ini," lanjutnya.

Berdasarkan data MEPS yang dikutip Reuters, Amerika Selatan dan Afrika menyumbang 8% ekspor baja China tahun lalu, dengan ekspor ke sejumlah negara di sana telah melonjak tahun ini. Sementara itu, Asia Tenggara menyumbang 25% dari ekspor China pada tahun 2017, tetapi turun 45% dari tahun sebelumnya, dan turun sepertiga pada kuartal pertama 2018.

Sementara itu, ekspor ke Nigeria naik 15% pada kuartal pertama 2018, sedangkan pengiriman ke Aljazair, ekonomi terbesar keempat di Afrika, melonjak hampir tiga kali lipat.

Di Amerika Selatan, ekspor China ke Brasil melonjak 40%, sedangkan pengiriman ke Bolivia meroket hampir sepuluh kali lipat.

Tag : baja, china
Editor : Linda Teti Silitonga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top