HARGA MINYAK: Rusia & Saudi Siap Kerek Produksi, Harga WTI Tertekan

Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman Juli 2018 pada perdagangan Senin dibuka melemah US$0,33 atau 0,49% ke US$67,55 per barel. Pada pk. 07.09 WIB harga minyak melemah US$0,49 atau 0,72% ke US$67,39 per barel.
Aprianto Cahyo Nugroho | 28 Mei 2018 07:26 WIB
Harga minyak tertekan. - .Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Pada perdagangan pagi ini, Senin (28/5/2018) harga minyak mentah dunia melanjutkan pelemahannya.

Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman Juli 2018 pada perdagangan Senin dibuka melemah US$0,33 atau 0,49% ke US$67,55 per barel. Pada pk. 07.09 WIB harga minyak melemah US$0,49 atau 0,72% ke US$67,39 per barel.

Harga minyak Bret kontrak Juli pada perdagangan hari ini dibuka melemah US$0,33 atau 0,43% ke US$76,11 per barel. Pada pk. 07.09 WIb, melemah US$0,33 atau 0,43% ke US$76,02 per barel.

Pada perdagangan Jumat (25/5/2018), WTI ditutup melemah US$2,83 atau 4,00% ke US$67,88 per barel.

“Harga minyak WTI dan gas kemarin turun tajam, didorong berita yang menyatakan bahwa Rusia dan Saudi akan mulai menaikan produksi minyak,” kata Ahmad Mikail, ekonom PT Samuel Sekuritas Indonesia dalam risetnya yang diterima pagi ini, Senin (28/5/2018).

OPEC dan negara produsen minyak lain termasuk Rusia menyimpulkan bahwa pasar minyak telah kembali mencapai keseimbangan pada April, ketika pemangkasan output mencapai tujuan utama untuk menghilangkan surplus global.

Dilansir Reuters, kelebihan persediaan minyak yang telah membebani harga selama tiga tahun terakhir jatuh pada bulan April di bawah level rata-rata selama lima tahun terakhir untuk untuk cadangan di negara-negara maju, menurut sumber yang mengetahui data yang dibahas pada pertemuan Komite Teknis Gabungan dari OPEC dan produsen lainnya minggu lalu di Jeddah, Arab Saudi.

Komite Teknis Gabungan (JTC) menetapkan bahwa cadangan minyak yang dimiliki negara-negara maju turun menjadi sekitar 20 juta barel pada April, di bawah level rata-rata lima tahun, dengan total penurunan sekitar 360 juta barel sejak awal tahun 2017. Penurunan ini disebabkan kepatuhan produsen yang lebih besar terhadap kesepakatan pemotongan output, yang mencapai 152% pada Apri.

Keseimbangan pasokan minyak ini akan pembahasan dalam KTT OPEC dan negara produsen lain yang menyepakati pemotongan produksi di Wina bulan depan. Produsen utama Arab Saudi dan Rusia mengumumkan pekan lalu bahwa produsen minyak dapat meningkatkan produksi pada paruh kedua tahun ini.

Akan tetapi, pejabat dari beberapa negara dalam perjanjian, baik pada OPEC maupun di luar, mengatakan mereka tidak menyetujui proposal tersebut dan menemui kesulitan dalam mencapai konsensus.

Rusia dan Saudi sebelumnya mengusulkan peningkatan produksi untuk menyeimbangkan penurunan pasokan dari negara lain, terutama anjloknya suplai Venezuela dan penurunan potensial di Iran karena sanksi AS. Negara-negara tersebut tidak mendapat keuntungan dari pelonggaran produksi, dan banyak kehilangan jika harga minyak memperpanjang penurunan yang terjadi pada Jumat.

Pada pertemuan minggu lalu di Jeddah, JTC meninjau cara lain untuk menilai persediaan minyak. Salah satunya adalah dengan melihat rata-rata dalam rentang yang lebih panjang, 10 tahun dari 2004 hingga 2014, sementara yang lain adalah menggunakan rata-rata lima tahun tetapi mengecualikan data dari 2015 dan 2016 karena tahun-tahun tersebut cadangan minyak dianggap tidak normal. 

 

Tag : opec
Editor : Linda Teti Silitonga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top